Jumat, 05 Agustus 2016
PLAY GIRL JATUH CINTA : Unlucky
PLAY GIRL JATUH CINTA
Part 5. Unlucky
Tepukan keras mendarat di punggung Tata, gadis itu hampir menyemburkan seluruh isi mulutnya karena kaget. Ia mengumpat sekenanya. Renita yang ada di depannya pun tak lepas dari amunisi yang keluar cepat dari bibir tipisnya.
“Iiiiiih jorok amat si Ta”
Protes Renita dengan terus mengibaskan tangannya yang basah, ia merapikan isi meja. Semburan Tata mengacaukan segala yang ada. Mulut Renita terus komat kamit mengeluarkan kekesalannya dengan tissue kotor yang ia lemparkan ke arah pembuat onar yang kini berdiri cengar cengir di belakang Tata. Pun demikian dengan Tata, tapi ia hanya menoleh sesaat tanpa respon apapun. Zaldy mengambil tempat duduknya, ia memutar kursi sedemikan rupa sehingga ia bisa berhadapan dengan Tata. Masih dengan sedotan di bibirnya, Tata menatap Zaldy tanpa komentar. Beberapa detik Zaldy terus mengikuti apapun tindakan Tata, ia berharap suara khas Tata yang memekakkan telinganya memberikan perintah akan segera terdengar, namun usaha Zaldy tidak membuahkan hasil. Gadis itu tak bergeming.
“Okay.... gue nyerah. Lo kenapa sih?”
Akhirnya Zaldy bersuara sambil menyomot Batagor di piring Renita sehingga ia harus menerima pukulan sendok yang mendarat di atas punggung tangannya. Sedikit mengerang, namun Zaldy meneruskan apa yang ia lakukan, memanfaatkan keadaan untuk dapat makanan gratis.
“Semingguan ini Lo nggak main ke rumah, ga ada kabar sama sekali. Lo marah sama gue?”
“Cieeee cieeeee.... lo kangen ma Tata, Al. Hahahahaha apa gue bilang, lama lama lo bakal jatuh cinta sama Tata”
Renita menggoda Zaldy, tapi bukan reaksi pipi merona atau salah tingkah seperti yang selalu ia lihat dalam serial drama yang Zaldy tunjukkan jutru cowok itu menatap tajam ke arah Renita dengan bibir sedikit mengerucut kesal.
“Menghabiskan waktu bersama dalam kurun waktu yang lama sampai tidak lagi punya rahasia, hmmm rasa cinta itu pasti bersembunyi dalam bingkai yang berbeda untuk waktu yang lama dalam hati lo”
Renita mencoba cuek dengan ekpresi Zaldy dan terus nerocos melanjutkan aksinya menggoda cowok setia itu.
“Ngawur.....!”
“Auuuch..... iish lo ah”
Zaldy yang kesal mendaratkan satu jitakan di kepala Renita sehingga gadis itu mengadu kesakitan. Jitakan Zaldy membuat ekpresi genit Renita sontak berubah berbeda dengan Tata yang masih diam tanpa komentar, gadis itu justru sibuk memainkan rambut hitamnya dan fokus pada layar Phonecell dengan senyum yang beberapa kali mengembang dibibir. Melihat itu Zaldy memberikan kode pada Renita tapi gadis itupun hanya bisa mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya
“Lo bawa mobil sendiri?”
Tanyanya lagi, dan kali ini gelengan tajam dari kelapa Renita memberikan jawaban atas pertanyaannya. Tata menoleh kearahnya sesaat lalu tersenyum
“Lo stress ya Ta.... ditanyain diem, malah cengar cengir. Lo marah sama gue?”
Hanya gelengan yang Tata berikan. Tak ada sepatah katapun yang Tata ucapkan, semua pertanyaan Zaldy hanya dia respon dengan tengokan dan sesekali dengan gelengan, selebihnya Renita yang memberikan sedikit penjelasan dengan gaya sok tahunya. Zaldy menarik nafas panjang menekan emosinya, kesabarannya mulai terusik. Tata yang tidak begitu merespon dan seakan lebih focus pada HPnya membuat dia sedikit terganggu
“Hyaaaa…. Al balikin deh”
Dalam sekejap HP yang ada ditangan Tata berpindah tangan, Zaldy merebutnya dengan kasar sehingga earphone yang terpasang ditelinga Tata tertarik dengan paksa. Tata yang kaget dengan apa yang dilakukan oleh Zaldy lepas control, setengah berteriak dia meminta barangnya kembali. Zaldy berdiri dengan tenang dan mencari tahu alasan Tata lebih focus pada layar Phone Cell nya. Tata bukanlah tipe gadis yang mudah focus pada satu hal jika berada di luar kelas. Dia gadis yang sangat menikmati waktu dan masa mudanya. Dia hanya akan terlihat serius saat dia harus belajar, diluar itu dia akan melakukan sesuatu yang benar benar jauh dari literature dan hal hal yang berbau akademisi. Oleh karena itu Zaldy sangat yakin jika dia sedang memiliki permainan baru dalam hidupnya yang tidak ia ketahui. Zaldy mengangkat tinggi tinggi tangannya menjauh dari jangkauan Tata, membuka dan membaca apa yang sudah tertera di layar HP
“Putra???”
Zaldy menaikkan alis dan menyipitkan matanya memandang Tata dengan senyuman aneh, senyum yang penuh dengan keheranan dan ketidakpercayaan.
“Lo pacaran sama Putra?”
Tanyanya kemudian dan meletakkan HP Tata dengan kasar diatas meja. Anggukkan Tata membuat Zaldy kembali meradang, dia berfikir bahwa Tata sudah melewati batas.
“Lo udah gila ya Ta? Okay lo punya apa yang dimau oleh cowok, tapi……”
“Letak salahnya dimana?... kenapa gue nggak boleh pacaran sama Putra”
Tata memotong kalimat Zaldy tetap berdiri seakan menantang cowok itu tanpa ada rasa gentar. Renita yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan keduanya hanya diam, dia mencoba menjadi pendengar untuk mengetahui sumber keributan yang ada. Kenyataan bahwa Tata mempunyai pacar juga baru ia ketahui dari pembicaraan Zaldy dalam amarahnya saat ini. Tata duduk kembali dan memasang earphonenya, tapi Zaldy menarik kabel earphone itu sebelum tangan Tata berhasil menempatkannya dengan benar.
“Lo pernah sakit hati nggak sih Ta? Lo pernah kecewa nggak sih? Kalau lo nggak mau rasain itu, lo hargai perasaan orang dong?”
Zaldy berbicara dengan nada sangat serius, Tata tertegun. Untuk pertama kalinya ia mendapat teguran keras dari Zaldy tentang peringainya. Tata merasa ia tidak melakukan kesalahan apapun, ia merasa reaksi Zaldy berlebihan.
“Lo kenapa sih Al? memangnya salah gue dimana kalau gue pacaran sama dia”
“Wait wait wait…. Dari tadi putra putra dan putra, sebenarnya dia siapa sih? Pacar lo? Yang mana?”
Renita yang merasa belum pernah mendengar nama Putra ditelinganya akhirnya bersuara, ia merasa bingung harus melerai adu mulut yang terjadi di depannya dengan cara seperti apa
“Terus masalahnya apa jika memang Tata pacaran sama si Putra itu? Huh?”
Tata hanya diam memegang gelas juice yang ada dihadapannya, pun demikian dengan Zaldy. Cowok itu hanya menggigit bibirnya melirik ke arah Tata menunggu gadis itu bersuara
“Okay… nggak mau jawab, ya sudah teruskan perdebatan kalian, gue cabut”
Renita mengambil tasnya berniat meninggalkan dua wajah masam yang sama sama dikuasai emosi
“DUDUK!”
“hah?”
Dengan kompak Zaldy dan Tata memberikan perintah tegas pada Renita sehingga gadis itu kaget, kini dua pasang mata yang bertikai itu sama sama tertuju padanya. Permainan berbalik arah dan posisi terdakwa seakan beralih padanya secara tiba tiba. Renita menelan ludah
“Al.. gue nggak menyakiti siapapun dengan mengambil keputusan berpacaran dengan putra. Terus alasan lo marah kenapa?”
Dengan telunjuk yang memberikan perintah pada Renita untuk tetap tinggal, Tata mulai mengatur emosinya. Zaldy menyeringai kembali seakan menertawakan apa yang Tata katakan.
“Lo sudah amnesia dengan apa yang lo lakuin tempo hari di depan orang tua lo?”
“Maksud lo?”
“Udahlah Ta, anggap aja yang lo putuskan itu sudah benar. Cuma gue kecewa aja. Satu lagi, jika gaya lo berubah seperti ini, gue nggak akan mau jadi tameng lo lagi”
Zaldy berdiri namun tangan Tata cepat menahan lengan cowok itu
“Lo paham nggak sih siapa Putra?”
“Nggak penting buat gue siapa Putra, tapi gue lebih hawatirin citra lo kedepannya”
“Lo kenal putra nggak sih, Al?”
Zaldy menghembuskan nafas beratnya, ia merasa kini Tata mulai berbelit belit. Ia duduk kembali dan kali ini gelas yang Tata pegangi menjadi sasarannya. Permainan Tata membuat tenggorokannya kering menahan emosi. Kemudian dia menggeleng pelan
“Yang gue tahu, dia model yang beberapa kali terlibat kerjasama sama Lo. Well… he’s handsome. Pass banget sama lo. Tinggi putih dan lo bakal jadi Perfect Couple sama dia”
“Yang mana sih Ta?”
Renita menyela dengan hati hati
“Diem!”
Sekali lagi selaan Renita yang penasaran mendapatkan skakmat secara kompak dari Zaldy dan Tata sehingga dia harus terima dengan kesimpang siuran yang ada dikepalanya membiarkan adu mulut menjadi hiburan makan siang yang ia lakukan
“Gue hanya paham sebatas itu tentang dia. Gue tau dia berharap sama Lo dan udah ngejar lo beberapa bulan ini kan?”
“Lo tau soal itu?”
“Gue baca di line lo, dia juga tahu soal Tony kan?”
“Nggak penting masalah Tony, ini soal Putra. Mukanya lo lihat?”
Zaldy mengangkat bahunya, sebenarnya Tata mengerti dengan alasan kemarahan Zaldy. Sebagai seseorang yang paling dekat dengannya dan selalu menempel padanya sepanjang nafasnya berhembus, Tata sudah sangat hafal dengan tiap pesan Zaldy tentang percintaan yang ia jalani.
“Afrizal Mahendra Putra, itu nama lengkapnya. Hendra yang lo kenal dengan Putra itu orang yang sama. Paham?!”
Zaldy menoleh dengan cepat, ia mengambil kembali HP Tata untuk memastikan apa yang ia dengar bukan hanya upaya Tata untuk mengelak dari kesalahan. Dia membuka foto yang terpasang sebagai gambar profil Putra
“Ooooooo….”
Renita meganggung anggukan kepalanya memahami keadaan, sedetik kemudian dengan setengah berteriak ke arah Tata dia bereaksi kaget
“Putra dan Hendra atau Mahendra adalah orang yang sama!!. Lo pacaran sama Putra yang tidak lain adalah Hendra!... Artinya..... cowok yang waktu itu………… cowok Lo?”
Renita melotot ke arah Tata tidak percaya. Tata tersenyum memberikan jawaban
“Ta…. Kenapa lo selalu dapat yang perfect sih Ta? Dulu gue harus patah hati karena Tony. Anak Psikologi yang lo tolak juga cakep banget. Hendra……. Ouwww si mancung bibir merona harus gue kandasin juga, lalu Bintang lapangan si anak Pak Haji juga masih jadi potongan puzzle... haduuuuh”
Renita yang mulai lebay dengan gaya melodramanya merancau tidak karuan, Tata membungkam mulut Renita dengan cepat. Akan jadi masalah kalau sampai mulut itu mengeluarkan segala apa yang ia tahu dan terdengar oleh Zaldy. Zaldy yang sempet mendengarkan rancauan Renita kembali melemparkan pandangan pada Tata
“Lo diem napa sih, lebay tahu”
Tata mengedip kedipkan matanya pada Renita memberikan perintah untuk diam. Pandangan Zaldy yang penuh tanda tanya tertangkap oleh Renita yang kini mengulum bibirnya dengan kuat karena menyadari kesalahannya yang mungkin akan menimbulkan masalah baru buatnya ataupun Tata
“Apaan si Al? biasa aja kali…. Lo juga udah paham dengan keadaan seperti itu kan?”
Tata berkilah, ia merapikan rambutnya mencoba menutupi kegrogian yang menyerang
“Bintang lapangan? Siapa lagi??”
Tanya Zaldy mulai tidak percaya
“I…. itu maksud gue si Bram. Abraham…. Dia kan aktivis”
Tatapan Zaldy beralih ke Renita yang sedikit kelabakan mencari alasan mengambil tanggung jawab untuk memberikan penjelasan pada Zaldy karena mulutnya yang tidak bisa di rem
“Iya itu Zal… dia kan punya darah Arabian. Anak Pak Haji…. Dia getol kan usaha deketin Tata. Lo masa nggak paham sih!?”
Renita memasang wajah keselnya mencoba menyakinkan Zaldy dengan alasannya, ia mencoba rileks seakan ia menjelaskan apa yang sebenarnya sudah Zaldy pahami.
“Okelah, untuk sementara gue terima alasan lo…. Tapi inget ya Ta, gue nggak suka kalau lo main api. Oh iya lo dicariin Mama. Gue balik dulu”
Renita bernafas lega, Zaldy percaya pada apa yang ia ucapkan walaupun dengan keterpaksaan. Ia mengelus dadanya bersyukur
Sepeninggalan Zaldy, Tata hanya bisa melotot ke arah Renita dan gadis itu hanya tersenyum memamerkan gigi putihnya tanpa merasa bersalah. Suasana kampus masih cukup ramai meski tengah hari sudah berlalu dua jam yang lalu. Renita mencoba menggali informasi tentang hubungan Tata Hendra yang baru ia ketahui. Beberapa kali Renita terlihat kecewa oleh kebahagiaan sang sahabat, dimatanya Hendra yang ia kenal sekilas lalu adalah gambaran cowok sempurna yang ia idamkan. Kehidupan Tata diluar kampus memang tidak pernah ia ketahui dengan jelas, kerap menjalani pemotretan dan bergaul dengan banyak model baginya Tata masih sahabat cantiknya yang tidak banyak tingkah, hanya mahasiswi biasa yang terkadang mengambil pekerjaan sebagai model lantaran permintaan perusahaan sang ayah. Tata masih seorang cewek anti Mall yang selalu menempel pada sahabat kecilnya meskipun ia memiliki cowok hanya karena alasan keamanan. Ya ‘keamanan’ yang hanya diketahui maksudnya oleh Tata.
---
Silau lampu studio membuat Hendra mengedip kedipkan matanya dengan kuat, seorang makeup artis sibuk merapikan dandanan di wajah gantengnya. Pemotretan yang ia jalani hari ini terasa sangat melelahkan, ia membutuhkan sesuatu yang bisa membangkitkan semangatnya. Masih tersisa beberapa sesi lagi untuk bisa lepas dari sorotan lampu dengan watt yang super besar ini dan lagi model yang menjadi pasangannya dalam sesi selanjutnya masih dalam perjalanan. Hendra mengangkat wajahnya sembari memejamkan mata.
“Wo, ambilin HPku dong”
Pinta Hendra pada Bowo yang selalu menemaninya saat bekerja, sahabat yang juga sepupunya itu melangkah mendekat untuk menyerahkan apa yang diinginkan oleh Hendra. Mata Hendra masih terpejam sementara tangannya menengadah
“Lo tidur aja napa sih Hend, tanpa make up wajah lo kek zombie tahu?”
“Sialan Lo, justru zombie ini yang ngasih lo uang jajan!”
“Nggak tega gue, mata lo udah kek mata si Moy tuh”
“Sialan Lo…. Bagusan mata gue lah. Eh jangan sok manis deh Wo, geli gue dengernya”
“Iya bagusan Lo, tapi enakan lihat mata Moy dari pada mata Lo. Hahahahhaaa”
Fokus Hendra teralihkan dari layar HP dan menyaut apa saja yang ada di depannya untuk membuat Bowo berhenti mengejeknya. Ya, seharian ini Hendra hampir tidak memiliki waktu untuk memejamkan matanya. Sengaja bolos kuliah demi tangung jawab, justru membuatnya kewalahan karena harus menyelesaikan tugas secara bebarengan.
“Ada apaan sih, tumben rame” Zia memasuki studio, ia meletakkan tasnya dan mengambil tempat duduk di depan cermin siap memasang muka cantiknya untuk di dempul
“Lo kenapa lebih cepat dari yang gue harapin sih Zi”
Sambut Hendra dan melupakan tawa Bowo yang masih terdengar.
“Nyindir Lo?”
“Siapa yang nyindir, maksud gue tadinya biar bisa merem bentaran gitu”
“Gimana lo bisa merem kalau bercanda mulu”
“Tahu tuh Bowo. Asisten yang tidak pengertian”
“Sial…. Lo sebut gue asisten??? Sebut aja babu lo sekalian”
Bowo yang mendengar kata Asisten dilekatkan padanya terdiam. Kata itu tidak pernah ia terima jika dilekatkan padanya meski kenyataan berbicara seperti itu. Istilah Asisten sangat melukai harga dirinya, ia lebih suka disebut teman dalam artian seseorang yang menemani dan mendampingi Hendra agar dia tidak kewalahan saat memenuhi kewajibannya, tapi ogah disebut Manager karena tidak sanggup memikul tanggung jawab (sama aja kali ye)
“Cieeeee sensi amat Bro, kayak cewek lagi mens”
Zia yang beberapa kali bekerja bersama Hendra dan hafal akan karakter Bowo meledek. Tak ada yang dilakukan pemuda itu pada Zia ataupun Hendra, dia hanya menggerutu sendiri tak jelas terdengar dan Hendra kembali pada layar HPnya dengan senyum.
“Hend, udah lama gue nggak lihat lo ambil project dari Andromeda? Apa udah ada yang isi?”
Tanya Zia kemudian meninggalkan Bowo dengan kekesalannya
“Emang kenapa?”
“Ya barangkali saja selera mereka udah berubah, soalnya tadi gue sempet papasan sama Tata di depan”
“Violetta?”
Hendra menoleh ke arah Bowo, cowok itu pun sama kagetnya dengan Hendra. Hendra memang mengatakan jika dia bekerja full hari ini dan tidak bisa menemani Tata, tapi keberadaan Tata di gedung yang sama membuatnya cukup mendapatkan kejutan. Tata bukanlah orang yang akan menerima tawaran secara sembarangan, dia hanya akan mengambik pekerjaan dari perusahaan papanya dan juga bukan gadis yang rela mendatangi seorang cowok meskipun itu cowoknya sendiri. Tata memasang aturan tegas akan hal itu pada dirinya.
“Iya, Violetta. Gue pikir dia pemotretan juga. Makanya gue tanya sama lo. Kan dia model tetapnya Andromeda”
“Setahu gue nggak ada pemotretan untuk Andro kok hari ini, maksud gue belum ada agenda baru dari mereka. iya kan Om?”
Jawab Hendra dengan teriakan pada photographer diakhir untuk memastikan dugaannya. Sang pawang kamera itu mengayunkan jempolnya memberi jawaban. Zia mengangkat bahunya.
“Oke siap”
Teriak photographer memberikan komando pada teamnya agar segera mengambil posisi masing masing untuk memulai pekerjaan mereka kembali. Zia dan Hendra berdiri dari duduknya dan segera beraksi dalam sorotan lampu terang dan jepretan serta kilatan blitz.
Beberapa sesi terlewati, beberapa pose dan kostum rampung ia tuntaskan. Zia yang sudah berganti pakaian nampak masih membersihkan mukanya di depan cermin.
“Kenapa ya belum ada yang menandingin Tata dalam urusan make up”
Hendra yang mengikuti aktivitas Zia di depan cermin berceloteh
“Ish… nyesel gue sebut nama Tata di depan Lo”
Protes Zia yang mulai tidak nyaman dengan celotehan Hendra. Sudah bukan hal baru lagi jika Tatalah satu satunya model yang selalu membersihkan make upnya sampai benar benar hilang tidak bersisa. Datang dengan rambut dikuncir acak tanpa polesan dan pakaian cuek, pun demikian saat ia meninggalkan studio, bahkan lipstick pun tidak ada pernah menempel pada bibirnya. Akan jauh berbeda dari pemandangan saat model model lainnya terlihat, walau seperti itu, namun nama Tata masihlah sebagai model yang dipertimbangkan dan banyak dikejar. Wajah cantiknya sudah tidak diragukan lagi. Wajah hemat make up.
Sttt…. Sttt… stttt…. Bowo yang ada dibelakang mereka terus bersuara
“Susah kalau udah ngomongin dia, pasti akan terasa kurang mulu”
“Tapi itu kenyataan lo Zi”
“Haeeeeuuuh…. Lo muji setinggi langit juga nggak bakal jadi cowoknya Hend, udah deh terima saja yang ada di depan lo”
Sttt… sttt…. Suara Bowo kembali terdengar, Zia dan Hendra yang terlibat perbincangan serempak menoleh dan mereka melihat Bowo yang nyengir menampilkan barisan gigi sedikit kuningnya. Bowo sedikit terkekeh, dia tahu jika kedua orang yang sibuk di depan cermin itu kini kehilangan kata kata setelah menangkap sosok cantik yang menyandar di pintu melambaikan tangannya (Bukan kuntilanak loh ya). Dengan gaya khas, earphone menempel di kuping, Violetta melambaikan tangannya dan menyapa Photographer yang masih merapikan alat tempurnya. Hendra dan Zia berpandangan. Ada ekspresi yang bertolak belakang dari keduanya, jelas wajah bahagia melekat pada Hendra sedangkan senyum kecut yang dipaksakan kini terlihat jelas di wajah Zia. Tata melangkahkan kakinya, tangannya melepaskan earphone yang menutupi telinga.
“Hai Zi…. “
Ramah ia menyapa Zia yang bengong di depan cermin, ia menghampiri Bowo dan menggeser tempat cowok itu dengan halus
“Tumben Ta, ada kerjaan ya?”
Zia sedikit berbasa basi, meski ia yakin Tata tidak mendengarkan perbincangannya dengan Hendra karena hobbynya yang selalu mendengarkan music disetiap kesempatan, tapi ia merasa kikuk, batinnya sedikit meragu
“Nggak!”
“Terus???”
“Tu si Play Boy nggak balas pesan gue, makanya gue penasaran. Kucrut satu ini bilang kalau hampir selesai, jadi gue dateng”
Zia terdiam, ia melotot ke arah Hendra dengan telunjuknya tidak percaya, seorang Violetta mendatangi Hendra. Gadis dengan standart tinggi itu merepotkan dirinya hanya untuk seorang Hendra. ‘Well... its your jackpot’ batin Zia bersuara dengan tatapan dan kuluman bibirnya tak percaya menatap Hendra yang mengembangkan senyum
“Lo sama Zaldy?”
Tanyanya lagi dengan celingukan mencari bayangan tiga dimensi yang Tata miliki
“Nggak”
Zia semakin terkejut lagi, Tata lepas dari bayangannya. Zaldy hilang dari radius jangkauan Tata sementara gadis itu datang hanya untuk seorang Hendra. Ooooooo, mulutnya melongo, ia mengusir rasa penasarannya, ia merasa sangat mustahil jika Tata tertarik pada wajah ganteng Hendra yang standart. Tidak mudah memasuki kehidupan Tata jika hanya bermodal wajah ganteng semata, yang ia tahu Hendra tidak memiliki kelebihan lain selain itu dan itu cukup menjawab pertanyaan Zia jika dugaannya salah
“Pesen? Mana nggak ada pesen masuk kok?”
Hendra membuka kembali Hpnya… ia mengecek kotak pesan yang ia miliki. Dengan sedikit garukan kepala ia menyengir. Pemandangan bodoh itu membuat Zia geli, ia melemparkan tissue bekas yang dia pakai ke arah Hendra.
“Oke… gue duluan ya, eneg gue lihat lo Hend”
“Bye Zi, See you later”
Sebagai orang yang mengetahui kisah antara Tata dan Hendra, Bowo mengerti maksud kedipan mata sahabatnya selepas kepergian Zia. Ia menyusun strategi untuk bisa membiarkan Tata melepaskan dirinya tanpa banyak kata. Bowo memainkan iringnya seolah olah ada panggilan masuk dalam HPnya, ia berdiri dan menepuk pundak Hendra. Tata hanya diam mengikuti pergerakan Bowo yang mulai menjauh darinya.
‘iya, semuanya sudah selesai. Gue nggak lupa kok, tunggu aja bentaran’
Bowo berpura pura, jauh dalam batinnya ia takut HPnya akan berbunyi, dengan doa doa terucap dalam hati dia mendekati pintu
‘oke gue melesat kesana…….’
”Hend, gue cabut ya. Nih kunci mobil lo”
Saat handle pintu ditangan, kunci mobil dilemparkan ke arah Hendra dan Bowo sukses melesat tanpa ada acara tanya jawab atau tawar menawar dengan Tata.
“Lah… dia naik apa?”
Tanya Tata kemudian dengan muka sedikit bingung. Bingung karena merasa dialah yang membuat Hendra harus tinggal dan membiarkan Bowo pergi sendiri, seharusnya mereka pergi bersama, tapi kehadiran Tata yang tidak diundang sudah merusak semuanya.
Hendra tersenyum lalu mengandeng tangan Tata untuk segera pergi, Tata mencoba melepaskan tapi genggaman tangan Hendra cukup kuat untuk ia bisa terlepas. Mengetahui Tata yang terus berontak tak ingin ada yang melihatnya namun berbeda dengan Hendra yang masih percaya diri dengan senyumannya dan kerlingan mata menggoda Tata yang sedikit salah tingkah.
---
Hari hari Tata sedikit berbeda, kini tugas Zaldy sedikit ringan tapi tanggung jawabnya semakin besar. Tata yang selalu ogah untuk mengemudi sendiri akhirnya membuat Zaldy kewalahan menyesuaikan jadwalnya. Orang tua Tata yang selalu melemparkan tanggung jawab pengawasan Tata padanya membuatnya harus selalu siap siaga saat hand phone berdering memintanya datang kapanpun dan dimanapun. Ia sangat menyesali kedekatan Mamanya dengan orang tua Tata untuk saat ini, karena hal itu hanya membuatnya tidak bisa mengelak dari tugas yang diberikan padanya saat sang mama memberikan kunci mobil Tata padanya tiga hari lalu. Namun demikian Tata masih belum mengambil inisiatif untuk mampir ke kediaman Arifin, hampir tiga minggu ia hanya berkomunikasi dengan Nyonya Martha lewat udara dan selalu ada alasan untuk menolak permintaan ibu keduanya itu untuk mampir. Masih belum jelas apa penyebabnya, bahkan Zaldypun belum menemukan jawaban apapun tentang perubahan Tata yang aneh itu selain satu kata yang ia tahu pasti ‘Kasmaran’
Masih belum banyak yang berubah, saat Hendra tidak bisa menjemput atau mengantarnya tugas kenegaraan diemban oleh Zaldy, akan tetapi hari itu Tata sama sekali tidak menghubungi Zaldy dari pagi sampai sore hari. Pulang kuliah sudah sedikit sore, ia memutuskan untuk mengikuti acara yang direncanakan oleh Salsa dan Renita, berburu korea hanya untuk melewati waktu. Dengan menggunakan taksi ketiga gadis itu memasuki toko kaset yang ada di sebuah Mall. Tata dengan earphone yang selalu siaga membolak balik DVD yang ada, entah apa yang ia cari, yang jelas saat ini dipikirannya adalah menemukan tontonan yang akan bisa membunuh waktunya tanpa ada kata bosan.
“Ren…. Sini deh, ini bukan yang lagi rame di bahas temen temen di sosmed?”
Salsa dengan mata yang berbinar seakan menemukan sebongkah berlian mendekati Renita yang tengah sibuk memilih dan memilah
“Ini kan Ren? Sini deh Ta…. Katanya ini bikin kita blingsatan saat nonton”
“Apaan sih, jangan norak deh Sa”
Tata menyaut DVD yang ada ditangan Salsa.
“Ceritanya tentang apaan nih?”
Tanyanya kemudian
“Ini tentang dua gadis dengan karakter bertolak belakang tapi punya nama yang sama. Satu dan lainnya saling terhubung oleh nasib sampai akhirnya karena nama itu ada kesalahpahaman yang berujung cinta antara pacar si A dengan si gadis B”
“Ih klise ah.. yang main juga ga cakep cakep amat, cari yang lain aja”
“Gue lagi pingin nonton yang rada berat dikit”
Renita bersuara
“Sono tonton aja Achiara’s… rada garing tapi lumayan bikin mikir katanya”
Salsa yang masih memegang DVD pilihannya menimpali
“Ta… konon kabarnya ini kisseunya bikin gerah”
Salsa masih belum putus asa untuk mempengaruhi Tata pada pilihannya, Mata Tata berbinar, ada senyum dibibirnya demikian juga dengan Renita yang langsung menaruh DVD yang ia pegang dan berlari mendekat. Salsa dan Renita bermain mata dan menyetujui kaputusan mereka. Satu judul telah disepakati. Tidak sampai disitu, tiga wanita muda itu masih mengambil beberapa judul yang menarik bagi mereka sampai akhirnya langit berubah warna.
Keluar dari Mall, Tata tidak bisa lagi dibujuk. Ia memaksa untuk pulang dari pada harus masuk ke resto yang ada sehinga Renita dan Salsa harus menyerah dan membiarkan Tata pulang dengan perut kosongnya. Jam ditangan Tata sudah jam tujuh malam lewat, artinya jika tidak ada halangan maka apa yang ia rencanakan akan berjalan dengan lancar. ia mengeluarkan satu hoodie yang ia simpan dalam ranselnya, saat mendekati lokasi yang ia tuju ia kenakan dengan cepat dan memasukan habis rambut panjangnya disana. Suasana tidak pernah sepi, Tata berjalan menyusuri jalan taman dengan sedikit menundukkan kepala dan mulai memasuki area olah raga. Ia sedikit ragu, tidak menutup kemungkinan Zaldy ada disana karena area ini adalah area terdekat yang bisa dicapai Zaldy untuk memuaskan hobby.
‘Ah, peruntungan nggak akan terjawab sebelum gue mencobanya’ pikirnya memantapkan hati, ia mulai melangkah lagi akan tetapi
“Tata……”
Satu sumber suara membuat dia mematung, ia sangat mengenal suara itu. Tata terdiam, dua tangan yang ia sembunyikan dalam saku hoodienya mengepal dan matanya sedikit menyipit takut untuk membalikkan badan. ‘sial’ dia mengumpat dalam hatinya lirih
“Haduuuuh penampilan macam apa ini sayang”
Pak Dharmawan yang membawa tas raket lengkap dengan handuk yang masih ia gantungkan di leher nampak segar bermandikan keringat. Tata tersenyum.
“Ngapain kamu disini?”
“emang kenapa dengan penampilan Tata?”
Pak Dharmawan membuka penutup Hoodie yang menyembunyikan wajah Tata dari pandangan.
“Nggak gerah apa kamu pake ginian. Emang mau ngapain disini, Olah raga?”
Pria paruh baya itu meragukan tebakannya sendiri, Tata tidak akan pernah memilih berolah raga ditempat ramai seperti ini apalagi seorang diri
“Hanya lewat dan lagi pingin mampir… mau ngecek si Al juga kenapa nggak jemput Tata, Pa”
“Lah si Al lagi beli minuman buat Papa, kita baru olah raga bareng rame rame dan katanya tidak ada telepon dari kamu buat dia jemput”
“Rame rame???”
“Iya… tu ada Mas Raka juga masih berkemas. Yuk sini anak Papa yang cantik ikut gabung ya, sekalian kita pulang bareng”
Tata melangkah lunglai, dia sangat menyesali keputusannya yang telah menolak ajakan dua sahabatnya. Harusnya dia masih bisa tertawa bareng mereka dan tidak berakhir tanpa hasil sebelum beraksi. Tata mati kutu dan menyerah bahwa apa yang ia rencanakan harus kandas oleh papanya sendiri
‘Ah hoodie sial’ umpatnya dalam hati karena ia tahu kalau sang Papa mengenalinya dari hoodie marun yang ia kenakan. Hoodie yang papanya berikan sebagai kado ulang tahun setahun lalu dengan huruf hangul di pundak kanan yang berarti cantik pasti dikenali dengan mudah oleh sang pemberi hadiah. Matanya melirik ke arah lapangan dan kakinya tidak bisa menolak mengekor dibelakang sang papa mendekati Raka.
Dont miss it :
Part 4 : PLAY GIRL JATUH CINTA : Mendung di Wajah Tata
Kamis, 28 Juli 2016
PLAY GIRL JATUH CINTA : Mendung di Wajah Tata
PLAY GIRL JATUH CINTA
Part 4. Mendung di Wajah Tata
Tilulit suara
tivi dimatikan, gadis dengan wajah masam segera menaiki tangga menuju
persembunyiannya. Rumah kembali sepi setelah hanya tersisa penghuni aslinya.
Tata berlalu dari orang tuanya tanpa berbasa basi, sementara Pak Darmawan dan
isteri meluruskan punggungnya di Sofabed
yang ada di ruang tamu. Sedikit melirik ke arah sang putri yang melenggang
tanpa suara Pak Darmawan hanya bisa mengangkat alisnya memandang siteri seakan
bertanya. Nyonya Jasmine mengangkat bahunya dan menghidupkan kembali layar
televisi.
“Mbak,
dibersihkan besok saja. Istirahat dulu,
udah malam”
Perintah
nyonya Jasmine pada pembantunya yang masih mondar mandir membawa peralatan
perang yang baru mereka selesaikan
“Iya
Bu sebentar lagi”
Jawab
sang pembantu sopan.
Nyonya
Jasmine meregangkan ototnya, memindah mindah channel mencari hiburan sedikit
mengacuhkan pertanyaan suaminya perihal sikap putri semata wayang yang tiba
tiba aneh bak roolercoaster hanya dalam hitungan jam. Walau sangat memahami
watak sang anak yang moody, tapi kali ini untuk pertama kalinya pemandangan itu
lelaki paruh baya itu dapatkan tanpa tahu sebabnya.
“Pa….
pa…. lihat deh, bukannya itu….”
“Apaan
sih Ma?”
Sang
isteri yang semula tidak menggubrisnya tiba tiba mengagetkan Pak Darmawan
sambil mengacungkan telunjuknya ke layar televisi.
“Cepetan
Papa, ini keburu habis iklannya…..”
Nyonya
Jasmine yang kini sudah merubah posisi rebahannya menjadi terduduk setengah
berdiri karena semangatnya melambai lambaikan tangannya meminta Pak Darmawan
untuk segera mendekat.
“Apa
sih Ma? Sampe segitunya”
“tuh….
Tuh… tuh, lihat baik baik deh Pa, bukannya dia….”
“Beneran
nih Ma? Nggak salah si Tata?”
“Lah
itu dia, beneran kan Pa, dia yang tadi kan?”
“Iya
bener Ma, siapa tadi… indra… eeeeeh siapa sih?”
“Hendra
Pa, Mahendra!”
“Iya
itu dia…. Pantesan Papa lihat itu anak kok cakep bener”
Keributan
kecil di ruang keluarga sedikit mereda, suami istri itu berpandangan seakan
mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi setelah iklan yang mereka lihat
dengan penuh keantusiasan berlalu.
“Ah
Molla…. Anak muda susah ditebak Pa”
“iiiih
bahasa Mama kok jadi lebay gini”
Nyonya
Jasmine mengangkat pundaknya dan tersenyum kembali merebahkan diri. Pak
Darmawan yang sebelumnya memeriksa email dalam ponsel pintarnya kini masih
belum beranjak dari tempatnya, duduk di tepi Sofabed tempat isterinya membaringkan diri sambil berfikir. Melihat
suaminya melihat televisi tanpa ada komentar ataupun ekspresi, nyonya Jasmine
menengok raut wajah suaminya. Dengan melepaskan satu nafas berat dia menepuk
pundak sang suami
“Papa,
mikir apaan?.... kalau mikir Tata tidak akan ada titik temunya Pa”
“Bukan
itunya Ma, si Tata hari ini aneh banget……
Datang
dengan cowok, lalu memperlakukan dia tidak seperti biasanya dan tiba tiba
mukanya kesel gitu. Nggak ngomong, nggak basa basi langsung mlengos. Apa kita
melakukan kesalahan yang membuat dia kecewa”
“tadi
dia biasa saja kok Pa, datang dan manja tanpa perduli itu si Hendra merhatiin.
Malah mama yang grogi. Tadinya itu mama pikir si Al yang datang, mama lupa
kalau itu anak udah molor di kamar Tata karena kecapekan ngintilin mama
belanja”
“Kira
kira apa ya Ma yang membuat Tata jadi kucel gitu?”
“Nggak
tahu, tadi udah mama tanya jawabnya cuma Auh Ah gelap, bodoh… auh ah gelap dan
bodoh lagi! Memang tadi sempat mati lampu ya Pa? hahahaha”
Nyonya
Jasmine menggoda suaminya yang sedang penasaran pada putrinya.
“Ih
Mama ditanyain serius malah ngajak bercanda”
“Siapa
yang bercanda, si Tata jawabnya memang gitu kok”
Meski
memahami watak sang putri yang moody, tapi perubahan sikap Tata hanya dalam
hitungan menit tanpa sebab pasti membuat sang Papa bertanya tanya.
“Udahlah
Pa, bukan itu yang penting, tapi yang paling penting adalah si Hendra itu
apanya Tata, kenal dimana dan statusnya apa?”
Nyonya
Jasmine kembali mengusik penasaran yang ia rasakan mencoba menyeret suaminya
untuk ikut memikirkan kemungkinan yang ada di kepalanya. Pak Darmawan kini yang
bingung menjawab pertanyaan isterinya
“Seingat
mama, yang dekat dengan Tata itu ada si Toni, Bram dan Putra. Menurut Zaldy…
Tony sekarang di Ausy. Kalau Bram si Tatanya masih jaga jarak. Putra itu temen
Tata saat pemotretan. Dan nama Hendra itu nggak pernah disebut sama Zaldy, Pa”
“Pertanyaan
Papa, dari sekian banyak cowok yang dekat dengan anak kita, pacarnya itu yang
mana?”
“Tony”
“Lah
katanya di Ausy”
“Putus”
Pak
Darmawan melotot kaget dengan jawaban ringan isterinya, tapi kemudian tiba tiba
dia tertawa lepas sehingga isterinya bingung
“Si
Tata itu mewarisi gen emaknya…. Hahahahhaha”
“Maksud
papa???!!”
Pak
Darmawan membungkam mulutnya merasa telah salah mengucapkan sesuatu
“Mama
nggak pernah ya punya banyak cowok macam itu”
“Iya
nggak pernah, tapi selalu di kelilingi cowok….. tapi apa Mama nggak hawatir tu
sama Tata kalau dia seperti itu”
Nyonya
Jasmine menggelengkan kepalanya santai
“Mama
percaya sama Tata, toh sejauh ini laporan mbak Martha ataupun Al selalu
positif. Dia nggak pernah pulang melewati batas jam malam, nggak pernah dugem,
masih ga doyan ngeMall, nilainya masih
oke dan yang terpenting kata Al, si Tata itu punya police line dalam dirinya”
“Police
line?? Apaan itu Ma?”
“Ah
Papa kepo…. Udah ah mama ngantuk mau tidur. Kalau Papa masih penasaran nanti
kita bahas dalam mimpi ya”
Wanita
cantik setengah baya itu berdiri dari posisinya dan menyerahkan remote control
pada sang suami dengan senyum menggoda sang suami yang masih sedikit dibuat
bingung oleh penjelasan yang ia berikan.
---
Malam
semakin larut, Tata masih berguling guling di atas kasurnya. Sayup sayup lagu
Geisha yang ia putar tidak mampu membawanya masuk dalam alam tidur. Pikirannya
masih sedikit terganggu oleh kata kata Raka. Wajah Hendra terus muncul dalam
pikirannya, bukan karena ia merindukan pemuda itu, tapi ia merasa terganggu
oleh pendapat Raka tentang dirinya dan ia merasa bingung harus bersikap seperti
apa pada Hendra. Ia sebenarnya sadar jika selama ini Hendra menunggu jawaban
darinya, tapi ia selalu menghindar. Tata merasa dirinya tidak melakukan
kesalahan apapun yang membuat dirinya dilarang untuk dekat dengan Hendra. Kini
dia bukan lagi pacar seseorang yang mengharuskannya menolak seorang cowok yang
berkeinginan mendekatinya.
‘gue bebas mau dekat
dengan siapapun, status gue juga bukan pacar cowok manapun. Jomblo…. Ya, gue
jomblo…. Gue nggak salah kok, kenapa gue jadi sepusing ini? Apa gue salah kalau
harus memberikan kesempatan sama Hendra. Don’t look something by the cover’
“Huft….
Haaaah bodoh ah”
Tata
melepaskan kekesalannya dalam hembusan nafas berat dan dengan cepat ia menutup seluruh
badannya dengan Bed Cover berharap hari segera berganti dan membawa pergi
segala kekesalan yang ada di hatinya. Belum berhasil, hanya dalam hitungan
detik makhluk ajaib itu terbangun kembali dan terduduk di ranjangnya. Kini mata
indahnya yang mulai memerah karena lelah itu terpaku pada satu titik, iphone.
Ponsel pintar yang tergeletak di meja sisi ranjangnya itu diam membisu. Sudah
semingguan ini ponsel yang ia pegang jadi sedikit pendiam
‘Apa itu sumber
masalahnya? Kalau memang itu, kenapa dia yang protes dan bukan si Al. toh ini
bukan pertama kalinya. Apa Al ngeluh ya? Kalau ngeluh harusnya dia bilang saat
mengirim kembali pesan pesan buat gue’
Ia
terus bermain dengan pikirannya sementara matanya tidak lepas dari benda
canggih itu. Belum menemukan jawaban dari apa yang ia pikirkan, ia mengambil
benda itu lalu berjalan menuju meja belajarnya (tentunya bukan untuk belajar
dong). Ia menoleh pada jam dinding yang berdetak di dinding kamar, ‘belum terlalu malam’ pikirnya.
Sent to me:
‘Lo udah molor belum?’
Tik
tok tik tok, jemari Tata bermain di atas meja menunggu jawaban. Kling satu pesan masuk dan segera ia
buka
From Me:
‘Kalau udah molor
artinya gue ga bisa balas pesen lo kan?’
To Me :
‘Lo bakik ke rumah gue
ya, gue tunggu cepetan!!’
From Me :
‘lo jangan gila Ta, gue
baru masuk rumah nih?’
To Me :
‘Buruan gue tunggu di
depan, ga pake lama’
Tata
tidak lagi menunggu jawaban dari Zaldy, dia turun dari ranjangnya dan menyamber
Cadigan yang ada di sandaran kursi belajarnya dan berhambur keluar kamar.
Menuruni
tangga tampak ada sang Mama yang sedang megambil air minum di dapur, langkah
kakinya hati hati berharap mama tidak akan menengok ke belakang
“Mau
kemana Ta?”
Harapan
Tata sia sia, ia yang sedang males untuk berdebat kini mau tidak mau harus
menjawab pertanyaan mamanya
“Ke
depan Ma sebentar”
Sang
Mama melongok ke arah jam dinding yang ada di ruang tamu, masih dengan membawa
gelas di tangan, nyonya Jasmine melangkah mendekati Tata, tapi Tata lebih cepat
mengjndar sehingga pembicaraan tidak dapat dilakukan dengan benar
“Ta….
Udah malam sayang”
“Cuma
ke teras kok Ma, bentar doang… Tata sesak dalam kamar”
‘sesak’ kening Nyonya Jasmine berkerut,
kebiasaan Tata adalah mengurung diri dalam kamar dan membuat kegaduhan dari
sana tanpa pernah mengijinkan orang lain masuk mencampuri. Rasanya kata sesak
bukanlah kata yang tepat menggambarkan keadaan suasana hati putrinya kini,
namun wanita itu tidak banyak berkomentar melarang
“Jangan
terlalu lama, udah hampir tengah malam Ta”
Tata
melenggang tanpa suara keluar rumah.
---
Zaldy
meletakkan kembali potongan apel yang baru ia ambil dari dalam lemari es
bersiap meluncur ke rumah Tata sesuai dengan apa yang Tata inginkan, entahlah
apapun kata Tata meskipun ia enggan menggerakkan badan tapi ia masih tetap
bergegas walaupun ada omelan kecil tak jelas di dengarkan keluar dari mulutnya.
“Mas,
pergi bentar”
Pamitnya
pada Raka yang juga masih terjaga di ruang keluarga menikmati tayangan
televisi.
“Kemana,
dugem?!”
“Sejak
kapaaaan???!”
Raka
mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah jam tangan yang ia kenakan tanpa
bersuara
“Jangan
kolot deh Mas, kayak perawan aja”
“Al…..”
“Iya
iya…. Ini majikan manggil. Bentar doang kok Mas, selesai juga langsung balik”
“Tata?”
Raka
berdiri dari duduknya lalu melangkah mendekati Zaldy. Kunci motor yang ada di
genggaman Al ia ambil dengan cepat membuat Zaldy keheranan. Dia paham watak
kakaknya yang tegas, tapi dia tidak pernah melarangnya pergi sejauh ini asalkan
alasannya memang masuk akal, apalagi untuk alasan Tata. Ini adalah larangan pertama
yang ia terima. Al tidak berani membantah, ia pikir apa yang Tata inginkan
memang sedikit tidak masuk akal
“Jangan
buat gadis egois itu makin egois dengan terus menuruti kemauannya, tidur sana”
Zaldy
melangkah dengan mengangkat bahunya, ia sadar posisinya kini akan menjadi
sasaran empuk bagi amarah kedua belah pihak. Amarah Tata ataupun kakaknya,
Raka.
“Al,
nggak mau ribut ya Mas… ini, pasti dia akan terus neror Al”
Al
meletakkan Handphone nya diatas meja, Raka hanya diam tak menimpali. Ia
meletakkan kembali kunci motor yang ia ambil dari sang adik dan kemudian
kembali ke posisinya di depan tivi.
Sedikit
terganggu oleh pikirannya sendiri, Raka mengambil HP Zaldy yang tergeletak
diatas meja. Ia membuka pesan yang ada di sana. Dengan menopang dagunya ia berfikir
gadis itu kini sedang menunggu kedatangan Zaldy. Raka ragu tapi kemudian dia
menulis pesan pada Tata
‘Zaldy nggak akan
datang, nggak usah ditunggu dan tidurlah. Udah malam’
Lama
menunggu balasan, Raka sedikit cemas menduga Tata tidak membawa ponselnya dan
masih menunggu di depan rumah
‘Belajarlah untuk
menahan diri, dewasa’
‘OKAY!!!’
Jawaban
singkat itu cukup membuat Raka bernafas lega, ia tahu bagaimana ekspresi gadis
itu saat menjawab pesan yang ia kirimkan. Senyum penuh ketenangan mengembang di
bibirnya, kini ia bisa menghabiskan waktunya dengan tenang hingga kantuk benar
benar datang menyapanya.
Malam
semakin larut, suasana rumah juga terasa sangatlah lengang. Raka belum bisa
memejamkan matanya, raganya yang terlalu capek membuatnya susah tidur. Banyak
hal yang ia upayakan untuk bisa benar benar mengistirahatkan ragawinya, mulai
dari membaca, mendengarkan music sampai mengisi perutnya, semuanya gagal. Ia
masih tetap terjaga hingga dini hari tiba. Dalam kegelisahan tiba tiba HP Zaldy
(handphone Tata) yang ia bawa bersuara, suara HP yang berisik membuatnya cepat
bergerak untuk membuatnya diam, tapi belum lagi panggilan itu terjawab olehnya
HP kembali diam. Keadaan ini berlangsung beberapa kali hingga membuat dia
sedikit emosi. Ia menyandarkan dirinya di tepi rangjang dan menghidupkan
kembali lampu kamar karena ia penasaran dengan si usil yang menghubungi nomor
gadis itu di jam jam tidak wajar. ‘X’
hanya itu yang dapat menjelaskan rasa penasaran Raka.
Kling
satu pesan masuk saat Raka mencoba tidak memusingkan tentang siapa X, ia membuka pesan itu tanpa berpikir
panjang.
‘Jangan sok cantik
hanya karena dia mengejar lo, gue tidak akan pernah diam’
Pesan
singkat itu sangat aneh, rasa penasaran Raka membuatnya membuka riwayat pesan
dari nomor aneh itu, rupanya sudah banyak pesan pesan senada yang dikirimkan
oleh nomor itu di jam jam dini hari.
‘Jika memang gue tidak
lebih cantik dari pada Lo, so kenapa lo pusing dengan keberadaan gue. Gue nggak
kenal cowok yang lo maksud. Gue nggak pernah minta cowok lo untuk suka sama
gue. Jika lo memang mencintai dia, kenapa lo nggak percaya sama dia. Lebih
tepat jika lo tanya cowok lo dari pada neror gue. Kenal juga nggak. Cinta itu
bukan mengendalikan dan menguasi tapi mengerti dan percaya. Dan lo perlu catet
dengan garis besar di hati lo, Violetta nggak butuh tukang selingkuh! bilang
itu sama cowok lo jika memang dia suka ma gue seperti yang lo bilang dan
hawatirin itu’
‘Orang yang tidak
cantik ini mau tidur. So, good night’
Raka
tersenyum, dari sekian deretan pesan yang masuk rupanya hanya ada tiga balasan
yang diberikan, dia tahu kecuekan Tata. Begitu banyak cacian dan makian yang
dilontarkan rupanya dia hanya mengabaikan tanpa balas. Satu balasan panjang ia
berikan dan satu balasan pendek sudah cukup dan satu balasan yang kasar dengan
kata kata yang ia pikir itu adalah kerjaan adiknya
‘Lo nggak lihat jam
berapa sekarang, Lo bangsa kunti ya? Sono nyari sate biar bisa masuk kubur
lagi’
Dari
pesan pesan itu Raka cukup penasaran dengan seseorang yang disebut sebagai Bintang
lapangan, siapa dia kenapa tidak dijelaskan secara detail. Apakah sang peneror
hanya mencari celah untuk bisa dekat dengan Tata, ataukah dia seseorang yang
tidak ingin jati dirinya terungkap, lalu apa tujuannya meneror Tata jika dia
tidak ingin di ketahui. Shutdown
akhirnya pilihan itu yang Raka ambil untuk menjamin ketengan jam istirahatnya,
ia tidak terlalu memusingkan isi ponsel Tata, ia sangat mengenal siapa Tata.
Beberapa nama cowok berjajar dalam id line yang masuk, tapi sedikitpun tidak
mengusik rasa keingin tahuannya. Ia matikan kembali lampu kamarnya dan mencoba
untuk memejamkan mata, yang ia butuhkan bukanlah jawaban atas rasa penasarannya
melainkan istirahat.
---
Masih
cukup pagi untuk memulai hari, embun yang menempel pada dedaunan juga belum
terkikis. Tata mematikan mesin mobilnya dan dengan langkah cepat memasuki rumah
bercat putih itu dengan wajah cemberut. Matanya masih sedikit sembab karena
kurang tidur, tanpa banyak kata Tata
langsung naik ke lantai dua. Kesan pertama yang Tata dapatkan di rumah itu
adalah sepi. Di ruang Keluarga Tata sempat menyapa Pak Arifin namun dia tidak
sempat berbasa basi walau hanya menjawab pertanyaan pria paruh baya itu. Ia hanya
menggeleng dan mengangguk saja lantas meninggalkannya dalam rasa bingung. Kamar
itu masih tertutup rapat yang menandakan pemiliknya belum memulai aktivitas,
Tata menarik nafas dalam
Tok tok tok
“Aaaaaal..... bangun woi, bukain pintunya!!”
Suaranya cukup kencang hingga bisa terdengar oleh nyonya
Martha yang ada di dapur. Wanita itu menggeleng dengan mulutnya yang berdecak
tidak habis fikir dengan segala kejutan yang selalu Tata bawa tiap kali
bertandang ke kediaman keluarganya, namun ia membiarkan.
“Zaldy...... bukain!!”
Tidak ada sahutan, wajah Tata mulai memerah menahan emosi
yang ia pendam. Gadis itu membalikkan badan. Tepat di sebelah kamar Zaldy
adalah kamar Raka. Tata menggelengkan kepalanya kencang lalu kembali mengetuk
pintu kamar Zaldy
“Aaaaaal.... ini Tata, bukain buruaaan!!!”
Tata benar benar tidak memperdulikan dimana ia saat ini,
rumah keluarga Arifin sudah seperti rumahnya sendiri. Hampir 90% waktu yang ia
miliki dihabiskan disana, segala bentuk rasa sungkan dan canggung tidak ia
miliki lagi. Bukan keluarga namun inilah rumah pertamanya. Tata medengus kesal,
tidak ada tanda tanda kehidupan dari dalam kamar. Ia kembali menuruni tangga.
“Tante, Zaldy kemana?”
Dengan nada manja menahan air mata ia merengek pada
nyonya Martha
“Aduh aduh ada apa ini..... sayang kok nangis? Tengkar sama
Zaldy”
Tata menggeleng, namun ia enggan untuk memberikan
penjelasan.
“Buka aja pintunya, pasti nggak dikunci kok. Al jarang
kunci pintu kamar”
“Nggak bisa, pintunya dikunciiii!”
Rengeknya lagi dengan suara parau
“Ada apaan sih Ta, pintu kamar Al kebuka kok”
Belum sempet nyonya Martha menenangkan Tata, Raka dengan
handuk kecilnya muncul penuh keheranan. Keringat yang menetes dipelipis dan
ujung rambutnya seakan tiba tiba mengering melihat wajah Tata yang muram, ia
mengangkat alisnya dan berpandangan dengan sang Mama namun nyonya Martha juga
tidak bisa memberikan jawaban penyebab sikap dan ekspresi Tata pagi ini. Tata
bergegas naik kembali menuju kamar Zaldy tanpa merespon pertanyaan Raka bahkan
melirik ke arah Raka seakan enggan untuk ia lakukan
“Memang Zaldy belum bangun Ka”
Tanya nyonya Martha pada putra sulungnya sambil
melanjutkan kembali rutinitas paginya
“Udah kok Ma”
jawab Raka singkat sambil mengambil satu jajanan yang
tersedia di atas piring, ia cuek mengacuhkan kembali keanehan Tata dan mulai
membaca koran pagi sambil mengunyah makanannya di meja makan.
“Pintunya di kunci?”
“Nggak juga, Raka buka bisa kok. Si Al lagi mandi kali”
Jawabnya lagi.
“Udah Ma, Tata lagi nggak fokus saja jadinya aneh gitu. Bentar
lagi juga ceria”
“Aneh aja Ka, nggak biasanya dia seperti itu. Seburuk apapun
suasana hatinya, dia nggak pernah nangis lo Ka?”
“Nangis??”
Raka meletakkan koran yang ia pegang dan menatap sang
mama, nyonya Martha mengangguk namun kemudian mengangkat bahunya
‘apakah
karena.......’
“Mas, HP Tata mana??”
Belum sempat Raka memikirkan pemicu kekesalan Tata, Zaldy
muncul bertelanjang dada dan suara yang sedikit gusar
“Di Kamar”
“Kacau tuh cewek”
Zaldy mengacak rambutnya yang basah dengan gelengan
kepala
“Apa?”
Spontan tanya Raka singkat, tapi tanpa memberikan jawaban
apapun Zaldy segera berlari meninggalkan Mama dan kakaknya yang masih bertanya
tanya menuju kamar sang kakak. Raka menggeser kursinya sededar ingin memudahkan
badannya untuk melihat situasi macam apa yang kini ada di rumahnya, ada apa
dengan Tata?
Masih dengan wajah tak bercahaya, Tata mendekati meja
makan. Raka yang masih membisu membaca situasi, Nyonya Martha yang sibuk dengan
peralatan dapurnya sejenak terbengong
“Tata pamit Tan”
Tata mencium pipi wanita paruh baya itu lalu berjalan ke
ruang keluaga dan melakukan hal yang sama pada Pak Arifin. Semua ia lalukan
tanpa ekspresi sama sekali bahkan dia melewati Raka begitu saja seakan pemuda
itu tidak nampak disana. Tata menghilang dibalik pintu dan hanya meninggalkan
derungan mesin mobilnya dengan sejuta tanda tanya yang ada di benak keluarga
Arifin.
Dont Miss it :
Part 3 : PLAY GIRL JATUH CINTA : Amazing
Langganan:
Postingan (Atom)

