Minggu, 27 Desember 2015

PART 6 : HOLD MY HAND




Part 6

Bagas memasuki kamarnya dengan wajah sumrigah, kepanatan menangani operasi di luar jadwalnya sendiri sirna seketika oleh pengalamannya sore ini, kepanikan menghadapi pasien yang harus masuk kamar operasi karena kondisi kronisnya lenyap dan terbayar lunas oleh suksesnya ia menjalankan misi. Alunan music Jazz dengan timbre khas yang Andien miliki mengalun begitu apik dalam alunan lagu Pulang yang kini menggaung memenuhi ruang udara di kamar Bagas
“Pernahkah kau merasa
Berdiri diri tempat yang sama
Seperti saai ini ku ada
Rindukan nyaman ku sendiri ingin pulang
Membuat diriku jatuh cinta

Tanpa sadar Bagas tersenyum geli mendapati dirinya yang bertingkah aneh. Lagu ini sudah sering ia dengarkan tapi baru kali ini ia merasa alunan dalam setiap liriknya membuatnya malu untuk menatap bayangan dirinya sendiri dalam kaca cermin.
“ini gila, jangan katakan kamu jatuh cinta pada pandangan pertama pada dokter itu, Gas. Perasaanmu cuma semangat yang muncul karena hal baru”
Bagas menggeleng gelengkan kepalanya sendiri mencoba menghalau segala pikiran yang kini ia rasakan sudah tidak jelas sampai akhirnya dikejutkan oleh deringan ponsel pintarnya yang ia geletakkan dia atas kasur ♫♫♫♪♪
“Gimana Gas??? Apa kataku, kamu pasti jatuh cinta sama Indira” 
suara Anggi seakan memecahkan gendang telinganya hingga ia menjauhkan ponsel yang ia genggam dari telinga
“Bagaimana?? Sukses kan?”
“Udah malam Nggi, tidur sana. Kalau kamu penasaran kan bisa tanya langsung sama Indira”
“Indira mana pernah cerita kalau nggak ditanya dan hari ini juga ekspresinya biasa saja tidak ada yang aneh. Lagian aku kan pura pura bego Gas, aku taunya kamu ke Rumah Sakit juga dari Om Satya”
“Om Sayta? Beliau ngomong apa saja sama kamu?”
“Nggak ada sih, hanya saja Beliau penasaran kenapa Indira yang tidak mengenal kamu justru berhasil membawamu masuk ke Rumah Sakit Waluyo
Tapi menurut kamu, Bagaimana seorang Indira. Memenuhi kriteria kan?”
“Ya”
“Iya itu gimana Gas, apakah kamu tertarik ataukah nggak?”
“Nggi, aku baru bertemu dengan dia sekali dan apakah aku bisa memutuskan sebelum mengetahui pribadinya? Okay.. sejauh ini dia orang yang menyenangkan dan sangat tenang, ramah. Apakah itu cukup?
Sudahlah Nggi kita lihat saja apa yang akan terjadi esok, Indira juga bukan orang yang mudah memutuskan sesuatu kan?”
Bagas mengembalikan logikanya setelah sempat tak mampu mengendalikan kegilaan oleh antusiasnya tentang Indira. Tidak dapat dipungkiri pesona Indira sempat membiusnya hanya dalam hitungan detik, sorot mata yang teduh dan senyum tulus itu sangat hangat merasuk dalam hatinya meski ia melihat Indira untuk pertama kali.
“Ada sisi dalam kehidupan seseorang yang dia sendiri tidak ingin mengungkitnya kan Dokter? Ya… anggap saja bagian yang ingin Dokter ketahui saat ini adalah sisi itu, sisi yang saya sendiri tidak ingin mengingatnya’
kalimat Indira saat dia menanyakan alasan gadis cantik itu mengurungkan niat bertemu dengannya malam itu membuat Bagas sedikit penasaran dan berkeinginan untuk menggali sisi yang Indira coba hapus dalam kehidupannya. Seorang gadis cantik memiliki sisi yang tidak diinginkan dan sisi itu membuatnya seakan masuk dalam lingkaran yang sama, limgkaran yang tak seharusnya ada. Tepat dihadapan langkahnya Indira menemukan sisi yang ia coba lupakan membuat Bagas merasa bahwa sisi itu ada dalam jangkauannya
***

‘Dia bukan orang yang mampu melakukan hal semacam ini, dia orang dengan kualifikasi sempurna. Ganteng dan sangat menarik, seorang Dokter Bedah di usia mudanya adalah hal yang pantas ia banggakan sebagai seorang Pria. Lalu sepenting itukah pertemuan denganku sehingga harus datang ke Rumah Sakit?’ 
Indira masih belum menemukan substansi dari kedatangan Bagas, apakah sekedar memenuhi janji pada Anggi atau memang dia penasaran terhadap dirinya? Lantas sebenarnya informasi apa yang ia dapatkan dari Anggi sampai dia meluangkan waktu sibuknya untuk menemui seorang Indira di Rumah Sakit sampai harus melibatkan dr. Satya.
Indira masih duduk di mini bar dapurnya sambil memegangi cangkir coklat hangat yang ia buat untuk mengusir hawa dingin, sesekali ia memainkan jarinya sambil terus bermain dengan segala spekulasinya.
“Nglamun apaan Ndi?” 
Anggi datang menghampirinya setelah mengambil sesuatu dalam lemari es.
“kebanyakan nglamun akan membuatmu lebih tua dari umurmu sebenarnya Ndi, santai sajalah”
Indira tersenyum tipis sembari menyeruput minumannya mendengar Anggi berceloteh, sahabatnya ini memang tak akan pernah membiarkan dirinya duduk santai menikmati lamunan
“Ndi, kalau aku atur ulang pertemuanmu dengan Bagas, kamu mau ya?”
“Hah?” Indira memasang wajah kagetnya, bukan karena dia tidak bersedia untuk bertemu dengan Bagas, tapi kata mengatur ulang seakan akan dirinya belum bertemu dengan pria itu membuatnya reflek menjawab kaget.
“kenapa, kamu nggak mau… jangan beralasan lagi. Sudah saatnya Prasta di deportasi dari hati kamu” Anggi terus mengomel sedikit sarkastik seakan akan dia tidak mengetai apa yang sudah terjadi, bahkan dia terus cerewet tanpa melihat ekspresi Indira dan tetap sibuk meracik sesuatu. Mendengar nama Prasta disebut membuat Indira memasang wajah kecut namun masih bertahan duduk menghadapi setiap omelan Anggi yang membuat kupingnya pengang
“Prasta sudah lama tidak berada di sana dan lagi aku juga sudah bertemu dengan Bagas”
“Sudah ketemu, kapan???”
“tadi sore” singkat Indira menjawab pertanyaan Anggi dan beranjak dari duduknya mencoba menghindari interogasi yang pastinya akan ia terima dari Anggi, ada  senyum puas menghias wajah Anggi yang ia coba sembunyikan, ia mencoba menahan diri untuk terus berpura pura tidak mengetahui apapun
“Terus, bagaimana Bagas menurut kamu?” Anggi meninggalkan aktivitasnya dan mengejar langkah Indira menuju ruang tengah
“Bagaimana apanya, biasa aja… memang kenapa” dengan santai Indira mematahkan semangat Anggi untuk mengorek informasi darinya
“Ya dia seperti apa, apakah dia keren, apakah dia cukup menarik untuk dijadikan pacar, apakah dia menawan blab la bla…”
“kamu lebih kenal Bagas ketimbang aku, ya pastinya kamu lebih tau itu kan?”
“Indi…kamu bilang Prasta sudah tidak ada dalam hatimu, tapi kenapa kamu seperti ini?”
“seperti ini bagaimana?”
“Ndi kamu jangan bilang kalau kamu masih berharap akan bertemu dengan Prasta lagi. Ingat untuk melihat dia saja kamu nggak mampu, kamu selalu menghindar seakan akan kamu takut Prasta menemukan sesuatu yang masih kamu coba sembunyikan”
“Cukup Nggi, jangan bawa nama Prasta lagi. Aku bosan membahas ini. Kamu ingat ya, aku nggak menyembunyikan apapun dan aku juga tidak mengharapkan sesuatu yang lebih dari  Prasta”
“Lalu … kejadian malam itu?”
“Nggi, jika kamu pernah hampir tidak bisa bernafas karena menengak satu jenis minuman, apakah minuman itu akan kamu ambil lagi?
Lalu tiba tiba minuman itu ada di dalam lemari es berjajar dengan minuman lainnya, apakah kamu akan tetap memilih minuman itu, bukankah kamu lebih menyanyangi nyawamu dan menghindarinya walau sebenarnya itu bukan minuman beracun”
 mata Indira mulai berkaca kaca, tak pernah tersersit dikepalanya akan berbicara setegas ini pada Anggi, dia menganggap Anggi adalah orang yang paling memahami situasinya dan mengerti setiap keputusan yang ia ambil, akan tetapi untuk beberapa hal Anggi membuatnya kehabisan kesabaran dan salah satunya soal Prasta. Semenjak kemunculan Prasta di kota ini, Indira tidak bisa menghindari setiap perdebatannya dengan Anggi.
“Ndi, aku cuma tidak ingin melihat kamu larut dalam kepedihan seperti dulu, aku ingin kamu kembali mendapatkan kebahagiaan. Aku nggak mau kamu terus menutup diri seakan akan semua laki laki diluar sana akan menyakitimu. Lupakan Prasta dan segala kenanganmu dengannya, bagiku kehadiran Prasta kali ini akan membawamu pada pusara kepedihan yang kamu coba lepaskan selama ini. Aku nggak mau kamu seperti itu Ndi, jika kamu kembali terseret kesana lantas kamu akan lari kemana lagi? Jika dikota kecil ini kamu bertemu dengan dia itu semata mata takdir yang menunjukkan bahwa kamu nggak boleh lari dari masalah. Kamu masih punya masa depan meski bukan  Prasta, lihat dirimu, sayangi dirimu Ndi” 
Indira tak sanggup lagi membendung air matanya, alasannya berada di kota ini adalah karena ingin lari dari kemungkinan bertemu dengan Prasta, tapi justru pria itu kembali hadir disaat ia sudah mulai melepaskan bayangan masa lalu bersamanya.
“Aku bahagia Nggi, dan aku yakin aku akan lebih bahagia lagi nantinya, entah itu karena Bagas ataupun pria lain tapi aku mohon jangan pernah bawa Prasta lagi. Saat ini aku hanya shock dengan kehadiran dia tapi aku yakin semua akan baik baik saja. Yang aku butuhkan hanya waktu, biarkan waktu menjawab semua kehawatiranmu” 
Anggi memeluk Indira dengan tulus, ia mengerti sahabatnya kini mencoba lari sekali lagi dari bayangan masa lalu yang tiba tiba hadir di depan langkahnya.
*** 

Sepertinya terlalu pagi Indira meninggalkan rumah, jalanan yang selalu terbebas dari kemacetan membuatnya akan cepat sampai ke Rumah sakit hanya dalam beberapa menit. Mengantarkan Anggi ke mengikuti seminar membuatnya memulai aktivitas lebih cepat dari jadwal yang seharusnya ia jalani. Rumah Sakit masih sepi bahkan petugas piketpun masih ada yang tertidur di meja kerjanya.
“Bu, tolong teh hangatnya ya”
Indira mengakhiri paginya di kantin Rumah Sakit sebelum memualai tugasnya hari itu, bengong di ruang kerja akan membuatnya lebih aneh di saat belum ada satu pasienpun yang muncul bahkan perawat yang membantunyapun belum kelihatan batang hidungnya.
“Setiap hari apakah Anda sampai di Rumah Sakit sepagi ini Bu Dokter?”
Suara laki laki itu membuat Indira mengankat kepalanya, sepagi ini apakah ada dokter yang datang seperti dirinya, kalaupun itu dokter piket, jam seperti ini mereka pastinya tengah bersiap untuk meninggalkan Rumah Sakit dan kecil kemungkinan akan mampir ke kantin setelah jam kerja usai dan makanan di rumah sudah menanti mereka.


Don't Miss It :
Part 5 : HOLD MY HAND
Part 4 : HOLD MY HAND
Part 3 : HOLD MY HAND
Part 2 : HOLD MY HAND  
Part 1 :HOLD MY HAND






Tidak ada komentar:

Posting Komentar