Kamis, 14 Juli 2016

PLAY GIRL JATUH CINTA : Cuek


PLAY GIRL JATUH CINTA

Part 2. Cuek

Mentari sudah beranjak pulang, tapi hawa Jakarta masih cukup kuat menyedot keringat yang bersembunyi di dalam tubuh. Sebuah sedan sporty hitam bernopol B 374 TA berhenti di halaman rumah keluarga Arifin. Lumayan lama pengemudinya tidak kunjung keluar, nyonya Martha yang tengah menikmati teh melatinya sambil menikmati suasana sore yang bermaksud untuk menyambut kedatangan anggota keluarganya tertegun sesaat, ia tidak mengenali mobil yang kini ada di pekarangan rumahnya begitupun dengan pengemudinya, kaca mobil yang belum juga terbuka serta penglihatan yang tidak lagi jelas membuat wanita paruh baya itu hanya menunggu sambil terus melihat kearah yang sama. Klek handle pintu terbuka, sandal teplek berwarna putih (sandal jepit) melekat di kaki putih yang keluar dari dalam mobil. Samar samar dari kejauhan itu adalah seorang wanita berambut panjang dengan kaca mata hitam, tapi kenapa dengan sandal jepit? Nyonya Martha sedikit menyunggingkan senyumnya karena ia cukup geli dengan penglihatannya sendiri. Sangat kontras, pikirnya. Belum lagi jelas terlihat siapa wanita itu, mobil CRV putih memasuki halaman rumah, kali ini sudah pasti bahwasannya itu adalah putra sulungnya yang baru pulang kerja. Ya Raka selalu pulang cepat beberapa hari ini karena merasa badannya kurang sehat. Konsentrasi Nyonya Martha kini beralih pada sang putra, ia tersenyum menyambut pria muda ganteng itu menghampirinya memberikan ciuman salam.
“Lagi ngapain Ma?”
“Nggak ada, cuma santai saja.. bagaimana pekerjaanmu?”
“Alhamdulillah semuanya lancar…. Hmm, itu siapa Ma?”
Rupanya Raka pun ikut penasaran dengan pemilik mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Sekilas dia melewatinya saat memasuki pelataran rumah, tapi karena sang tamu sedang sibuk di dalam mobil untuk mengambil barang yang ada di jok belakang membuat Raka tidak bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas, yang dia tahu bahwa orang itu seorang wanita berambut panjang dengan body yang tidak terlalu besar. Bisa disimpulkan bahwa itu seorang wanita muda. Nyonya Martha menggandeng tangan putranya dan melangkah memasuki rumah masih dengan berbincang kecil sekedar berbagi tentang hari yang telah mereka lalui dan membuang rasa penasarannya akan sosok yang berhenti di halaman rumahnya
“Sore Tanteeeee….”
Mendengar sapaan dari sumber suara yang tidak asing membuat keduanya menghentikan langkah, baik Nyonya Martha maupun Raka menengok kembali ke belakang punggung mereka. Nyonya Martha mengernyitkan dahinya sedikit heran dengan apa yang ia lihat sementara Raka hanya memasang ekspresi datar. Violetta berjalan dengan beberapa kantong belanjaan ditangannya. Entahlah setan apa yang merasuki gadis itu sehingga dia dengan belanjaan yang begitu banyak ke rumah keluarga Arifin
“Astaga Tataaa…. Dari tadi tante nggak bisa ngenalin kalau itu kamu”
Sapa ramah ibunda Raka dan Zaldy pada gadis cantik nan ceria itu, seperti biasanya ia menyambut Tata dengan keramahan yang luar biasa seperti seorang Mama menyambut kedatangan putri tercintanya.
“Tata makin cantik ya Tante?”
Canda Tata begitu mereka sudah saling berhadapan, mendengar itu nyonya Martha hanya tersenyum mengangguk dan membelai lembut rambut gadis itu penuh kasih sayang. Raka melenggang tanpa komentar dengan sedikit pandangan dingin nan khas yang selalu ia tunjukkan tiap kali Tata merayu mamanya
“Apa ini sayang, kok banyak amat? Kamu habis borong ya?”
Nyonya Martha yang telah menerima beberapa paper bag dari Tata melongok sedikit ke dalam isi tas yang Tata berikan.
“Ih males Tan kalau harus nge-Mall. Itu oleh oleh Mama dari Solo buat Tante dan semuanya yang ada disini”
“Waduuuh mamamu repot amat bawain kami oleh oleh. Kirain tadi anak tante yang cantik ini mau belajar masak”
“Tadinya mama mau ikut kesini Tan, tapi karena tante Rose belum balik jadi nemenim tante dulu”
“Oh ga apa apa, bilang sama Mama, terima kasih”
Nyonya Martha mengeluarkan isi Paper Bag yang ia bawa, sebuah kain batik dengan motif indah ia hentangkan dan tempelkan dibadannya dengan senyum mengembang
“Bagus Ta… tante suka. Tapi ini banyak banget, apa aja Ta?”
“Nggak tahu Tan, buka aja semuanya. Paling juga makanan atau apalah khas Solo. Mama kan doyan kuliner, pasti salah satunya isi makananlah Tan”
Nyonya Martha sibuk mengeluarkan barang barang yang Tata kasih, ia memilih dan memilah barang barang harus diantarkan ke ruang yang mana yang ada di rumahnya. Sementara itu Tata sudah berkelana di dalam rumah. Masuk dalam dapur, menggeledah meja makan dan menjarahnya lalu naik ke lantai atas mencari mangsa untuk diusilin.
Gadis yang menghabiskan hampir 90% waktu di rumah ini sudah tidak canggung lagi untuk menerobos masuk ke berbagai area yang ada di dalam rumah, tak terkecuali kamar kamar kedua cowok putra sang pemilik rumah.
”Maaaaa, mobil siapa Ma di depan itu”
Suara Zaldy terdengar oleh gendang telinga Tata, gadis yang sudah ada di lantai dua dan siap untuk menerobos kamar Zaldy itupun menghentikan niatnya, ia berlari kecil menuruni tangga Plak plok plak plok terdengar sangat berisik.
“Mobil gue… bagus kan Al?”
Tata langsung menyergap Zaldy yang terduduk di atas sofa dekat sang Mama yang tengah sibuk dengan hadiah hadiah dari mama Tata
“Astagaaaa, gue capek Ta. Lo feminine dikit kek di depan gue. Belajar jaim di depan cowok”
Tata tidak memperdulikan protes dari Zaldy, dia terus merapatkan dirinya duduk bersila diatas sofa menghadap Zaldy
“Ada apaan sih? Sikap lo aneh tau nggak?”
“Nggak ada apa apa”
“Hadeeew, kenapa nasibku sial banget di templokin Lo mulu ya”
“Yakin sial mengenal gue?”
Tata memasang wajah termanis yang ia miliki dan terus memandang Zaldy yang bersandar lelah di atas sofa. Merasa tidak ada respon dari Zaldy, secepat kilat tangan gadis itu beraksi. Tas yang ada dipangkuan Zaldy disambarnya, ia membuka tiap bagian yang ada disana. Zaldy memandang dengan heran tanpa ada larangan ataupun protes yang ia lontarkan. Nyonya Martha yang semula sibuk dengan tas oleh oleh, kini pun memperhatikan Tata yang sibuk merazia tas putra bungsunya. Tak terkecuali Raka yang baru menuruni tangga, ia sempat menghentikan lankahnya karena suara berisik yang Tata timbulkan. Apa yang ia cari tak dapat ia temukan, ia beralih pada kemeja yang Zaldy kenakan
“Lo apa apaan sih Ta? Iiish…. Geli tau”
Zaldy menghempaskan tangan Tata beberapa kali tapi Tata bersikeras untuk menemukan apa yang ia cari
“Diam bentar ah”
Tata menatap Zaldy dengan perintahnya, mata nyonya Martha dan Raka terus tertuju pada tingkah aneh gadis itu
“Diem ya, kalau lo bergerak mulu ntar gue sentil lo”
Tata mengarahkan telunjukkan ke area sensitive Zaldy
Uhuk Raka yang tengah berjalan dengan segelas air putih di tangannya tersedak saat mendengar dan melihat apa yang Tata lakukan, begitupun dengan nyonya Martha. Wanita paruh baya itu melotot tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Wajah Zaldy memerah, ia mungkin bisa membaca apa yang dipikirkan oleh ibundanya dan kakaknya, tapi Tata tidak mmberikan reaksi apapun. Dengan cueknya ia bermaksud untuk merogoh kantong depan celana Zaldy
“Wait….. wait… wait”
Dalam satu kali gerakan, Zaldy berdiri menghindar
“Tunggu, tunggu.. lo jangan gila ya Ta”
“Sini nggak?”
Tata dengan wajah memerintahnya masih keras kepala, Raka menggeleng. Gadis gila, bisiknya dalam hati. Sekilas apa yang ia alami beberapa hari yang lalu berkelebatan di pikirannya, ia mulai memikirkan beberapa kemungkinan gila yang terjadi antara adiknya dengan Tata saat mereka bersama. Meskipun ia sadar bahwa Zaldy menganggap Tata sebagai saudara perempuan yang harus ia lindungi, tapi sebagai laki laki normal Zaldy mungkin juga tidak bisa mengontrol dirinya saat dihadapkan pada situasi situasi tertentu apalagi kegilaan Tata sulit untuk diprediksi. Ia menggelengkan kepalanya mencoba menyingkirkan pikiran pikiran tidak warasnya.
Tata masih mengejar Zaldy dengan ketidakjelasannya, sampai akhirnya…..
Strumming my pain with his fingers
Singing my life with his words
Killing me sofly with his song……♫♪♫♫♪♪♪♫
Keduanya terdiam, untuk beberapa saat adegan kejar kejaran ala Tom and Jerry terhenti. Mata keduanya berpandangan, ada senyum dibibir Tata yang tak dimengerti oleh Zaldy. Tanpa menunggu banyak waktu terbuang Tata berlari ke arah sumber suara yang berada di meja kecil dekat pintu garasi, Meja yang biasa digunakan keluarga Arifin sebagai meja mereka menyimpan kunci mobil (enak bener ya kalau ada maling nggak usah susah nyari hehehe)
“Astagaaaaa…… dari tadi lo nyari HP gue?”
Zaldy masih termangu di tempatnya berdiri membiarkan Tata mengambil ponselnya yang berdering. Ia bahkan tidak memiliki kehawatiran saat Tata mengangkat teleponnya.
“Oke, gue sampein ya”
Pungkas Tata sebelum dia menutup telepon. Dengan wajah yang masih tersenyum penuh kemenangan, dia kembali pada nyonya Martha. Kegaduhan dan sikap kekanak kanakan yang baru saja dia lakukan usai sudah. Nafasnya sedikit terengah karena berlari larian dan mencoba mengalahkan kekuatan Zaldy hanya untuk menemukan hal yang tidak pernah dibawa oleh sahabatnya itu. Bugh satu bantalan kursi mendarat tepat diwajah Tata, Zaldy mengikutinya terduduk lemas karena kecapekan di hamparan karpet yang ada tak jauh dari posisi Tata sementara nyonya Martha dan Raka yang menjadi penonton kini hanya bisa tersenyum tanpa mengeluarkan komentar apapun selain geli.
“Ayo Al sana mandi dulu. Bau tau…. Dari kampus seharian belum lagi lari larian barusan, Mama gerah lihatnya”
“Bentar dulu Ma, masih panas hawa badan Al”
Nyonya Martha berdiri dengan membawa paper bag yang Tata bawakan tadi, ia tersenyum pada Tata sebagai ucapan terima kasihnya.
“Heiii…. Yaaaa yaaa yaaa”
Tiba tiba Raka setengah berteriak meletakkan majalah yang ada ditangannya dan memandang Tata. Tata memonyongkan bibirnya ketus dengan tatapan mata kesal
“Hadeeewww pelit amat, air putih doang”
Protesnya pada tatapan Raka yang mengintimidasinya, namun ia tetap menenggak isi gelas yang sudah ia pegang Glek hingga tandas tak bersisa.
“Huft, kapan Lo akan dewasa Ta?”
“Idiiih apa hubungannya minum air putih sama kedewasaan?”
“Bukan air putihnya yang menjadi soal, tapi sikap Lo yang bertindak seenak hatimu itu yang perlu di ruwat”
“Halaah bilang aja pelit Mas, atauuuu nggak mau berbagi gelas. Hahahahahhaa takut jatuh cinta sama gue?”
“Bukan itu Ta…. Huft ngomong sama Lo kayak ngomong ma tembok ya, nggak pernah bener”
“Bahahahahahahaaaa”
Zaldy tertawa terbahak bahak melihat kekesalan kakaknya yang terus dibantah oleh Tata, cowok itu dengan cuek membuka lebar lebar tawanya sambil berbaring melantai
“Hust hust hust… ini kenapa sih masih ribut aja, Al buruan mandi sudah adzan maghrib tuh. Raka… ayo, buruan Mas”
Nyonya Martha menghentikan gelak tawa Zaldy dengan sabetan handuk memerintahkannya untuk segera mandi. Raka berdiri bersiap memimpin sholat maghrib seperti perintah sang bunda.
---
Langit Jakarta sudah mulai gelap, adzan maghrib juga sudah lama berlalu, Zaldy dan Raka berbincang di teras samping rumah mereka menghadap taman nang teduh hasil ketekunan sang mama merawat bunga bunga cantik yang ada disana, gemericik suara air mancur yang ada di kolam ikan kecil di tengah taman menambah kesan keasrian di tengah ibu kota. Tata menghampiri keduanya dengan membawa pisang goring yang nyonya Martha bikin sebagai kudapan. Belum lagi Tata meletakkan piring yang ia bawa sorotan lampu menyilaukan matanya sehingga ia sedikit membuang muka melindungi matanya. Sedan hitam memasuki garasi rumah.
“Apa itu Ta, bikinanmu kah?”
“Iiih Om bertanya apa ngledek sih?”
Pak Arifin yang baru pulang dari kantor memasuki rumah dengan sapaan yang selalu membuat Tata sedikit nyengir karena malu. Pak Arifin mengacak rambut Tata lembut lengkap dengan senyumnya, nyonya Martha yang menyambut kedatangan suaminya ikut tersenyum lalu keduanya memasuki rumah meninggalkan ketiga anak muda itu di teras samping. Setelah bebarapa saat berlalu, Tata melirik jam yang melingkar di tangannya, Zaldy yang melihat itu langsung berkomentar
“Mau pulang lo?”
Tata tak menjawab tapi hanya memberikan senyumnya yang setengah menyengir mengibaskan rambut meninggalkan Zaldy
“Woooi tunggu, telepon tadi sore dari siapa?”
“Nogi” jawab Tata berteriak dari dalam rumah
“Dia bilang apa?” kembali Zaldy bertanya dengan teriakan yang sama
“Katanya dia batal latihan”
“Cuma itu?? Lainnya??”
“Kagak ada!!”
“Terus HP gue mana?? Ngapain lo tahan HP gue?”
“Taaaaaaaa….”
Tak ada jawaban dari Tata, Zaldy berteriak lebih kencang membuat Raka menutup kupingnya dan melotot ke arah Zaldy. Dari Kaca yang memisahkan ruang keluarga dan taman samping nampak Tata tengah berbincang dengan orang tua Zaldy. Dari penampilannya yang sudah lengkap dengan tas slempangnya, sepertinya gadis itu hendak pamit dan benar tak lama dari itu Tata kembali menghampiri dua bersaudara itu dengan melemparkan sebuah ponsel ke arah Zaldy
“Salah!”
“Lo pake HP gue, sementara gua pake HP lo, okay”
Tata memainkan alis matanya dengan tersenyum genit ke arah Zaldy lengkap dengan tangan yang menandakan persetujuan. Tanpa menunggu jawaban, kakinya sudah melangkah lagi
“Haiii… Lo mau kemana?”
“Ada deh, kepo deh lo!”
“Lo ada kencan lagi….. siapa Ta?”
“Ribet deh ah…. Dah ah gue pergi dulu, bye bye!.... Tata pergi Om, Tante… Assalamualaikum” teriak gadis itu melenggang melewati ruang tamu.
“Hati hati Ta, jangan pulang malam malam”
Raka menyaut singkat memandang punggung Tata yang mulai menjauh, lambaian tangan Tata mengiyakan pesan Raka sementara Zaldy hanya menggeleng dengan muka kecutnya.

Sepeninggalan Tata rumah kembali sepi, suara ceria Tata (lebih tepatnya gaduh) seakan membawa segala keceriaan yang ada, kini yang tersisa di dalam rumah itu adalah suasana kelelahan dari masing masing penghuninya, namun tetap hangat karena kebersamaan yang tercipta. Dua bersaudara yang terpaut beberapa tahun perbedaan usia itu kini sedang asyik dengan laptop masing masing  di ruang keluarga dengan perbincangan ringan semantara orang tua mereka tengah berbincang diatas sofa yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
“Al, lo sering tuker HP gitu?”
Raka melontarkan pertanyaannya pada sang adik mencoba menjawab keingintahuannya
“Lumayan Mas, emang kenapa?”
“Ya nggak apa sih, tapi apa privacy Lo nggak terganggu?”
“Yealaah Mas, Tata ini…. Paling juga dia lagi mengindari seseorang”
“Menghindari? Maksud lo?”
Raka semakin penasaran dengan jawaban jawaban Zaldy
“Ada dua kemungkinan Mas kalau Tata sampai minta tukeran HP”
“Dua??? Kemungkinan apa itu?”
“Yang pertama dia lagi menghindari cowok yang ngejar dia atau yang baru dia putusin dan yang kedua menghindari cewek yang cowoknya lagi kepincut ma Tata”
Zaldy memberikan jawabannya tanpa ekspresi sama sekali, Raka menghentikan tarian jemarinya sejenak mengernyitkan dahi mencerna jawaban Zaldy
“Nggak usah bingung Mas, kalau Mas Raka pikirin itu tindak tanduk Tata…. Al jamin pasti Mas Raka nggak akan bisa tidur. Hahahhhaaa”
“Bukannya dia baru putus ya…. Kalau nggak salah waktu itu lo marah karena harus ngantarin dia ke Bandara buat nemuin mantannya dengan urusan yang ga penting”
“Shit… nggak usah dibahas kenapa, sebel gue kalau inget itu”
Raka menahan tawanya mengingat curhatan sang adik yang dibuat jengkel oleh ulah Tata sampai harus meninggalkan kuliah dan mendapat makian dari pengguna jalan raya hanya demi sang mantan yang tidak pernah dianggap penting oleh Tata.
“Sebenarnya urusannya waktu itu apa, Al?”
Raka masih menggoda
“Auh Ah…. Nagih utang kali”
“Hhahahhaaa lagian kenapa nggak kamu pacarin sendiri sih, kan enak Lo udah apal ma tetek bengeknya Tata”
“Kalau Mas Raka mau, pacarin aja sendiri. Aku mah ogah!”
Zaldy mengetuk ngetukkan tangannya keatas meja dengan mulut komat kamitnya
“Dia cantik loh Al, otaknya juga cerdas. Anak tunggal dan orang tuanya baik. Memang kenapa?”
“Cantik mah cantik Mas, pinter juga gue akui dan saking pinternya itu bocah kadang susah dinalar. Pacaran sama dia sama aja bersedia mati muda”
Raka mengembangkan senyumnya mendengar jawaban Zaldy, jawaban Zaldy sudah memberikan ketenangan tersendiri buatnya karena adiknya masih mengangap Tata tidak lebih dari seseorang yang harus ia lindungi.
“Dan perlu Mas Raka catat ya…. Kalau dia udah ganti mobil seperti hari ini, artinya ada seseorang yang akan dia temui, entah itu gebetan atau hanya sekedar cowok asing yang dia tidak ingin jati dirinya diketahui”
“Jati diri??”
“hahahhaha iya, jati diri.... udah ah Mas, semakin Mas Raka penasaran maka Mas akan semakin pusing”

Sementara itu Tata yang sudah sampai ke tujuannya masih bertahan di dalam mobilnya. Ia sibuk dengan layar ponselnya, sesekali dia terlihat manggut manggut mengikuti irama musik yang ia mainkan. Pandangannya terbagi dalam dua fokus, layar ponsel dan suasanan sekitar yang ia datangi kini. Beberapa menit dia bertahan dengan suasana gelap dalam mobilnya, namun tidak bertahan lama. Ia mulai gerah dan tidak sabar, tepi jalan tempatnya memarkirkan mobil terlihat masih sepi. Beberapa kali ada yang melewatinya dengan pandangan yang aneh, aneh karena dialah satu satunya cewek yang berada di tempat yang gelap sendirian hanya ditemani nyamuk nyamuk (kayak cabe cabean nunggu mangsa.. hahahhaha). Tata mulai gelisah, lapangan terlihat mulai dipenuhi oleh penggila basket (dan penggila nonton cowok keren main basket) dia kembali memfokuskan pandangannya pada layar ponsel dengan muka keselnya
“Mana?? Gue dah disini, dianya ga nongol?”
“Ya mana gue tau Ta? Belum datang aja kali” jawab seseorang yang menerima telepon di seberang
“Gimana sih, katanya jadwal dia latihan disini dah jelas dan akurat?”
“Iya… memang dia rutin disana tiap hari rabu malam gini. Lo tungguin aja kenapa sih?”
“Gile aja lu, orang orang udah lihatin gue kayak cabe cabean tau? Ah info Lo akuratnya dari Pluto”
Tidak ada jawaban…. Tata terus ngomel nggak jelas
“Lo dapat info dari mana sih Ren? untung informan Lo nggak bilang dia latihan malam jum’hat, malaman dikit gue bisa disangka kuntilanak menteng cari sate”
“hahahahahha sabar neng, Lo aja kali datangnya kecepeten, Lo sama Al nggak?”
“Hah?? Ngapain gue datang sama Al, urusan bisa panjang kalau gue datang sama Al”
“Ya kali aja Lo bisa minta tolong dia untuk nanya ke anak anak yang latihan disana. Dia kan juga main basket, palingan adalah yang dia kenal disana”
“Hadeeew … ogah, gengsi gue kalau urusan gini musti minta bantuan Al. Lo aja sini deh temenin gue”
“Jangan gila Ta, gue dah bilang kalau lg di tempat tante gue. Jauh kali, belum macetnya”
“Aaaargh… udah ah gue mo pulang aja. Mau dia keren kek, kapten kek.. bodoh amat”
“Yakin lo nggak nyesel?”
“Kagak… gue hanya bakal nyesel kalau dia seganteng Capt Yoo”
“Ampun Tata, sabaran dikit kenapa. Udah ah tungguin bentar, ntar juga dia nongol”
Renita mulai tidak tahan oleh ocehan Tata yang tidak ada habisnya
“Iya kalau nongol, kalau kagak? Ah mending gue balik aja Ren, kelamaan disini gue bisa anemia disedotin mulu ma nyamuk”
“Yow is lah karepmu wae Ta, lagian Lo yang penasaran kok”
“Penasaran ma penantiannya kagak kuat gue kalau ntar nggak cocok”
“Ya udah sana pulang aja, nggak usah ngomel mulu. Pelukin Capt Yoo lo aja kalau nggak sabar”
“Bye, gue balik Ren”
Tata menutup teleponnya, dia masuk kembali kedalam mobilnya bersiap untuk meninggalkan taman.
‘Kalau tiba tiba Al nongol latihan disini juga urusan bisa ruwet. Mending gue cabut aja, mau dia secakep Pangeran Arab kek, bodoh amat’ gerutu Violetta sembari bersiap menginjakkan kakinya pada pedal gas dan melensat jauh menuju taman mimpinya yang sesungguhnya, kasur.



DON'T MISS IT :
Part 1. PLAY GIRL JATUH CINTA : Innocent

Jumat, 01 Juli 2016

PLAY GIRL JATUH CINTA : INNOCENT



PLAY GIRL JATUH CINTA

Part 1 : Innocent

Plak plak plak... derap kaki Tata berantakan, entah apa yang mengejar gadis itu. Tidak seperti biasanya dia terburu buru. Gadis tomboy yang selalu Easy Going itu seakan tengah mengejar sesuatu yang sangat penting. Sesampai di pelataran Perpustakaan langkah Tata sempat terhenti, dia mengedarakan pandangan ke sekitar, dia ingin memastikan kemana ia harus melangkahkan kakinya untuk menemukan yang ia cari. Lima detik ia terdiam, akhirnya ia kembali melangkahkan kakinya dengan pasti menuju satu titik. Satu gerombolan pria muda yang tengah bersedau gurau ia dekati tanpa ada keraguan.
Plok kunci mobil dengan gantungan kepala Hello Kitty ia jatuhkan tepat diatas tas salah satu cowok yang ada disana. Satu satunya sisi feminisme yang Tata miliki hanya terlihat dari Hello Kitty yang menggantung di kunci mobilnya. Diam sesaat, semua mata tertuju pada Tata yang masih berdiri di dekat mereka. Seorang cowok mendongakkan kepalanya dengan nafas berat seakan ia tahu bahwa itu adalah perintah yang tidak dapat ia hindari.
“Apaan Ta?”
Serunya kemudian dengan muka lesu
“Ayo buruan!” setengah memaksa Tata menggapai tangan cowok itu untuk segera berdiri. Suara cekikikan dari yang lainnya mengganggu pendengaran Tata. Gadis itu sedikit menekuk mukanya dan memicingkan memasang wajah sinis khas pengambekan menatap cowok cowok itu.
“Udah sana antar aja kenapa sih, Al. Pak Pir dilarang protes”
celetuk salah satu diantaranya
Tata tidak bersuara, dia hanya menatap Zaldy dengan pandangan tajam. Ia tak ingin di bantah dan juga tidak ingin beradu argumen di depan umum. Zaldy mengangkat rangselnya lemas, pipinya mengembung menahan nafas dan rasa kesalnya. Tak mungkin bagi dirinya menolak permintaan Tata.
“TA ya Bro...”
Zaldy menepuk pundak temannya memberikan pesan untuk absensinya melewatkan perkuliahan karena paksaan Tata.
“Okaaay, beres. Yang penting kopinya ya”
Jawab temennya dengan bercanda, Zaldy hanya bisa nyengir dan melambaikan tangannya
“Ta, lain kali kalau mau ngajak kemana-mana bilang dulu kek. Jangan main paksa aja”
Zaldy sedikit memprotes Tata saat mereka sudah ada di dalam mobil. Tata cuek tak mengindahkan apa yang dibicarakan Zaldy, gadis itu sibuk dengan ponselnya. Sesekali dia berdecak kesal kemudian mengetik pesan yang entah ia kirimkan pada siapa. Zaldy hanya memperhatikan dengan muka kecutnya karena dicuekin.
“Airport ya...”
“What??”
Zaldy spontan menginjak rem dan menatap Tata tak percaya. Gadis itu sungguh ajaib dimatanya, setelah diam seribu bahasa dan hanya memberi perintah untuk cabut dari area kampus, kini bibir tipisnya hanya mengeluarkan satu kata Airport yang mana itu adalah tujuan yang berlawanan arah dengan laju mobil yang ia kemudikan. Beberapa kali klakson dari pengendara lain berteriak teriak karena mobil yang berhenti tiba tiba. Zaldy pasrah dengan umpatan yang ia terima dari pengendara lain.
“Lo sadar nggak sih Ta, kenapa nggak bilang dari tadi”
Zaldy menahan rasa kesalnya sedemikian rupa
“emang kenapa?”
“Violetta Maharani Darmawan, kita berlawanan arah dengan Airport. Harusnya bilang dari tadi kalau tujuannya kesono”
“Marah??”
tanya Tata tanpa dosa menganggapi kekesalan Zaldy. Zaldy hanya bisa menggeleng dan kemudian kembali menginjak pedal gas perlahan melaju mencari tempat untuk memutar arah laju mobilnya. Suasana masih tidak berubah sampai mereka  memarkirkan mobilnya di Airport. Tata masih sibuk dengan ponselnya dan sesekali melihat jam tangan yang melingkar dilengannya. Wajah Tata masih cukup santai dan tenang, keadaan yang sangat bertolak belakang dengan ekspresi saat ia menyeret Zaldy dengan paksa keluar kampus. Tata turun dari mobil, dia tampak santai memasuki Airport.
“Ta, lo ngapain sih kesini?”
“Mau nemuin Toni”
“Busyeeet deh Ta, bukannya lo udah putus dari Toni ya? Ngapain lo ngejar dia sampai Airport?”
Zaldy mulai kehilangan kesabaran, suaranya meninggi tanpa memperdulikan pandangan orang yang lalu lalang di sekitarnya.
“Diem lo, yang jelas apa yang lo pikirkan itu salah”
Tiba tiba Tata, melesat meninggalkan Zaldy yang masih memegangi kepalanya yang hampir meledak saking kesalnya. Kini cowok itu semakin lunglai karena apa yang ia lihat. Tata keluar Airport dan berjalan menuju parkiran seakan melupakan apa yang Zaldy korbankan untuk sampai ke tempat itu. Tata berlari kecil mendekati seorang pemuda putih tinggi yang tengah sibuk mengeluarkan kopernya dari bagasi. Dari kejauhan Zaldy yang terduduk melantai cuek memegang kepalanya. Dari postur tubuh yang ia lihat, dia tahu itu adalah Toni mantan pacar Tata. Setelah beberapa saat keduanya nampak telah selesai dengan urusannya, Zaldy mulai mendekati keduanya dan dengan cueknya dia menepuk bahu Toni tanpa memandang ke arah Tata.
“Selamat Jalan Bro, semoga perjalanan lo lancar”
“Makasih Al… oh iya, makasih ya dah mau direpotin”
“It’s okay, sudah biasa”
Zaldy meninggalkan Tata yang masih memasang muka manisnya melepaskan kepergian Toni. Zaldy menghidupkan mesin mobil, dia masih tidak mengerti dan tidak lagi berkeinginan untuk mengetahui alasan Tata berlari ke Airport.
Tak ada yang Zaldy tanyakan pada Tata. Keadaan hening bertahan sampai mobil memasuki pelataran sebuah rumah mewah bercat putih nan teduh di pusat Jakarta.
Tanpa suara dan candaan khas keduanya, Zaldy memasuki rumah. Nampak seorang pria muda duduk di teras dengan secangkir kopi dan laptopnya memandang ke arah mereka dengan senyumnya
“Kok sudah pulang Al? katanya hari ini full day”
Zaldy hanya melengos tak memberikan jawaban. Tata pun mulai menyususl untuk masuk ke dalam rumah. Tetap dengan wajah tanpa dosa, ia memasang senyum termanis yang ia punya
“Di rumah Mas, nggak ngantor?”
Tanyanya kemudian setelah ia berada tepat dihadapan pria muda itu.
“Nggak Ta, baru pulang dari luar kota, jadinya kerja dirumah dulu sambil melepas lelah”
“Waaaah enak ya kalau jadi bos. Jam kerja tergantung diri sendiri dan bisa disesuaikan”
“Nggak juga kali Ta, kalau giliran pusing juga pusing banget”
Tata nyengir dengan jawaban yang dia terima. Sekali lagi ponsel memainkan perannya, Tata yang sudah terduduk di kursi samping Raka kini sudah terfokus pada layar ponsel pintarnya. Entah apa yang ia lihat, ia nampak begitu serius. Raka yang mulanya berniat menyelesaikan pekerjaannya dengan menghirup udara sore kini lebih focus memperhatikan setiap detil perubahan mimik wajah Tata. Sesekali ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
***

Hari libur adalah surga dunia bagi Tata, jam sudah menunjukkan jam sepuluh siang, tapi gadis itu masih berada di bawah selimutnya. Siapa sangka gadis dengan sejuta pesona dan keajaibannya itu memiliki sisi yang benar benar membuat orang jijik. Malaaaaazzz. Berkali kali alaram berbunyi dan berakhir dengan pencetan tak jelas dari jemarinya.
Tok tok tok ada yang mengetuj pintu kamarnya, tapi Tata tak mengindahkan suara ketujan itu. Saar samar ia mendengar suara mamanya memanggil dan dia masih bertahan di balik bantalnya.
“Ta, bangun sayang... udah jam berapa ini? Mama mau pergi nih”
Tak ada jawaban, gagang pintu sudah dalam genggaman sang mama, tapi beliau urung membukanya
“Ta, Mama pergi ya. Cuma tiga hari sayang. Nanti tante Rosa kesini buat nemenin kamu”
Masih belum ada jawaban, beberapa kali ketokan pintu dibiarkan tanpa jawaban sementara yang empunya kamar masih enggan berpisah dari alam mimpinya. Senyap menandakan bahwasannya sang mama menyerah untuk sekedar menemui putri semata wayang sebelum berangkat beraktivitas.
Semetara itu suasana kediaman Arifin sudah benar benar hidup, keadaan yang sangat bertolak belakang dengan kediaman Darmawan yang selalu hening dan sepi. Rumah ini selalu hangat dan dipenuhi oleh canda tawa.  Dua putra tidak membuat sang mama merasa kesepian. Dua karakter berbeda dari kedua putranya membuat Nyonya Martha benar benar bahagia. Memahami putra sulungnya yang adem ayem dalam kemisteriusannya diimbangi ulah jahil putra kedua yang super usil membuat hari harinya berwarna. Dua pribadi yang bertolak belakang justru membuat keduanya seakan saling melengkapi.
Kring Kring bunyi telepon rumah meminta pertolongan dari penelpon yang menggelitiknya, Zaldy berlari untuk menyapa melewati sang mama yang telah berjalan menuju meja telepon dengan gaya energiknya menggoda sang mama yang akhirnya memilih untuk hanya diam terpaku diposisinya menunggu jawaban keingintahuannya pada siapa yang membunyikan telepon rumah minggu siang ini.
“Hallo”
“Hallo Mr. Boy...” sapa si penelpon
“Ah Tante Jasmine. Ada apa Tan, mau bicara sama mama ya?”
“Bukan, tante nyari kamu kok. Tadi tante telepon HP mu ga diangkat”
“Oh maaf Tan, Hp Al ada di kamar soalnya”
“Iya nggak apa apa, kamu sibuk Al”
“hmmm… kayaknya nggak Tan, Ada apa?”
“Biasa, tolong tengok tuan putri ya. Tadi tante sudah berusaha keras buat bangunin dia untuk pamitan, tapi dianya nggak merespon. Tante nggak mungkin kan menerobos masuk dengan kunci cadangan. Tau sendiri kalau ngamuk seperti apa”
Zaldy tak merespon, dia sedikit berfikir dengan situasi yang ada diantara dirinya dengan Tata saat ini. Perang dingin
“Al.... hallo, Zaldy bisa bantu Tante kan?”
“Oh... oh iya Tan, nanti Al ke rumah”
“Tolong ya, mungkin adik tante baru bisa datang nanti malam”
“Iya Tan, asal jangan lupa oleh oleh buat Al ya Tan”
Uauuuch Zaldy mengusap kepalanya yang kena getok sang Mama berbarengan dengan ia menutup telepon, memasang senyum kudanya mendapati Mama dan kakaknya melotot ke arahnya. Setelah terlepas dari tatapan intidasi keluarganya, Zaldy masih belum bisa menemukan cara untuk menepati janjinya pada mama Tata. Cowok itu tertegun sendiri sambil memeluk gitar di atas balkon kamarnya. Tata satu nama itu masih sangat membuatnya kesal, memang bukan kali pertama Zaldy dibuat senewen oleh gadis itu, rasanya sepanjang usianya bernafas nama itulah yang selalu membuatnya pusing. Hampir 24 jam nonstop nama itu berputar putar dikepalanya. Melepaskan Tata dari bullying saat mereka sama sama duduk di sekolah dasar mungkin yang menjadi cikal bakal permasalahan hidup Zaldy sehingga tidak bisa lepas dari Tata. Siapa yang tidak mengenal gadis itu, putri tunggal seorang pengusaha sukses. Cantik, pintar dan ceria. Siapapun ingin dekat dan mengenalnya, sikapnya yang jauh dari kata sombong membuat semua orang nyaman berada di dekat Tata, tapi sayang kepopulerannya sedikit membuatnya dalam masalah. Segala embel embel yang menjadikannya sempurna membuat beberapa gadis merasa tersaingi dan tentunya ingin membuat Tata dalam kesulitan. Sedikit melakukan kesalahan maka Tata akan segera dikucilkan. Dan disanalah awal peran Arifin bersaudara dalam hidup Tata. Zaldy yang kebetulan seusia dengannya secara otomatis akan selalu memiliki kesempatan lebih banyak untuk mendampingi Tata karena berada dalam satu tingkatan pendidikan yang sama. Sementara Raka yang berbeda usia 6 tahun diatasnya hanya memiliki dua tahun untuk melindungi gadis itu saat mereka berada dalam satu lingkungan sekolah yang sama.
“Nggak ada acara Al?”
Tiba tiba Raka menepuk pundak adiknya yang masih bengong memikirkan strategi untuk menemui Tata, karena berkosentrasi mencari ide, dia tak menyadari sang kakak memasuki kamarnya. Zaldy hanya menengok kakaknya tanpa memberikan jawaban. Melihat sang kakak di depan matanya dengan Majalah yang mungkin diambilnya dari meja belajar membuat Al menemukan ide, walaupun tidak yakin namun dia ingin mencoba
“Sebenarnya ada Mas, tapi….” Zaldy menggantungkan kalimatnya mengharapkan ada tanggapan dari Raka yang akan membuat alasannya terkesan sempurna. Dengan tetap memeluk gitarnya dan memegangi dagu dia melirik ke arah Raka yang membolak balikkan majalah yang ada di tangannya. Menantikan kelanjutan cerita Zaldy yang tertahan, Raka mengalihkan pandangannya dari majalah ke arah adiknya yang masih tertegun seakan memikirkan sesuatu, namun dia hanya menatap tanpa berkomentar
“Sebenarnya Al janji mau main basket bareng temen temen di kampus, tapi Al kelupaan tadi janji juga sama Tante Jasmine”
“Lantas?”
“Ya itu masalahnya Mas. Al janji lihatin Tata tapi….”
Kembali Zaldy menghentikan kalimatnya dan kini dia berdiri dari posisinya lalu mengambil majalah yang ada di tangan kakaknya dengan ekspresi yang dirasa Raka sedikit mencurigakan
“Eiiit ada apa ini?”
“Sini sebentar Mas”
Zaldy meletakkan majalah yang ia ambil dari kakaknya di atas kasur dan menyeret sang kakak keluar kamar
“Tunggu sebentar”
Zaldy menghentikan langkahnya dan meminta Raka menunggu sementara dia berlari menerobos kamar Raka sehingga spontan membuat Raka membelalakkan matanya heran sekaligus kaget dengan apa yang dilakukan Zaldy
“Al, mau ngapain Lo!”
Sesaat Raka hanya berteriak tanpa bereaksi apapun sampai dia menyadari apa yang akan Zaldy lakukan tapi dia sudah terlambat untuk mengejar langkah adiknya karena saat ia mulai melangkah Zaldy sudah kembali ada dihadapannya membawa kunci mobil lengkap dengan Sweeter lantas mendorong Raka untuk menuruni tangga
“Ini apa apaan sih Al?”
Tanyanya masih belum tanggap dengan apa yang terjadi. Melewati ruang tamu dan keluar memasuki garasi. Sang mama yang berada di ruang keluarga memandang heran dengan ulah kedua putranya. Keduanya memang sangat dekat tapi pemandangan seperti itu beliau rasakan sedikit aneh karena Raka yang hanya mengenakan pant pendek dan kaos bukanlah gaya putra sulungnya saat hendak meninggalkan rumah, apalagi Zaldy. Seingat sang mama Zaldy belum mengguyur badannya sepanjang hari ini, kebiasaan jorok Zaldy saat hari libur.
“Al, Mas nggak mau ah”
“Ayolah Mas, bantuin Al kali ini saja” rengek Al dengan ekspresi mengiba
“Mama, ini bantuin Raka dong” Raka melihat sang Mama yang memperhatikannya mencoba meminta bantuan agar bisa lepas dari lemparan tanggung jawab Zaldy
“Ayolah Mas, nggak susah kok. Cuma bujuk dia buat bangun dan pastikan dia nggak berulah aja”
“Nggak mau ah, itu kan tugas kamu”
Raka menahan dirinya di depan pintu mobilnya untuk tidak terdorong oleh Zaldy ke dalam mobil. Zaldy terus berusaha mendorong tubuh Raka dan memohon. Pemandangan itu membuat nyonya Martha tersenyum.
“Please Mas, bantuin Al ya. Kali ini saja…. okay”
Zaldy menutup pintu mobil setelah sebelumnya melemparkan sweeter Raka ke dalam mobil. Raka terduduk dibalik kemudi dan kemudian sekilas ia memandang ke arah mamanya untuk meyakinkan diri tapi melihat senyum sang mama dan anggukan kepala wanita paruh baya itu membuat Raka pasrah lalu menghidupkan mesin
“Kalau ternyata nanti mas kesusahan menghadapi Tata, kamu musti mau kesana ya”
Pesannya pada Zaldy yang tersenyum penuh kemenangan bersandar di pintu garasi seakan mengisyaratkan Raka untuk segera meninggalkan ruangan itu membawa mobilnya melaju ke rumah Tata. Sebenarnya untuk sampai ke rumah Tata tidaklah begitu jauh, hanya terpisah beberapa blok saja dari kediaman mereka, tapi tidaklah mungkin jika Raka harus berjalan kaki dibawah matahari Jakarta yang terik belum lagi kalau Tata meminta untuk di antar kesana kemari seperti yang biasanya ia minta dari Zaldy selama ini.
Tak membutuhkan waktu lama buat Raka untuk sampai di rumah Tata, setelah memarkirkan mobilnya Raka membuka pintu rumah dengan kunci yang disembunyikan dibelakang kotak post (baca : tempat rahasia). Sepi dan sangat sepi, sepertinya Tata masih mengunci dirinya dalam kamar dan terlelap.
Ckckckck Gadis macam apa jam segini masih ngorok. Ini rumah apa kuburan sih kok hening gini, masih mending kuburan rada rame
Raka bergumam tidak jelas sambil terus melangkahkan kakinya menuju kamar Tata. Pintu masih tertutup dan tidak ada suara apapun terdengar dari sana. Raka mengetuk pintunya
“Ta, bangun Ta.. sebentar lagi udah sore nih”
Masih hening
“Ta, Lo tidur apa pingsan sih. Bangun gih malu tuh sama bocah depan rumah udah pada mandi siang”
“Eemmm”
Sayup sayup suara Tata terdengar menyahut, Raka geleng geleng dan berjalan menuju meja makan. Dia membuka tudung saji yang ada diatas meja. Makanan sudah dingin semua. Dengan cekatan dia hangatkan sub yang ada di mangkuk beserta aneka lauk yang disediakan untuk Tata. Selesai membereskan menu sarapan yang sekaligus makan siang buat Tata, Raka kembali memanggil Tata yang hanya menyahut dengan ham hem ria. Menunggu gadis itu keluar dari sarangnya, Raka meraih remot control yang tergeletak diatas karpet di Ruang keluarga. Diatas bantal besar yang ada di sana dia merebahkan diri sambil membaca majalah remaja yang dia ambil di sudut ruangan, majalah Tata.
Music yang mengalun sedikit mengganggu kenyamanan Tata, dari sekedar ham hem kini dia membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, masih dalam posisi rebah dia membuka matanya dan sesekali memejamkannya untuk memastikan bahwa ia sudah sepenuhnya terjaga. Turun dari ranjang tanpa membersihkan diri, dia keluar dari kamarnya dan berjalan gontai menuju dapur. Mengambil segelas air putih, dalam sekejap tandas berpindah tempat dalam perutnya, ia membuka tudung saji dan lalu menutupnya kembali. Hanya mengambil satu nugget, menguyahnya sambil jalan dengan mata sesekali ia paksa untuk terbuka. Gontai ia rebahkan dirinya kembali diatas karpet, matanya kembali menutup dan ia meraba raba mencari remot control untuk mematikan music yang sudah memaksanya keluar dari persembunyian
“emmmh berisik Pa, matiin dong”
gumamnya nggak jelas. Raka yang tertidur oleh alunan music masih dengan majalahnya telungkup diatas bantal disingkirkan oleh Tata hingga sedikit bergeser demi mendapatkan bantalnya. Posisi yang sedikit tidak nyaman membuat Raka sedikit menarik alas kepalanya kembali dan membuat Tata yang mempertahankan kenyamanannya mendekatkan diri agar bisa berbagi. Kini posisi sudah tidak aman, Tata yang tidak pernah bisa mengontrol posisi tidurnya sudah memeluk Raka seakan tubuh itu tidak bernyawa. Beberapa menit berlalu Raka mulai merasakan ada yang menjadi beban diatas perutnya, dalam ketidak sadarannya ia meraba untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi, belum lagi ia menemukan jawabannya, sesuatu menggendus tepat disisi pipinya memberikan satu bau asing tercium olehnya.
“Papa pake parfum baru ya Pa… lebih seger”
Sayup ia mendengar suara yang tertangkap oleh telinganya, kini tangan kirinya sedikit hilang rasa tertindih oleh beban yang belum jelas ia ketahui
Papa?? Apa ini sebenarnya..
Raka takut untuk membuka mata, ia menyadari ada yang salah pada dirinya. Raka sedikit menggeser badannya untuk melepaskan diri dan membuka matanya sedikit demi sedikit hingga jelas tertangkap olehnya sosok yang kini sedang memeluk tubuhnya erat
“TATAAAAAAA”
Raka melepaskan diri dari pelukan Tata dan sigap berpindah posisi ke atas sofa sambil terus memandang gadis kumal yang kini tidur di hadapannya
“Aaaaaah Papa berisik banget sih”
Masih dengan posisi terlentang diatas karpet Tata mengucek dua bola matanya agar sepenuhnya terjaga dan
“Mas Raka??”
Dua bola matanya terbelalak tanpa membutuhkan guyuran air lagi, kini tubuh yang seharian seakan kehilangan tulang belakang kini mendadak tegak terduduk kaget dan memasang wajah innocentnya menahan malu dan Raka hanya duduk lemas diatas sofa sambil menatap Tata tanpa mampu mengucapkan kata apapun.