Minggu, 27 Desember 2015

PART 11 : HOLD MY HAND






Part 11

Bagas masih terpaku dalam diamnya menunggu apa yang akan dilakukan oleh Indira padanya sehingga harus menghentikan langkahnya. Gadis itu memegang lengan Bagas dengan kuat dan menatap mata Bagas yang tertutup oleh kaca rayben, tak ada kata yang Bagas ucapkan, entahkah ada sisi lain dari hati Bagas yang merasa kecewa atas jawaban Indira saat ia menanyakan tentang Prasta dan berkata ‘Nggak penting untuk di bahas’ kata kata ini membuat Bagas merasa sedikit terluka ‘jika dia tidak penting, lantas kenapa kamu merasa tidak mampu menelan makanan yang dia kirim untukmu. Jika dia tidak penting lalu untuk apa kamu mencoba menghindar sekuat tenaga dari segala hal tentangnya. Jika dia tidak penting, lantas kenapa dia berani mengirimkan sesuatu buatmu. Apakah makananku sebenarnya juga bernasib sama. Apakah sebenarnya aku juga tidak pernah menjadi bagian penting dalam dirimu’ tanpa dikomando, pertanyaan pertanyaan itu berputar di kepala Bagas setelah kata tidak penting keluar dari bibir tipis Indira.
“Tentang Prasta yang membuat kamu seperti ini?”
Indira masih menatap Bagas dengan pegangan kencang pada lengan pria itu, mata indahnya meredup
“Kamu ingin tahu siapa Prasta?” suara Indira sedikit bergetar
“don’t force yourself if you do not want it” Lirih suara Bagas terdengar sangat berat
“Prasta adalah masa lalu yang ingin aku kubur paling dalam, sisi dalam hidupku yang ingin aku pendam. Seseorang yang tak pernah ingin aku kenang. Prasta adalah satu satunya bagian dalam hidupku yang tidak ingin aku bagi dengan siapapun termasuk denganmu. Prasta alasan yang membuat aku berada disini, Prasta yang membuat kita bisa bertemu. Masa yang ingin aku hindari tapi justru muncul dihadapan langkahku. Prasta adalah orang itu…. bagian dalam hidupku yang ingin aku hapuskan sekuat aku mampu. Prasta….” 
Indira menundukkan wajahnya, airmatanya menetes membasahi pipi. Apa yang selama ini sekuat tenaga ingin ia sembunyikan dari Bagas kini jutru harus ia buka dengan bibirnya sendiri. Pegangan Indira pada lengan Bagas melemah…
‘mungkinkah dia orang yang kamu cintai, Ndi? Mungkinkah dia orang yang masih mengusai ruang dalam hatimu. Mungkinkah hatimu masih menjadi miliknya sehingga kamu terluka seperti ini?’ Bagas memejamkan matanya sesaat menggigit kuat menahan sakit yang ia rasakan melihat kepedihan yang Indira rasakan kini, hatinya terluka.
“Itulah Prasta, Gas…. Prasta yang ingin kamu ketahui” suaranya parau, tangannya melepaskan pegangan kuat yang menahan langkah Bagas secara perlahan, tapi kini Bagas justru menarik tangan itu mendekat padanya, Bagas menarik tubuh Indira dalam dekapannya. Airmata Indira yang menetes membuatnya merasa bersalah. Entah kekuatan apa yang membuat Bagas berani melakukan itu pada Indira, untuk pertama kalinya melihat airmata membasahi pipi Indira karena dirinya seakan memberikan keberanian untuk memeluk tubuh dokter cantik itu. Bahkan saat ini mungkin Indira bisa mendengar detak jantung Bagas yang memburu, tak ada penolakan ataupun perlawanan dari Indira. Gadis itu diam dalam derai air mata yang tumpah dalam pelukan Bagas tanpa suara. Perih.
“Maaf Ndi, maaf…. Aku tidak bermaksud untuk mengorek apa yang ingin kamu pendam. Sekali lagi aku minta maaf telah membuat airmatamu menetes” bisik pagas menenangkan Indira yang menahan lukanya dalam diamnya. Bagas memeluk erat tubuh Indira, dadanya basah oleh airmata yang keluar dari mata cantik Indira. Airmata dari tangis pilu tanpa suara yang menyayat hati Bagas. Setelah Indira sedikit tenang, Bagas membimbing Indira untuk duduk di sofa, Bagas menyeka airmata yang membasahi pipi Indira, wajah cantik itu kini terlihat sendu. Kedua tangannya menggenggam tangan Indira memberi kekuatan, luka itu terlihat dari raut wajah Indira.
“Sekali lagi aku minta maaf Ndi, sisi egoku membuat aku bersikap seperti tadi. Aku minta maaf, aku bener bener minta maaf”
Indira mengangguk pelan dalam hembusan nafas panjangnya
“Dia ada di kota ini Gas, kota dimana aku berlari untuk menghindarinya bahkan dia sering mengirimkan makanan untukku setelah tau dimana aku berada. Aku ingin membencinya tapi aku tak pernah mampu melakukan itu. Aku berlari sekuat tenaga, tapi aku tak pernah bisa tidak memberikan senyum saat dia hadir dihadapanku, pernah terpikir olehku untuk kembali melarikan diri tapi……” Indira kembali menundukkan kepala, ia memejamkan matanya yang memanas menahan air mata yang sekali lagi akan tumpah
‘mungkinkah kau masih mencintainya Ndi? Mungkinkah kamu masih menyimpan dirinya di hatimu sehingga kamu harus terus berusaha lari.. ada aku Ndi, aku yang kini bersedia membantumu menghapus sisi buruk itu. Cobalah untuk berpaling padaku, sedikit saja agar luka itu tidak terasa sakit lagi dan bahkan menghilang tanpa kamu sadarigemuruh hati Bagas yang tak sanggup ia keluarkan, Bagas tak cukup memiliki kekuatan untuk menorehkan luka pada Indira yang mungkin akan terasa sangat perih dari kemungkinan kemungkinan yang kini berputar dalam pikirannya
“Sudah Nggi…. Sudah, kamu tak perlu menjelaskan apapun lagi padaku, aku percaya. terima kasih kini kamu bersedia membukannya padaku, aku sangat hargai itu. Yang aku minta darimu saat ini, kamu harus bahagia, okey!” Indira mengangguk dan sekali lagi Bagas menarik Indira dalam pelukannya memberikan kecupan pada kepala gadis itu.
Beberapa saat berlalu, Anggi kembali,
“Ada apa ini? Gas, kamu apain sahabatku” Anggi duduk didekat Indira, mata Indira yang sembab dan memerah membuatnya hawatir. Bagas hanya terdiam.
“Nggak apa apa Nggi.. aku baik baik saja”
“Tapi kenapa kamu nangis, Bagas ngomong apa?? Dan….. ini apa?” Anggi menatap tangan Bagas yang masih menggenggam tangan Indira
“Jangan seperti anak TK kamu Nggi” Bagas masih bertahan menahan Indira yang berusaha menarik tangannya. Anggi tersenyum penuh makna memandang Bagas dan Indira bergantian
“Aku nggak apa apa Gas” Indira meyakinkan Bagas
“Hmm… kamu anter Indira pulang deh Gas, biar dia bisa istirahat di rumah” pinta Anggi
“Nggak Nggi, aku masih ada pekerjaan”
“Indira, please… sehat dulu baru kerja” sergah Bagas tegas
“Aku nggak apa apa, Bagas. Aku sehat!”
“Suster Mia, tolong bawakan tas dr. Indira ke ruangan dr. Anggia ya” Anggi menelpon ke ruang kerja Indira
“Nggi, kamu nggak perlu melakukan itu… aku baik baik saja” Indira bersikeras untuk tinggal. Bagas menatapnya tajam.
Tidak lama berselang, suster Mia datang dengan Gucci Dark Brown andalan Indira.
“laporan pasien yang perlu saya periksa tolong sekalian ya Sus”
“Oh baik Dokter, sebentar saya ambilkan dulu”
“terima kasih ya Suster Mia, maaf merepotkan”
***
Bagas tidak banyak bicara sepanjang perjalanan menuju rumah kontrakan Indira, begitupun dengan Indira. Keduanya tenggelam dalam pikirannya masing masing. Sekedar untuk membunuh waktu, Indira membuka laporan suster Mia yang ia minta, Bagas semakin tidak bersuara.
Sesampainya di rumah kontrakan Indira, Bagas tak langsung membuka kunci otomatis mobilnya, bicarapun tidak. Indira menunggu dalam diam. Ia takut untuk bertanya, takut kalau akhirnya Bagas menanyakan sesuatu yang akan memaksanya untuk membuka secara rinci sisi kelam dalam hidupnya. Cukup Bagas mengetahui siapa Prasta tapi dia tidak perlu mengerti seperti apa detailnya, itu yang ada dalam pikiran Indira.
“Kita makan dulu ya, kamu belum makan kan?”
Indira tidak menjawab, ia tahu ada sesuatu yang ingin Bagas sampaikan padanya namun ia pendam. Indira tidak ingin mendengar apapun saat ini baik itu tentang dirinya ataupun hal lainnya. Yang ia inginkan adalah tertidur sedini mungkin untuk melupakan beban hati yang menderanya. Beberapa saat menunggu dan tidak ada jawaban, Bagas memacu mobilnya meninggalkan kontrakan Indira. Bukan lagi pusat kota yang Bagas tuju seperti biasanya saat ia membawa Indira, kini dia membawa gadis itu jauh semakin masuk dalam pinggiran kota dimana Indira mengabdikan diri. Pilihan Bagas tidak pernah jauh dari hal hal yang berbau pedesaan, di parkiran sebuah rumah makan di kaki gunung sengaja ia pilih “Sendang Raos”.
Indira mengikuti langkah Bagas, ia tidak bersuara sedikitpun. Apa yang Bagas minta hanya ia laksanakan tanpa bertanya sekalipun, bukan karena dia enggan, tapi dia tidak ingin mengecewakan Bagas setalah dia membuka apa yang sebenarnya tidak seharusnya ia ketahui dan Indira tahu sedikit banyak Bagas pasti terluka. Luka yang tanpa sengaja ia torehkan.
“Bagas” tepat di depan pintu masuk langkah keduanya terhenti, wanita cantik nan seksi menghampiri mereka
“Aku nggak salah lihat kan, yaaa… ini dr. Raihan Bagaskara. Apa kabar, Gas?” wanita itu menyapa Bagas dengan pandangan yang tak pernah bergeser sedikitpun dari sosok Bagas seakan akan ingin menerkam Bagas habis
‘sepertinya aku memilih tempat yang salah’ sesal Bagas setelah melihat wanita yang kini ada di hadapannya
“Devina, apa kabar Vin?”
“Seperti yang kamu lihat, masih cukup cantik setelah kamu tinggalkan” mendengar itu Bagas tersenyum kecut dan segera meraih tangan Indira untuk masuk, ia sadar keberadaan Indira telah dilupakan oleh Devina dan mungkin berlama lama disana hanya akan memberi kesempatan pada Devina untuk mengatakan sesuatu yang tidak penting
“Maaf, Vin… aku masuk dulu ya”
“Oh silahkan, hmmm... ini siapa Gas?” Devina memandang Indira dari ujung kaki hingga kepala dengan pandangan aneh sedikit meremehkan
Jadi sekarang selera kamu seperti ini…. cantik ….. oh, seorang dokter di Waluyo. I know… tapi meskipun dia seorang dokter, aku rasa dia terlalu sederhana untuk ukuranmu Gas. Aku jamin tidak lebih kaya dari aku. Oke alasanmu tidak mau menerima aku lagi hanya karena wanita seperti ini, fine”
“Maksud Anda?” suasana hati Indira yang belum pulih mulai terusik dengan pernyataan Devina, senyum yang ia berikan untuk Devina seketika luntur terkikis emosi yang mulai naik. Sedikit banyak Indira memahami maksud wanita itu. Ya … Bagas dan Anggi berasal dari keluarga yang kaya, terlebih Bagas yang seorang putra pengusaha sukses di kota ini, Indira mengerti kemana arah pembicaraan Devina yang mengukur dirinya dari penampilannya yang ia kuliti sejak pertama ia menyadari keberadaan Indira di samping Bagas
“Maaf Bu Dokter, saya tidak ada urusan dengan Anda”
“Cukup Vin. Hentikan kegilaanmu….. tidak usah ditanggapi Ndi” Bagas menyela dan berusaha membawa Indira masuk, tapi Indira melepaskan genggaman Bagas
“Maaf nona yang Cantik, mungkin benar saya bukan orang kaya, akan tetapi dengan menyesal saya sampaikan, paling tidak saya lebih baik dari Anda” selesai mengatakan itu Indira melangkahkan kakinya kembali keluar dari restoran dengan meninggalkan Devina yang masih melotot emosi oleh pernyataannya, Bagas menyusul langkah Indira. Sedikitpun Bagas tidak berusaha untuk mengajak Indira kembali masuk dan jutru ia mengikuti kemauan Indira untuk meninggalkan tempat itu. Suasana hatinya kini juga tidak nyaman berada disana.
Indira sedikitpun tidak menanyakan identitas Devina, sepanjang jalan ia masih bungkam mencoba menata suasana hatinya yang kembali runyam setelah berusaha ia pulihkan dan sekali lagi berhasil dihancurkan oleh seseorang yang sama sekali tidak ia kenal.
“Berhenti Gas” tiba tiba Indira meminta Bagas menghentikan mobilnya
“Ya?”  sedikit mengurangi kecepatannya Bagas bertanya
“Berhenti di depan, aku lapar” Indira mengarahkan telunjuknya pada kaki lima yang ada disisi jalan
“Disana?” sedikit ragu Bagas meyakinkan diri dengan apa yang ia lihat
“Ya… kenapa, kamu tidak bisa makan di tempat seperti ini?”
“Oh bukan begitu… tapi apa kamu yakin kita makan disini?”
“cepet buka pintunya, aku lapar” Baga mengikuti permintaan Indira, tapi…
“Jika kamu nggak terbiasa, kamu boleh menunggu disini. Ini bukan tempat orang kaya” Indira tersenyum sinis tanpa memandang Bagas. Pintu yang telah Bagas buka kembali ia tekan tombol pengunci otomatisnya menghalangi Indira untuk keluar
“Apa maksudmu Ndi?”
“Aku mengatakan hal yang sebenarnya, jika kamu tidak terbiasa maka biarkan aku yang turun, kamu bisa menunggu disini sebentar”
“Indira, dengar ya…. Beberapa bulan ini kamu mengenalku, apakah aku terlihat sebagai orang yang memandang orang lain karena status sosialnya?. Aku nggak suka kamu menggunakan istilah kaya dalam menyebut diriku. Jika kamu terusik oleh kata kata Devina, aku minta maaf”
“Maaf?.. apakah kamu merasa berkewajiban meminta maaf atas nama dirinya?”
“Ndi dengar aku baik baik… Devina adalah mantan pacar aku sewaktu SMA, dia mendekati aku karena latar belakang keluarga kami dan aku meninggalkannya karena sifatnya itu. Setahun yang lalu dia datang kembali padaku, tapi aku menolaknya karena dia memandangku bukan sebagai diriku melainkan karena siapa orang tuaku. Itu yang menjadi alasan pertama kali aku meninggalkannya. Aku tidak pernah menginginkan orang memandang aku karena siapa orang tuaku, aku tak pernah bangga akan hal itu, tapi aku ingin orang memandang aku sebagai diriku sendiri, karena upayaku bukan karena orang tuaku. Aku memulai itu dari nol. Soal permitaan maaf tadi bukan aku lakukan atas nama Devina, melainkan atas nama diriku sendiri yang menyebabkan kamu mendapatkan perlakuan itu” selesai dengan kata katanya Bagas membuka pintu, kini dia yang turun dari mobil terlebih dahulu meninggalkan Indira yang terpaku di tempat duduknya memasuki warung kaki lima yang menjual Mie Ayam di pinggir jalan. Menyadari Indira tidak turun, Bagas kembali keluar setelah memesan dua porsi mie ayam untuk membukakan pintu dan membawa Indira masuk
“Ayo, kamu bilang sudah lapar. Dan makanan seperti ini sudah sangat aku kenal Ndi. Turunlah kita makan” ajak Bagas, kali ini ada sedikit kekesalan yang ia sembunyikan, Indira sangat menyadari itu. Emosinya telah menciderai harga diri Bagas.
***
Suasana malam sangat lengang, Indira duduk di teras samping rumah dengan secangkir sereal milk hangat. Ia menyandarkan kepalanya pada kursi bambu yang sangat nyaman memandang indahnya bintang bintang di langit ‘kamu harus bisa seperti bintang itu Indira, akan semakin bersinar terang saat gelap gulita. Dia tidak pernah takut dan berlari. Ya kali ini kamu tidak boleh lari dan kamu harus lebih tangguh lagi’ Indira tersenyum dan menyeruput serealnya tenang. Dari ruang tengah Anggi mengamati apa yang dilakukan sahabatnya
‘Nggi, Indira bertemu Devina dan seperti biasanya Devina berulah’
‘Apa maksudmu, Gas?’ jangan bilang sekali lagi Devina memintamu kembali di depan mata Indira’
‘Devina membawa status sosial’
‘aish… dasar cewek gila. Bisa bisanya kamu dulu berpacaran dengan dia. Huft…andai kamu nggak memutuskannya, mungkin mamamu akan mati muda’
‘hust… tolong kamu pastikan Indira baik baik saja’
‘Siap bos’
Dari pesan yang Bagas kirimkan sore tadi Anggi bisa membayangkan suasana hati Indira saat ini. Setelah kejadian di rumah sakit dan membuat sahabatnya itu menangis karena Bagas, sekali lagi dia mungkin terluka oleh Devina juga karena Bagas. ‘Maafkan aku Ndi, seandainya aku bisa menolong suasana hatimu pasti akan aku lakukan. Maaf jika karena aku kamu harus berurusan dengan Bagas’ dalam hati Anggi hanya bisa menyesali apa yang dialami sahabatnya.
--
“Ndi, Bagas sudah menghubungi mu?” pagi ini Anggi dengan tas di tangannya bersiap berangkat lebih pagi, posisinya yang masuk ke dalam jajaran direksi Rumah Sakit membuatnya harus ikut serta dalam sebuah rapat.
“Belum, memangnya kenapa?
“Nggak ada.. ya mungkin dia akan sibuk beberapa minggu ini” Anggi melanjutkan kalimatnya sambil sibuk menikmati roti bakar yang ada di hadapan Indira
“Oh”
“sepertinya dia harus mengurus rencana pengembangan salah satu perusahaan papanya”
Indira hanya diam tanpa komentar dan tetap focus pada laptopnya di atas meja makan. Semenjak pertemuannya dengan Devina, Indira memang sedikit menjaga jarak dengan Bagas. Sudah hampir dua minggu keduanya tidak bersua dan sesekali Bagas hanya mengirimkan pesan ataupun makanan seperti yang biasa ia lakukan sebelumnya. Kata kata Devina seakan menjadi ultimatum tersendiri bagi Indira untuk lebih waspada melindungi perasaannya dari luka yang tidak bisa dia prediksi datangnya
“Ndi… aku duluan ya, sepertinya aku telat nih”
“Oke, hati – hati”
Anggi hilang di balik pintu, Indira mematikan laptopnya bersiap siap untuk berangkat kerja. Ia merapikan beberapa berkas yang ia bawa, tapi….
‘Anggi….kebiasaan’ satu map berkas file sepertinya tidak sengaja tertinggal, Indira menggelengkan kepalanya dan membawanya beserta file file pribadinya meletakkannya di atas meja agar terlihat saat ia berangkat.
Beberapa menit kemudian, Indira telah siap untuk memulai aktivitasnya. Setelan kaos berkerah tinggi putih gading yang senada dengan celana ia padu padankan dengan blazer merah maroon membuatnya terlihat bersinar meskipun polesan make up yang merias wajahnya sangat minim.
“Suster sepertinya saya sedikit terlambat, tolong urus dulu semuanya ya” Indira menutup teleponnya setelah ia memarkirkan mobilnya di area parkir Mahardika Hotel tempat rapat dilaksanakan. Indira melihat jam yang ada di belakang reseptionis ‘pasti sudah dimulai’ pikirnya sedikit panik
“Meeting Room Rumah Sakit Waluyo” segera ia menanyakan dimana letak ruangan yang dipakai oleh jajaran direksinya.
“Flamboyan I, silahkan lewat sini Bu” seorang pelayan mengantarkannya menuju ruangan yang dimaksud. Sesampainya di depan ruangan Indira sedikit bingung dan meragu
‘apakah aku mengirimkan pesan saja biar Anggi keluar… ah Hp nya mati’ Indira menggelengkan kepalanya dan akhirnya tangan itu mengetuk pintu setelah ia membolak balikkan file yang Anggi tinggalkan ‘Rapat Direksi’ itu yang tertulis disana. Tak ada suara yang terdengar, ia pun membuka knop pintu memulai membukanya perlahan dengan sangat hati hati. Rapat sudah dimulai, hening hanya ada seseorang yang berbicara memimpin rapat.
‘Bagas?’
Indira sedikit menyipitkan matanya untuk menyakinkan penglihatan
Matanya terkunci bertemu dengan pandangan Bagas yang duduk diujung meja beberapa kursi terpisah dari Anggi. Diam dalam keterkejutan…


Dont Miss It :
Part 10 : HOLD MY HAND
Part 9  : HOLD MY HAND 
Part 8 : HOLD MY HAND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar