Selasa, 19 Januari 2016

PART 15 : HOLD MY HAND




Part 15

Masih cukup pagi Bagas terbangun dari tidurnya bahkan adzan subuh juga belum berkumandang tapi mata tidak dapat ia pejamkan kembali, rasanya debar jantungnya makin cepat dan semakin cepat saat dia mulai membuka mata kecepatan debarannya makin bertambah. Bagas menegakkan punggungnya bersandar pada bantal yang ada, duduk di atas ranjang dan memandang jarum jam  dinding berharap hari segera berubah terang, bukan karena dia tidak sabar mengawali aktivitas tetapi berharap hari segera berlalu dan berganti dengan cepat. Huuuuuuft... rasa kantuk seakan benar benar pergi dari matanya dan ia menyesali dirinya yang terjaga sebelum pagi benar benar tiba, Bagas menarik nafasnya lemah, ia melirik meja yang ada di sisi kirinya, ponsel yang diam membisu itu ia raih dan dia kembali membuka kotak pesan yang ada disana
‘Bisa kita bicara sebentar, dalam waktu 5 menit aku akan ke ruang kerjamu’
Pesan itu tidak pernah dijawab oleh Indira dan diamnya Indira itu membawa langkah Bagas sampai ke depan ruang kerjanya dengan jawaban yang ia dapatkan tentang kegundahan hati Indira tentang dirinya. Namun sayangnya jawaban itu membuat Bagas tak sanggup untuk melakukan apapun, saran dari Tama membuatnya sedikit menahan diri dan untuk meminta saran dari Anggi juga ia pikir hanya akan menambah beban pikiran dan memusingkan kepalanya karena pastinya sepupunya itu akan memberikan saran yang ekstrim.
‘terima kasih kamu sudah memberikan tempat buatku dalam hatimu, Ndi. Aku pastikan kamu nggak akan menyesali keputusanmu menempatkan aku dalam ruang kosong itu. Entah berapa persen aku mulai mengisinya, yang pasti aku bersyukur untuk itu. Akan aku raih tanganmu yang mulai lemah terulur untukku .. tunggulah’
Ada senyum tersungging dibibir Bagas yang nampak lebih percaya diri, walaupuun dia belum mengetahui dengan pasti apa yang akan ia lakukan. Yang jelas saran Tama untuk bersikap sebagai lelaki akan selalu ia ingat dan akan ia gunakan disaat yang tepat.

Pagi ini adalah hari pertama ia menginjakkan kaki di RS. Waluyo sebagai bagian dari Rumah Sakit itu setelah ia memutuskan menerima amanah orang tuanya untuk memegang kepemimpinan di Rumah Sakit itu sebagai seorang pemegang tongkat estafet usaha keluarga. Belum ada serah terima langsung dari kepemimpinan sebelumnya yang dipegang oleh dr. Satya, tapi rapat Direksi sudah mengetahui keputusan itu dan hanya menunggu saat pelantikan saja. Sejak ia membuka mata sebelum subuh datang, rasanya debar hatinya tak dapat ia kuasai. Ketegangan memegang pisau operasi untuk pertama kalinya ia rasakan kembali bahkan lebih tegang dari itu, bukan karena ia menduduki posisi paling atas di Rumah Sakit dengan tanggung jawab besar melainkan menepatkan diri di hadapan Indira yang membuatnya bingung harus bersikap seperti apa di hadapan dokter cantik itu setelah apa yang terjadi diantara mereka. Bagas masih ragu dengan apa yang akan ia lakukan jika bertemu dengan Indira di Waluyo dengan statusnya kini dan bakal seperti apa kecanggungan itu terjadi setelah hubungan mereka yang tidak lagi sedekat dulu.
Seperti biasa rutinitas pagi masih ia lakukan tanpa mengingat seperti apa sikap Indira padanya, konsistensi sebagai pejuang masih ia lakukan tiada henti, begitupun hari ini. Sebelum memasuki ruang kerja dr. Satya yang akan berganti sebagai ruang kerjanya, Bagas menyempatkan diri mampir ke ruang kerja Indira. Dalam ruangan itu hanya terlihat suster Mia dengan daftar pasien yang datang. Melihat Bagas datang, ia  melemparkan senyum pada Bagas dengan anggukan hormatnya meskipun ia belum mengetahui secara pasti siapa Bagas sebenarnya. Suster Mia sedikit tersipu melihat ulah Bagas yang ia kenal sebagai dr. Raihan itu. Hari ini Bagas memakai pakaian resmi dengan kemeja dan dasi lengkap dengan Jas putihnya, tapi itu tidak membuat suster Mia kaget, bukan lagi pemandangan aneh jika Bagas memasuki ruang kerja dokter umum karena itu seakan menjadi pemandangan harian saat dr. Indira yang berdinas, bahkan saat Bagas masih dinas di Medika.
“Suster Mia, terima kasih ya atas jawabannya tempo hari” ucap Bagas saat menaruh bawaannya di meja kerja Indira dan seakan tidak memperhatikan suster Mia
“ya?”
“Jawaban Suster pada pertanyaan dr. Indira tempo hari membuat saya benar benar bersyukur dan berharap keajaiban terjadi dari sana”
“itu bukan apa apa, Dokter… saya menyampaikan apa yang memang menjadi pemikiran saya”
“Apapun itu yang menjadi dasarnya, saya ucapkan terima kasih. Dan saya janji Suster Mia akan melihat saya meraih kebahagiaan saya tanpa harus melewatkannya, karena saya juga percaya ada kepantasan untuk saya disana”
Susuter Mia mengangguk dan tersenyum mendengarkan kata kata Bagas penuh keyakinan lalu ia melirik ke arah meja kerja atasannya, kotak biru muda kini berdampingan dengan setangkai mawar putih telah duduk manis disana. Bagas tersenyum sedikit merasa malu karena senyum suster itu seakan menguliti isi hatinya, tapi baginya keberadaan suster Mia sangat membantunya untuk selalu menyampaikan apa yang ia titipkan untuk Indira.
“Dokter”
Suster Mia menghentikan langkah Bagas yang hendak meninggalkan ruangan, suster Mia bangun dari tempat duduknya dan menghampiri dimana Bagas berdiri, Bagas menatap suster Mia dengan pandangan penasaran, ia tahu ada sesuatu yang ingin suster Mia sampaikan padanya
“Hmm… anu, itu…..”
“Kenapa Suster? Bicaralah”
“hmmm… ini soal dr. Indira”
“ kenapa dengan dr. Indira?? ….. ah, soal kotak makanan serupa yang juga selalu di terima oleh dr. Indira?
Saya sudah mengetahuinya Suster dan saya tidak mempersoalkan itu, selama sikap Indira tidak merespon sang pengirimnya maka saya tidak berkeberatan dan saya juga tidak memiliki hak untuk melarang dr. Inidra menerima itu” Bagas mencoba menebak setelah ia mengikuti kemana arah mata suster Mia menuju.
“Bukan itu Dokter”
“lalu?”
“Maaf sebelumnya dr. Raihan… jika soal kotak makanan itu, saya yakin bahwa dr. Raihan telah mengetahuinya, tapi ini bukan soal kotak makanan, melainkan tentang dr. Indira secara pribadi”
“Apa itu Suster?”
“Saya mungkin sedikit lancang, Dokter, tapi saya berharap bahwa dr. Indira bisa merasakan kebahagian dan senyum ceria tanpa beban karena Dokter Bagas. Hanya saja beberapa kali saya mendengar bahwa dr. Indira berniat untuk …. Untuk….”
“Untuk apa Suster? Bicaralah”
Suster Mia sedikit ragu meneruskan kalimatnya, ia takut apa yang akan ia sampaikan pada Bagas justru akan membuatnya dalam masalah dan bukanlah keputusan yang tepat, ia terdiam sejenak menimbang nimbang apakah ia akan meneruskan kalimatnya atau tidak…
“Suster Mia….” Bagas menunggu jawaban suster Mia yang kelihatan sedikit berfikir
“Apa yang akan saya sampaikan ini sepertinya masih dirahasiakan oleh dr. Indira, tapi saya percaya dr. Raihan akan bisa membuat dr. Indira memutuskan segala sesuatunya dengan benar. Kalaupun memang beliau melakukan itu, paling tidak bukan untuk bersembunyi”
“Bersembunyi??? Apa maksud suster Mia? Apa sebenanya yang akan dilakukan oleh  dr. Indira, Suster?” Bagas mulai dipenuhi rada penasaran dengan apa yang hendak Suster Mia sampaikan
“dr. Indira bermaksud untuk mengambil pendidikan specialis” jawab suster Mia tanpa basa basi lagi
“Ya?... apa itu keluar dari mulut dr. Indira sendiri, Suster?”
“Iya Dokter… setelah pembicaraan yang dokter dengarkan tempo hari, saya yakin dr. Indira memutukan itu semua karena ia bingung mengambil keputusan. Saya berharap jika memang Dokter ingin meraih tangan itu, pastikan sebelum dr. Indira pergi untuk melaksanakan niatnya itu, Dokter. Saya tahu itu adalah pilihan tepat bagi seorang dokter, tapi saya ragu untuk mengatakan jika itu adalah keputusan yang dr. Indira ambil sebagai keputusan tepat untuk saat ini”
Bagas mengangguk anggukkan kepalanya sambil tersenyum, dia bisa menangkap bahwa suster Mia menginginkan Indira tinggal ataupun berkeinginan sederhana mengharapkan dirinya segera mengambil langkah konkrit untuk bisa berjalan berdampingan dengan atasannya itu, sepertinya suster Mia sangat paham akan kepribadian Indira yang mencoba menyimpan segala beban hatinya seorang diri dengan berlari menghindar.
“I’ll do my best, suster… doakan saya ya dan terima kasih atas informasinya”
Bagas melangkahkan kakinya dengan sedikit menyisakan tanya di otaknya tentang keputusan Indira untuk mengambil pendidikan specialist, bahkan Bagas sangat yakin kalau sepupunya belum mengetahui itu karena Anggi masih tenang dan tidak seperti seseorang yang akan sanggup meruntuhkan tembok cina kala dia menghawatirkan sesuatu. Bagas memahami benar keinginan terbesar Anggi terhadapnya adalah segera merealisasi hubungan dengan Indira secara formal bukan hubungan dekat yang berkamuflase
‘kuliah…. Indira?’
Pikiran Bagas sekali lagi mulai tidak tenang. Ketidak tenangan yang ia alami sedari pagi buta seakan kini semakin membuatnya ingin menyudahi hari ini dengan segera tak perduli apapun yang terjadi. Berada di ruangan dr. Satya dalam satu wilayah dengan Indira saja membuatnya bingung dengan apa yang akan ia lakukan saat ia bertemu dengan Indira, rasa bersalah pada Indira tentang identitasnya belum ia jelaskan dan sekarang bahkan disaat saat mendekati peresmian dirinya sebagai kepala Rumah Sakit jutru harus menerima kabar tentang rencana Indira meninggalkan Rumah Sakit dimana ia kini berada.
‘Apakah kamu berniat untuk melarikan diri lagi, Ndi… apakah ini jawaban atas kekecewaan dirimu padaku. Sekali lagi kenapa kamu seakan membentangkan jarak, kamu terus berlari saat aku mulai mendekatimu. Kenapa, kenapa kamu harus berubah arah… berjalanlah padaku Ndi, kamu tak perlu lagi bersembunyi dan menghianati hatimu sendiri’
Bagas memegang kepalanya yang tidak terasa pusing, di atas sofa ia menyandarkan dirinya seraya menunggu kedatangan dr. Satya.
‘melarikan diri dariku…. Tidak, kau tidak boleh melakukan itu padaku Indira’
“Tidak, tidak boleh dibiarkan” Bagas memerangi kata hatinya sendiri
“Apanya yang nggak boleh Gas?”
Bagas terkejut dan membuka matanya… kini Anggi beserta dr. Satya ada dihadapan matanya. Ia melipat lengan bajunya untuk melihat jarum jam lalu beralih menatap Anggi
“Apa yang kamu lakukan disini, pasienmu?” tanyanya kemudian pada Anggi yang memilih untuk mengambil tempat duduk bersebelahan bahkan menempel pada Bagas menggodanya
“Jangan mengalihkan pembicaraan… apanya yang nggak boleh?”
“Bukan mengalihkan pembicaraan, tapi lihat ini baru jam 9, ngapain kamu disini. Apakah pasienmu kamu usir agar bisa melihatku disini”
“Hmmm siapa kamu, artis??? Ckckckckck... ini nih Om yang Anggi takutkan. Dia pasti akan super ketat mengawasi gerak gerik setiap dokter disini. Dia lebih takut kehilangan pasien dari pada sepupunya”
“Tentu saja, kehilangan pasien adalah hukuman mati bagi profesi seperti kita”
“hahahhhaaa santai Mas Bro. ada dokter lain yang berdinas hari ini. Special for you, hari ini adalah waktu rehatku tapi aku harus tetap ada di Rumah Sakit ini demi kelangsungan hidup sepupuku tercinta ini. Makanya jangan hanya memonitor jadwal Indira, sekali kali jadwal aku dong....”
Anggi menggoda Bagas dengan keusilannya yang membuat dr. Satya hanya bisa tersenyum melihat dua orang saudara sepupu beradu argument tanpa memandang status. Keduanya menanggalkan status sebagai  atasan dan bawahan, yang ada di pikiran mereka saat bertemu adalah bercanda dan saling menggoda, terutama Anggi. Dan benar, mereka adalah rekan sejawat bukan atasan dan bawahan.
“apa yang nggak boleh, Gas… hem, apa… apa??” Anggi setengah berbisik dan menyenggol nyenggol bahu Bagas masih berusaha menggoda sedangkan Bagas tak merespon sedikitpun
“Indira… kamu sudah bertemu Indira? hari ini dia berangkat lebih pagi loh”
“Apaan sih Nggi… udahlah serius sedikit”
“Hmmm gayamu Gas, kayak nggak butuh saja, hati hati… Indira sudah mengambil ancang ancang”
“Apa??”
“Gas, kamu sudah siap kan, hari ini adalah hari kerja pertamamu disini. Singkirkan segala perasaan pribadi saat kamu duduk di posisimu, kamu harus bisa obyektif melihat segala yang terjadi. Sebelum serah terima jabatan dilaksanan kamu bisa mempelajari semuanya dulu beberapa hari kedepan”
Dr. Satya memutus jalur kegaduhan dari candaan antara Bagas dan Anggi, ia menegaskan konsekwensi dari jabatan yang akan Bagas emban setelah dirinya pensiun.
“Satu lagi, tentang apa yang kamu bilang tidak boleh tadi…. Ya benar, kamu memang nggak boleh seenaknya memperlakukan Indira sebagai teman istimewamu. Dia adalah seorang dokter disini, perlakukan dia sebagai dokter di wilayah ini, diluar wilayah Waluyo kamu bebas memperlakukan dia asalkan dengan satu syarat.. kesepakatan bersama. Hahahhaha”
Anggi terus berusaha menggoda Bagas dalam setiap kesempatan yang ada.
“Itu benar, segala perasaan pribadi harus ditanggalkan atas nama profesionalisme” dr. Satya menyetujui ucapan Anggi seraya tersenyum mengamati perubahan raut muka Bagas dan Bagas hanya tersenyum sambil mengangkat jempolnya lalu berjalan mendekati meja kerja dr. Satya yang kini sudah penuh dengan beberapa proposal kerja.
Jarum jam terus berputar, jam istirahat usai dan mentaripun mulai bergeser membawa suasana sedikit lebih hangat dan meninggalkan teriknya di tengah hari. Makan siang Bagas lakukan dalam ruang kerja dengan makanan yang Anggi bawa dari rumah demi untuk menghindari pertemuan dengan Indira.
Jam menunjukkan pukul 3 sore. Bagas bersiap untuk pulang.
Tak tok tak tok
Ada suara dentuman heels dibalik punggungnya, ia ragu untuk menengok dan mencari sumber suara. Ia takut itu suara heels sepatu Indira. Bagas terus melangkah menuju area parkir dan benar dari dalam mobil sebelum ia meninggalkan Waluyo, Bagas melihat Indira berjalan menuju mobilnya sambil menjawab telepon, tangannya berhenti untuk menghidupkan mesin mobil. Dalam diam Bagas hanya bisa mengawasi Indira dari kejauhan, yang terpenting saat ini adalah Indira belum berubah, ya belum berubah. Bagas memejamkan matanya dan memasang telinga setajam mungkin menunggu derungan suara mobil Indira berlalu.
Tok tok
Ada seseorang mengetuk kaca mobilnya, Bagas membuka mata dan menurunkan kaca ...
“Indira.... ah maksud saya dr. Indira”
Rupanya Indira menyadari keberadaan Bagas di area parkir sehingga dia mengurungkan niatnya untuk memasuki mobil dan justru mendekati Bagas karena ia melihat Bagas yang menyandarkan badannya dan terlihat lelah
“dr. Bagas” Indira menyapa ringan masih dengan senyum khas menghiasi wajahnya seakan tidak ada yang terjadi di antara mereka sehingga Bagas cuma bisa diam di balik kemudi dengan senyum hambarnya....
“Dokter baik baik saja, perlu saya antarkan”
“Apa?”
Bagas sedikit kaget dengan pertanyaan Indira padanya, sedikitpun tidak ada dalam bayangannya Indira menghampirinya dan mengatakan itu. Ada kesan kehawatiran dalam kalimat Indira, dalam hati Bagas tertawa senang
“Ah saya baik baik saja, Dokter” jawabnya kemudian setelah ia mampu menguasai dirinya untuk tidak larut dalam harapannya sendiri
“Yakin?? Kalau dokter tidak berkeberatan, saya bersedia mengantarkan dr. Bagas”
Indira masih belum percaya dengan penjelasan yang Bagas berikan, dalam hati Bagas berfikir apakah ia terlihat sangat kacau sehingga Indira begitu hawatir. Bagas masih tetap dalam kebingungannya untuk memberikan jawaban, sebenarnya ia ingin bersama Indira walau sekedar untuk mengobrol, tapi bukan sebagai seseorang yang membutuhkan pertolongan melainkan seseorang yang memang Indira butuhkan untuk menemaninya menghabiskan waktu.
“Permisi Dokter, berikan pada saya…. Seorang dokter harus bisa menjaga kondisinya untuk selalu sehat sebelum ia menolong orang lain, bukankah itu yang dulu dokter ucapkan pada saya”
Tiba tiba Indira membuka pintu mobil dan memaksa Bagas keluar mengikuti kemana Indira membawanya, duduk dikursi penumpang dan Indira mengambil alih posisi kemudi.
“hmmmm….. mobil dr. Indira?”
Akhirnya pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Bagas, ia merasa bingung harus memberikan respon seperti apa pada gadis yang berhasil membuat setiap waktu sengangnya tidak terbuang sia sia tanpa memikirkannya dan menyapu bersih sisi intelektualnya jika memikirkan tindakan apa yang harus ia ambil saat bertemu dengan gadis itu, dan saat ini ia merasa seperti orang yang sangat bodoh di hadapan Indira karena dia hanya mampu mengikuti petintah Indira tanpa sepatah katapun terucap sebagai usaha penolakan.
“Ini Rumah Sakit tempat saya bekerja, Dok. Bukan pasar… jadi mobil itu pasti aman dalam penjagaan petugas”
Indira mulai menginjak pedal gas dan tersenyum menimpali pertanyaan Bagas yang terdengar seperti pertanyaan konyol dengan ekspresi muka Bagas yang terlihat sedikit shock
“Tenang saja Dok, saya lulus tes untuk mendapatkan SIM dan saya juga tidak akan kesulitan walau meninggalkan mobil saya disini” lanjutnya kemudian, ia tahu Bagas sedang menatapnya saat ini sehingga ia hanya focus pada jalan yang ada di depannya.
‘Bagas… sadar! Indira hanya melakukan tindakan sederhana. Jangan berfikir terlalu tinggi, come on’
Tanpa sadar Bagas tersenyum sendiri menertawakan dirinya, kata kata Indira seakan memaksa segala harapannya untuk pergi

Perjalanan sedikit hening, Bagas tidak berani mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya sehingga ia memilih berpura pura tertidur agar Indira tidak merasa canggung ataupun tidak merasa kikuk dengan suasana yang ada di antara mereka.
Indira tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di rumah Bagas. Menurut Anggi, Bagas tidak tinggal di rumah orang tuanya dan memiliki rumah sendiri yang ia tinggali selama ia menjadi dokter, tapi dimana itu Indira tidak pernah tahu… dengan memperlambat laju mobil yang ia kemudikan, Indira melirik ke arah Bagas. Matanya tertutup bersandar pada tempat duduknya dan pelupuk mata yang tertutup itu nampak sangat lelah
‘kemana aku harus membawa mobil ini, haruskah aku membangunkannya…. Ah tidak, sepertinya dia sangat capek dan seandainya aku membangunkannya, pasti kecanggungan itu akan kembali… huft, tidak ada pilihan lain’
Indira menepikan mobil putih itu di depan sebuah Mini Market, ia mematikan mesin dan membuka sedikit kaca mobil lalu meninggalkan Bagas dalam tidurnya memasuki Mini Market. Rasanya tenggorokannya kering setelah bertahan mengunci mulut beberapa menit selama perjalanan, bersyukur ia hanya berada di sebuah kota kecil yang tidak mengenal istilah macet. Setidaknya ia tidak tersiksa dalam waktu yang lama karena hanya bisa mengunci mulutnya dengan menelan air ludahnya saat ada seseorang yang sebenarnya bisa ia ajak mengobrol.
Memasuki Mini Market, Indira langsung melangkahkan kakinya menuju deretan lemari pendingin yang berisi beraneka macam minuman dingin di sisi kiri pintu masuk setelah rak yang berisi snack. Indira tidak ingin membuang waktunya terlalu banyak, maka langkah kaki itu ia percepat dan….. ‘Ah aouuuuch’ tubuh kecil menabrak dirinya dan kini ia merasakan ada satu benda kecil terasa menusuk kakinya seperti jarum kecil tengah menancap disana. Indira urung membuka lemari pendingin minuman yang sudah ia pegang lalu mengalihkan pandangannya pada kakinya yang terasa sedikit perih.
“Oh… maaf, saya nggak sengaja… anu, Bunda”
Gadis kecil yang membawa satu kantung nungget dan pisau terjatuh dihadapannya nampak ketakutan, Indira membantunya berdiri dengan sabar dan senyuman
“Nggak apa apa, hati hati ya”
“Tapi tante terluka”
“Luka kecil, nanti diobati juga sudah sembuh”
Gadis itu menatap luka di kaki Indira dengan tatapan bersalah, ia hampir menangis melihat ada darah yang diam diam keluar dari goresan pisau yang tidak sengaja ia jatuhkan di kaki Indira.
“Syifa…. Astaga, Oh Anda terluka…. Hmmm bunda kan sudah bilang, Papa pasti sudah punya pisau”
“Bunda, Syifa nggak sengaja Bun, tadi Syifa senang banget mau ketemu Papa. Jadinya…..”
“Ehmm maafkan saya, Bu. Luka Anda?”
“Nggak apa apa kok, nanti diobati. Hmmm namanya Syifa ya? Udah nggak perlu sedih, Tante baik baik saja kok. Bundanya nggak marah, hanya kaget… sekarang anak manis nggak boleh murung ya”
“Sekali lagi saya minta maaf, Bu. Anak saya terlalu bersemangat untuk ketemu Papanya dan bantuin masak buat Papanya kebetulan kami dari luar kota jadinya dia terlalu senang”
Indira tersenyum dan mengangguk memaklumi, ia merendahkan posisi badannya duduk di depan sang bocah sambil mengeluarkan tissue dari dalam tasnya.
“Lihat… darahnya udah hilang kan, di lap pake tissue ini aja udah nggak keluar darahnya, artinya nggak parah, namcap dikit doang. Masa mau ketemu sama Papa dan kasih kejutan, Syifa mukanya murung. Senyum ya… tante baik baik saja”
Syifa mengangguk lemah dan menggandeng tangan sang Bunda, gadis kecil itu masih sedikit shock dengan apa yang baru ia alami di hari pertama ia menginjakkan kaki di kota asing
“Sudah Bu, saya pastikan saya nggak apa apa kok, kasihan Syifa masih sangat shock. Ibu bawa Syifa belanja lagi ya biar dia sedikit tenang”
“Terima kasih Bu, dan sekali lagi saya minta maaf”
Indira mengangguk tulus, lalu ia melambaikan tangannya pada Syifa agar sang bocah merasa tenang.

Beberapa saat Indira keluar dari dalam mini market dan melihat Bagas sudah ada di luar mobil menunggunya, nampaknya Bagas mengetahui Indira masuk dalam mini Market karena dokter ganteng itu tidak menghubungi nomor ponsel Indira untuk memastikan. Indira sedikit pincang membawa dua kantung tas kresek da nada tissue yang menutup kakinya, Bagas heran
“Haaah dr Bagas sudah bangun, maaf ya Dok jadinya nunggu soalnya saya nggak tahu harus mengantar dokter kemana”
Indira menawarkan air mineral pada Bagas yang berdiri bersandar pada mobilnya, tapi mata Bagas justru berkonsentrasi pada tissue yang menempel di kaki Indira serta keberadaan Betadine serta botol alcohol di dalam tas kresek yang di bawa Indira
“Itu?”
“Oh… iya ini tadi ada kecelakaan kecil”
“Sini biar aku lihat”
Bagas menaruh botol minumannya di atas mobil dan memaksa Indira duduk dalam mobil dengan kaki yang terulur keluar. Tanpa kesadaran Bagas mencopot sepatu Indira dan membuka tissue yang menutup luka itu sementara Indira hanya bisa bengong
“ini kok bisa begini sih, Ndi”
Karena cemas segala bentuk gaya bahasa formal lenyap dari otak Bagas, melihat sikap Bagas yang seperti itu Indira hanya bisa diam dan sesekali meringis menahan perih saat Bagas mengobati lukanya
“Memangnya apa yang terjadi di dalam sana, ini seperti ada benda tajam menancap disini”
“Jangan melebih lebihkan, Dok. Nggak nancap kok hanya jatuh dengan posisi yang salah”
“Tapi apa itu, kok bisa?”
“Tadi ada anak kecil lagi bantuin Ibunya belanja jatuh dan naasnya dia bawa pisau dapur jadinya kena di kaki saya”
“Hmmm… sudah, untung nggak dalam dan nggak butuh jahitan”
“Terima kasih… oh iya, saya harus mengantarkan dr. Bagas kemana ini?”
“Acara berubah… sekarang saya yang akan mengantarkan Anda pulang”
Bagas mengantarkan Indira duduk di kursi penumpang depan dan dia mengambil kembali kendali kemudi bersiap memutar arah mobilnya
“Rendy?”
Tiba tiba Indira menyebut nama seseorang, gadis itu mendorong badannya meju untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Bagas mengikuti kemana arah mata Indira memandang
“Rendy? Oh dr. Indira kenal dia?”
Indira terdiam tidak menjawab pertanyaan Bagas, matanya masih tertuju pada sosok yang ia kenal sebagai Rendy, sahabat kecilnya.
“Sepertinya saya salah orang Dok, Rendy sahabat saya belum menikah”
“Oh begitu…. Bisa kita melanjutkan perjalanan?”
“Ah iya Dokter”
Indira masih sibuk dengan pikirannya, apakah benar yang ia lihat itu bukan Rendy karena ia yakin ia belum lupa bagaimana rupa sahabatnya itu meskipun sejak peristiwa tentang Prasta merusak hubungan persahabatan antara mereka
‘Kalau Prasta ada di kota ini, maka besar kemungkinan Rendy juga ada disini. Lalu wanita dan anak kecil tadi anak istri Rendy…. Dia sudah menikah dengan anak yang sebesar itu??? Kenapa aku tidak tahu, tapi apakah benar itu tadi Rendy. Sepertinya aku tidak salah orang’
Indira terdiam dan sesekali terlihat mengeryitkan dahinya seakan berfikir akan sesuatu. Jari yang ia gigit membuat Bagas sadar bahwa Indira sedang memikirkan sesuatu dengan serius.
‘Rendy?? Siapa lagi Rendy… apakah bagian dari masa lalu Indira yang belum aku ketahui. Tapi sepertinya aku mengenal laki laki tadi… Rendy, apakah itu Rendy sahabat Tama, bukankah dia masih belum berkeluarga, tapi sepertinya tadi dia menjemput seorang wanita dan anak kecil?’
Bagaspun mulai sibuk dengan pikirannya setelah melihat sikap Indira dan seseorang yang Indira kenali. Keduanya larut dalam pikiran masing masing sampai akhirnya tersadar telah tiba di depan kontrakan Indira.


 Dont Miss It :
Part 14 : HOLD MY HAND

PART 14 : HOLD MY HAND




Part 14

Bagas memarkirkan mobilnya dipelataran rumah.. ya Bagas membawa Tama pulang ke rumahnya, ia meminta pembantunya menyiapkan makan siang untuknya juga untuk Tama. Memasuki ruang keluarga, Tama merebahkan dirinya diatas Sofa Beds yang berada di sana dan menghidupkan tivi dihadapannya selayaknya tengah berada di dalam rumahnya sendiri, sedangkan Bagas langsung masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian. Tak lama kemudian Bagas sudah kembali muncul di ruang keluarga dengan pakaian santai ciri khasnya.. kaos oblong dan celana pant.. kali ini pant pendek warna cream gelap menjadi pilihannya. Bagas melemparkan satu kaleng soft drink ke arah Tama. Tidak ada kecanggungan diantara keduanya, yang terlihat kini bukanlah pemandangan antara dokter dan jasa konsultan pembangunan seperti yang nampak selama mereka berada di Waluyo ataupun Medika, melainkan hubungan layaknya dua saudara yang tengah bercengkrama setelah lama tidak bertemu. Ya persahabatan keduanya yang terjalin tanpa kesengajaan mempunyai dua sisi yang akan membuat orang benar benar tidak bisa mengerti. Dua sisi yang sungguh jauh berbeda
“Kamu masih memilih betah disini di temani Mbok Darsih Ray… ckckckck benar benar anak yang tidak berbakti” Tama cuek mengkritik Bagas masih dalam posisinya di atas sofa mengalahkan sang tuan rumah yang memilih merebahkan diri di atas karpet tebal sambil memeluk bantal asyik membolak balikkan halaman majalah
“Hust ngawur kamu… aku masih anak yang sangat taat pada perintah orang tua Tam”
“Hahahaha taat apanya kalau selalu kabur dari bayangannya sendiri. Ngomong ngomong tumben kamu ke Waluyo?”
“Kalau aku sampai melangkahkan kaki masuk Waluyo itu artinya ada yang sangat penting yang harus aku pastikan sendiri… hhhmmm dan itu yang akan aku bagikan padamu hari ini”
“Dibagi????” Tama mengerutkan dahinya merasa bingung dengan kata dibagikan dengannya, apa yang hendak dibagi Bagas dengannya, Pria itu menerka nerka
“Tapi kamu keluar Waluyo dengan wajah sumrigah, terus apa yang akan kamu bagikan?? Ada proyek lagikah yang akan kamu sodorkan padaku?”
“Dasar mata duitan, proyek aja yang ada dalam pikiranmu itu Tam. Apa kalau kita ketemu tidak ada bahasan lain selain bagungan …..” Bagas menutup majalah yang ada di hadapannya dan membenani posisinya untuk duduk menghadap pada Tama
“hmmm....benar benar ajaib ini orang” Bagas menenggak minumannya lalu melemparkan bantal yang menjadi tumpuannya pada Tama yang sedang menikmati damainya semilir angin yang masuk dalam ruangan sambil memejamkan matanya cuek
“Ough…. Santai Bro”
“Bisa ya kamu benar benar jadi orang lain saat berada di luar jika ketemu sama aku… sok polos berlagak nggak pernah kenal… ckckckck ajaib”
“lah… aku kan menjaga wibawa kamu Ray.. masa iya aku diluar ngobrol sama kamu dengan bahasa seperti ini. Apa kata dunia jika….”
“Makanan sudah siap Mas….” Tiba tiba Mbok Darsih memasuki ruang keluarga untuk memberitahukan pada Bagas jika apa yang diperintahkan padanya sudah terlaksana dengan baik dan kini makanan sudah menanti mereka di ruang makan.
“Yuk ah makan dulu, kebanyakan ngoceh ntar kamu makin ajaib Tam”
“hahahahahahaaa” Tama tertawa renyah tanpa beban dan melangkah mengikuti langkah kaki Bagas menuju ruang makan walaupun pikirannya mulai penasaran akan cerita yang masih Bagas gantungkan
“ckckckck kamu bener benar mencintai designku ya Ray, sedikitpun tak ada yang berubah” Tama mengamati setiap sudut ruangan yang ia lewati, sudah lama memang ia tidak main ke rumah Bagas dan keduanya hanya bertemu di Medika ataupun di Café jika ada yang ingin dibicarakan. Bagas mengangkat bahu dan alisnya mendengar pertanyaan Tama sambil terus mengambil makanan dalam piringnya
“Mbok… siapa gadis yang sudah dibawa dr. Raihan kesini?” Tama melemparkan pertanyaannya beralih pada Mbok Darsih yang sibuk membersihkan sisa pekerjaannya di dapur yang berada tepat di depan ruang makan
“Jangan bilang cuma dr. Anggia yang memasuki rumah ini… atau……. Devina???!!”
Tama melongok melihat kearah Bagas saat menyebut nama Devina, Bagas masih konsisten acuh tak acuh dengan segala hal yang Tama bicarakan. Mbok Darsih tersenyum menatap Bagas yang cuek dan terus melahap makanannya tanpa memperdulikan apapun yang Tama ributkan
“Tanya sama Mas Bagas saja Mas Tama… si MBok mah taunya memang cuma neng Anggi yang datang kemari selain Mbak Christine” jawab Mbok Darsih yang disambut dengan suara tawa Tama menggoda Bagas
“Makan dulu jangan ngoceh saja.. kamu akan semakin gila kalau perutmu itu belum penuh” Bagas yang terganggu dengan suara tawa Tama bersuara kesal
“Rugi banget aku Ray… mikir keras untuk mewujudkan konsep rumah yang kamu inginkan ternyata masih sama setelah sekian tahun berlalu penghuninya tidak berkembang. Masa Anggia dan mbak Christine doang yang main kesini…kapan juniormu lahir kalau cuma mereka yang datang …hahahahahah”
“Tenang saja, nggak lama lagi akan ada wajah baru yang bakal setiap saat main ke rumah ini dan mungkin barangkali akan segera jadi nyonya rumah ini”
Tanpa beban kalimat itu meluncur mulus dari mulut Bagas dengan wajah yang sumringah dan makanan masih ada dalam mulutnya menari nari.
Deg…  Tama nyaris menyemburkan makanan yang ada di dalam mulutnya mendengarkan apa yang Bagas ucapkan dengan penuh keyakinan, begitupun dengan Mbok Darsih. Pembantu rumah tangga yang sudah berusia sepuh itu kaget sekaligus sumringah mendengar sang majikan akhirnya memiliki niatan untuk menikah, tapi siapa gadis itu?? Tama dan mbok Darsih tidak memiliki gambaran akan gadis yang dimaksud oleh Bagas
“Siapa?? Devina???”
“Dalam otakmu itu cuma ada nama Devina ya??, kalau itu Devina maka aku nggak perlu lagi menceritakan apapun padamu”
Tama menebak dengan semangat dan rasa penasaran, jauh dalam hatinya ia sedikit hawatir dengan kebenaran yang akan ia dapatkan setelah jawaban yang diberikan oleh Bagas. Bagas tersenyum dengan mata berbinar dan menggeleng penuh keyakinan… Tama menyamber gelas minuman yang ada dihadapannya, seketika bayangan Indira memasuki ruang pikirannya, pertemuan kala itu dengan Tama dan Indira sepertinya bukanlah hal yang kebetulan. Tenggorokan yang sedari tadi terasa normal mendadak kering dan terasa sakit saat menelan... Tama grogi...
“Jangan bilang dia adalah…..”
“Your Right…. Indira. dr. Indira Larasati”
“What????
Tama yang spontan menyemburkan apa yang ada didalam mulutnya membuat Bagas mengeryitkan alisnya sedikit heran dengan reaksi berlebihan yang telah Tama berikan. Dia merasa Tama sudah pernah mendengar ceritanya tentang kencan buta dan juga pertemuan mereka saat bersama Indira seharusnya dapat mengurangi rasa kaget Tama. Selain itu tidak ada yang salah dengan Indira sehingga ia harus bereaksi begitu kaget. Indira bukanlah mantan pacar Bagas ataupun seseorang yang memiliki cerita aneh dan harus menjadi orang yang harus di hindari.
Tama mengusap mulutnya yang belepotan oleh makanan dan air yang ia semburkan, ia sedikit kikuk setelah apa yang ia lakukan, Bagas hanya diam memperhatikan begitupun dengan mbok Darsih. Tama gerak geriknya di awasi ‘tenang Tam, tenang… mungkin pikiranmu salah’ jerit suara hatinya mengutuk setiap gerak badannya yang seakan semakin serba salah dihadapan dua pasang mata di ruangan itu.
“Kamu tahu kan dia dokter yang ada di Waluyo?” suaranya kemudian mencoba mencari pembenaran atas reaksinya, status yang selama ini Bagas tutupi dari setiap dokter di Waluyo dan siapapun tentang apa kedudukannya di Waluyo di jadikan Tama sebagai alasan untuk mengorek kebenaran yang sesungguhnya
“Lantas kenapa jika dia dokter disana?” Bagas bereaksi santai
“Yakin kamu dengan itu, Ray?”
“Itulah yang ingin aku diskusikan denganmu”
Tama menegakkan duduknya mencoba untuk bersikap serius menanggapi apa yang akan Bagas ceritakan, ia merasa apa yang akan Bagas ceritakan akan mempengaruhi sikapnya pada Indira dikemudian hari. Tama memang menyadari dengan sepenuhnya bahwa apa yang ia lakukan tidak ada sisi kebenarannya sedikitpun. Sekeras apapun dia mencoba mengembalikan kesadarannya akan hal itu tapi hatinya selalu menolak. Logika dan hatinya tidak dapat ia kendalikan lagi, sesaat ia mungkin merasa bersalah dan berdosa pada Sekar ataupun Syifa akan tetapi saat melihat Indira ataupun hanya mengingat Indira yang kini berada dalam jangkauannya maka segala logika itu seakan sirna tanpa ia tahu kemana perginya, yang ia tahu inilah kesempatan yang ia miliki untuk menebus dosa pada Indira.
“Sebenarnya aku sudah hampir menyerah pada Indira.. awal pertemuan ini adalah ulah Anggia, tapi seiring berjalannya waktu yang dibarengi usahaku untuk mendekatinya akhirnya kami lumayan dekat. Kedekatan itu pada awalnya nyaris gagal bahkan sebelum dimulai karena Indira yang terjebak pada luka masa lalunya. Dengan segala kemampuan yang aku miliki aku yakinkan dia agar bisa percaya padaku dan berhasil”
Bagas menghentikan ceritanya, ia terdiam bayangan masa indah yang ia lewati dengan tawa bersama Indira seakan kini ada dipelupuk matanya…
“Lalu???” tanya Tama yang masih menunggu kelanjutan cerita Bagas dengan perasaan yang mulai tidak menentu, kata kata Bagas bahwa Indira masih terjebak pada masa lalunya yang ia ketahui dengan sangat benar itu adalah dirinya
“ya, dia sempat menghindariku, tapi itu awalnya saja. Akhirnya kami dekat tanpa ada status yang jelas, aku mengatasnamakan persahabatan untuk tetap bisa mendekatinya sampai akhirnya dia membuka masa lalunya padaku. Masa lalu yang membuatnya tidak bisa membuka diri pada orang lain… aku sempat merasa kasihan padanya tapi itu juga membuatku merasa harus meraih tangan gadis itu. Tembok pertahanannya akhirnya dapat aku tembus bahkan dia juga sempat menerima penghinaan dari Devina. Tapi semua berantakan saat dia melihatku di ruang rapat direksi Waluyo”
“Rapat Direksi?” Tama ikut terkejut dengan pernyataan Bagas tentang keberadaan di rapat direksi Rumah Sakit Waluyo
“Ya, aku memutuskan untuk ambil bagian disana setelah mempertimbangkan banyak hal. Akan tetapi keputusan itu membuat aku jatuh kembali ke titik nol”
Tama semakin merasakan ada yang tidak beres dengan Bagas, Indira telah menceritakan masa lalunya yang artinya siapa dirinya dimata Tama saat ini masih seperti kabut pekat yang tak dapat ia tebak apa yang ada didalamnya. Tama ragu untuk menanyakan apapun lagi, ia takut bahwa apa yang akan ia ucapkan hanya akan memperkeruh keadaan
“Tapi hari ini aku mendapatkan jawaban atas semua perubahan sikapnya”
“Maksudmu??”
“Sekarang aku yakin Indira juga menaruh perasaan padaku, dia sudah lepas dari masa lalunya tanpa ia sadari”
‘lepas??... Indira sudah lepas?apakah saat ini Bagas hanya ingin memberitahuku tentang itu, apakah dia sebenarnya tahu siapa masa lalu Indira’
“Kamu yakin Ray? Apa kamu benar benar bisa memastikan bahwa dia sudah lepas dari rasa sakitnya”
“Tentu saja Tam, hanya saja dia tidak menyadari itu. Hari ini sebenarnya aku berniat untuk memberikan penjelasan tentang siapa aku dan apa alasan yang membuat aku melakukan itu. Dia sih mengatakan bahwa dia sudah mengerti dan tidak mempersoalkan apapun alasan yang membuat aku menutupi identitasku, dia mengatakan pasti alasan itu cukup kuat sehingga aku melakukan itu padanya. Diluar dugaan aku justru mendapatkan kejutan darinya, dia ingin meraih bintang yang ia anggap dapat memberikan penerangan dalam kegelapannya....”
Tama melongo… dia tidak menyangka Bagas akan bertingkah lebay saat ia jatuh cinta… pria itu memberikan sentyum kecutnya merasa geli dengan kata kata hiperbol yang keluar dari dokter tampan yang ia kenal sebagai pribadi cool itu
“Biasa sajalah Tam, nggak perlu mencibir seperti itu…  tapi sebenarnya yang aku butuhkan darimu adalah sebuah saran bukan hanya mendengarkan seperti ini”
“oh?”
“Ya… menurutmu apa yang harus aku lakukan padanya?.....
Ok.. dia memang sempat marah karena merasa telah dibohongi tapi diluar semua itu dia saat ini tengah dilema antara melepaskan uluran tanganku ataukan terus menggenggamku”
“Menurut ceritamu, dia pribadi yang susah untuk ditaklukan. Jika memang…..”
“Sebentar… apa aku harus mencari si Prasta dulu untuk meyakinkan dia agar tidak lagi menjadi bayangan langkah Indira?”
“Prasta?”
“Ya… masa lalunya itu bernama Prasta dan saat ini tanpa diduga muncul kembali dihadapan Indira tanpa bisa dihindari lagi. Indira ingin menolak tapi tidak bisa dia lakukan karena tidak ingin mengecewakan dan juga ia takut kalau sikapnya ini akan membuat Prasta merasa memiliki peluang”
Tama tertegun beberapa saat sementara Bagas yang sedang bersemangat masih tampak memikirkan langkah untuk menyambut kembali sebuah mimpi yang seakan tengah berjalan kearahnya…
“Bersikaplah seperti lelaki Ray…. Jangan terlalu masuk dalam urusan pribadinya kala ia belum memberikanmu ijin jika kamu tidak ingin kehilangan dia lagi”
“Maksudmu?”
“Kamu memiliki otak yang lebih pintar dariku, pastinya kamu mengerti apa yang aku maksudku tanpa perlu aku perjelas lagi”
***

Ponsel itu terus ditatap oleh Sekar, jam pelajaran sudah usai dan para siswa telah meninggalkan kelasnya sesaat setelah bel dibunyikan. Sekar belum juga beranjak dari kursinya, pikirannya melayang layang tak tentu arah. Ketakutan yang ia coba redam selama ini akhirnya tak dapat ia kendalikan lagi.
“kamu menginginkan aku berbuat apa?, Tama memang sahabatku dan Indira juga. Saat ini aku jauh lebih bingung dari pada kamu, Sekar”
“Lalu apakah kamu akan membiarkan aku menanggung dosa sendirian, apakah kamu lebih senang melihat aku hancur tanpa masa depan?”
“Dari awal, bukankah Tama sudah mengatakan padamu kalau dia memiliki seseorang yang ia sayangi. Dia berpacaran denganmu dan kamu tidak berkeberatan saat dia mengatakan bahwa dia mencintai gadis lain, gadis yang mendiami sisi hatinya jauh lebih lama sebelum kamu masuk dalam kehidupannya”
“Tapi Ren…. Dia memiliki masa depan yang sangat cerah bahkan saat dia harus kehilangan Tama sekalipun. Sementara aku??? Lihat aku, Rendy. Jika Tama pergi dariku apa lagi yang bisa aku banggakan. Nothing”
“Huft… kenapa kalian menyeretku dalam pusara tak bermuara seperti ini? Selama ini kalian memaksa aku untuk menjadi seorang penghianat dan sekarang kalian memaksa aku untuk menjadi seorang algojo. Hah… kalian benar benar gila”
“Ren… aku mohon, hanya kamu yang bisa meyakinkan Tama. Nasibku ada di tanganmu, Ren… please bantu aku sekali lagi, aku mohon”
“Kamu siap hidup dalam penantian yang entah kapan akan berakhir?”
“maksudmu?”
“Tama mencintai Indira jauh lebih dalam dari apa yang ia sadari, apa kamu siap menunggu Tama bisa melepaskan perasaan cinta itu sepenuhnya. Hidup dalam bayang bayang akan membuat kamu semakin tersiksa, Sekar. Kamu sadar bahwa dirimu hanya pelampiasan Tama saat Indira jauh darinya dan kamu sering menangis karena itu dihadapanku. Sekarang kamu memaksa aku untuk membantumu agar bisa sepenuhnya hidup dengan orang itu. Jika kamu siap, aku akan membantumu. Biarlah aku menanggung rasa bersalahku pada Indira, tapi aku tidak bisa membutakan mata pada nasibmu”
“Aku tidak ada pilihan lain Ren, hanya itu yang bisa aku ambil. Aku tidak ingin menjadi pendosa yang terus diburu rasa bersalah seumur hidup saat memandangnya kelak. Aku tidak pernah mengenal dan mengetahui Indira dengan pasti, setidaknya itu akan membantu aku dari segala perasaan marah yang akan aku tanggung saat bayang bayang itu mengikutiku. Aku siap bersaing dengan sesuatu yang tak pernah aku ketahui. Tolong bantu aku, Ren”
Sekar menarik nafas panjang, menghubungi Randy hanya akan menambah daftar panjang hutang budinya pada sahabat suaminya itu, segala apa yang pernah Rendy ucapkan di masa lalu seakan terus mengiang di telinganya seumpama sirine peringatan bahaya. Apa yang ia takutkan selama bertahun tahun ini akhirnya masuk dalam kehidupannya tanpa permisi. Bukan, bukan masa lalu itu yang masuk tanpa permisi, melainkan dirinyalah yang tanpa ijin telah masuk dalam kehidupan masa lalu itu dengan cara yang kejam.
“Ibu Sekar, nggak pulang Bu” 
Sekar tak bergeming, suara rekan kerjanya seolah menjadi udara yang lewat tanpa rupa. Ia tenggelam dalam pikiran kalutnya dan tetap memandang ponsel yang ada ditanggannya.
‘Tok tok tok’
Ketukan pintu kelas membuat Sekar tersadar….
“Ya?”
“Bu Sekar nggak pulang, apa ada jam pelajaran tambahan?”
“Oh… nggak Bu, sebentar lagi saya juga akan pulang. Ibu duluan saja”
Sekar menarik lengan panjangnya sekedar ingin mengetahui waktu yang ia lewatkan dalam pergulatan pikiran siang itu
“Astaga…. Kenapa aku menjadi begitu kacau. Huft”
Sekar sekali lagi menghembuskan nafas panjangnya, ia menyadari bahwa ponsel yang ia pegang selama beberapa menit terbengong dalam ruang kelas juga menampilkan jam di layar utamanya, ia merasa sangat bodoh.
---
Ini adalah akhir pekan, seharusnya hari ini adalah hari dimana suaminya kembali pulang dari kota dimana ia berdomolisi karena pekerjaan, tapi suaminya sudah pulang beberapa hari yang lalu
“Bunda… Papa nggak pulang lagi?”
“Kan Papa baru pulang kemarin, Syifa harus menghitung hari lagi sampai Papa pulang”
“Kapan Bun?”
“Kalau Syifa hitungnya mulai besok, berari di kalender itu butuh 5 lingkaran lagi. Papa akan pulang di lingkarang yang ke enam”
“Hmmmm Papa gitu! Syifa dilupakan terus…. Tapi Bun, saat Papa nanti pulang, Papa akan membawa Hadiah kan buat Syifa?”
“Pasti…. Sekarang, Syifa masuk gih…”
“Bunda telepon Papa dulu dong, Syifa mau mengingatkan Papa untuk bawa hadiah”
Syifa menunjuk pada ponsel yang ada dalam genggaman Sekar, gadis kecil itu memasang wajah memelasnya untuk meminta sang bunda menghubungi papanya. Sekar tersenyum mengusap lembut pipi Syifa…
‘Seandainya Bunda bisa membawa Papamu saat ini, pasti bunda akan lakukan sayang’
Batinnya berharap…
“Papa lagi sibuk, Sayang… nanti Bunda pasti hubungi Papa ya…. Sekarang Syifa main dulu, Bunda masih ada pekerjaan….”
Gadis kecil itu mengangguk dan mengikuti perintah Bundanya untuk meninggalkan sang bunda di ruang kerjanya bersama tumpukan buku buku yang ia tidak mengerti.
‘Huft seberat inikah yang harus aku hadapi kini, seperti inikah pergulatan batin yang dialami Indira waktu itu antara kekewaan dan persahabatan.. betapa kejamnya aku sebagai sesama wanita, inikah hukuman dariMu ya Rabb’
Sekar kembali tertegun mengingat setiap kalimat yang suaminya ucapkan tentang Indira, dia mulai memahami setiap maksud yang suaminya sampaikan pada waktu itu dan konsekwensi atas keputusannya waktu itu mulai ia rasakan kini.
‘ini yang kamu inginkan dari hubungan kita selama ini, bahkan aku sangat terbuai mengikuti setiap alur yang kau ciptakan sehingga tanpa menyadari semua telah terjadi. Aku pun tidak ada alasan lain selain melepas semua janji yang aku pegang selama ini... janji yang yang munkin telah aku lupakan sejak kamu memasuki kehidupanku’
‘aku tidak akan menuntut hal yang lebih dari ini lagi Tama, aku hanya tidak ingin semua yang sudah kita lakukan atas kesalahan ini berakibat lebih memalukan nantinya’
‘aku paham apa yang kamu maksudkan Sekar, akupun tidak akan memilih jalan yang akan membuat aku akan dikejar dosa selama hidupku’
‘jika kamu mengijinkan, biar aku yang bicara dengan Indira dan meminta maaf padanya atas nama dirimu juga diriku tentunya. Paling tidak keadaan akan berbeda jika kami bertemu karena kami sesama perempuan.. dia akan lebih memahami keadaannya’
‘Jangan sekalipun kamu mendekati Indira, jangan mencoba untuk masuk dalam kehidupannya.. tak mengenalnyapun kamu sudah memberikan luka yang tidak pernah ia sangka dan mungkin luka yang cukup dalam walau sekali sayatan... biarlah aku yang akan mengurusnya sendiri. Sekali lagi jangan pernah mencoba mendekati Indira, apa yang dia hadapi nantinya mungkin akan sangat sulit baginya untuk berdiri dihadapanku juga Rendy’
‘tapi paling tidak tolong beri tahu aku seperti apa dia, selama ini aku hanya mencoba untuk menutup mata tentang dirinya’
‘tidak akan pernah, Sekar.... dalam sekejap aku membuyarkan segala impiannya dan aku tidak akan menambahkan garam dalam luka itu. Cukup dia tahu bahwa aku mengingkari janjiku, tidak untuk melihat seperti apa kejamnya pengingkaran itu... yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana kamu akan menghadapi orang tuamu juga orang tuaku, itu saja. Selama aku masih kuat berdiri diatas kakiku, Indira tidak akan pernah berdiri di hadapanmu’
Sekar menjatuhkan dirinya diatas meja, air mata tidak lagi dapat ia bendung... Indira adalah momok dalam kehidupan yang selama ini ia takutkan, setelah sekian tahun berlalu nama itu muncul dan sanggup membuat suaminya bertingkah aneh. Pikiran Sekar tidak lagi mampu menebak apa yang sudah terjadi pada suaminya saat mereka berada dalam satu kota. Bayangan akan yang ia lakukan apa dimasa lalu untuk mendapatkan Tama mulai mengusik dalam tiap kesempatan
‘Rendy... ya kali ini tidak ada pilihan lagi buatku untuk menghindar, jika aku masih sembunyi maka selamanya aku harus sembunyi dan ditempa rasa capek tanpa sebab seperti ini, aku tidak boleh seperti ini... maafkan aku Mas’
***
‘Rendy, tolong aku’
Rendy memandang Message Text yang masuk dalam ponselnya, perasaannya mulai tidak enak. Setelah berhasil memiliki Tama sebagai seorang suami, Sekar tidak pernah sekalipun mengucapkan kata “tolong” padanya. Komunikasi yang terjalin antara mereka tidak lebih dari komunikasi biasa tanpa pernah bernada serius. Dan saat ini pesan itu sangat singkat namun cukup mampu membuat pikiran Rendy terpecah, dan semua pikiran itu tak pernah menemukan muara lain selain Tama.
‘Ada apa? Syifa sakit?’ balasnya singkat mencoba berpikiran positif. Beberapa menit tidak ada jawaban dari Sekar. Rendy terus berpikir tentang segala kemungkinan dari persoalan yang akan membuatnya berada dalam situasi sulit, sekali lagi. Tampak pesan itu telah dibaca oleh Sekar, tapi balasan tak kunjung ia dapatkan. Sekar, Tama dan Indira... entah panggung kehidupan mana lagi yang mereka perankan kini, Rendy hanya bisa menggeleng dan sabar menunggu.
Sementara itu Sekar yang mengalami perang batin antara mengikuti apa kata suami dan mencoba berperang dengan caranya masih menatap dan membaca balasan dari Rendy, ia ragu untuk meneruskan langkahnya melibatkan Rendy dalam pusara masalah kehidupan yang ia alami
‘Andai ada cara lain yang dapat aku tempuh, maka aku tidak akan melibatkan dirimu, Ren. Tidak ada lagi yang bisa aku mintai pertolongan saat ini kecuali dirimu’ kesahnya dalam hati seiring hembusan nafas berat yang keluar melegakan dadanya
“Maafkan aku, Ren... mungkin aku akan menempatkanmu pada bibir jurang simalakama sekali lagi” ia bergumam sendiri sambil jarinya menari lincah menuliskan pesan balasan untuk Rendy
‘Tolong kamu jemput aku di stasiun akhir pekan ini, aku harus ketemu dengan Indira’
‘Indira... ada apa lagi dan kenapa kamu harus menemui Indira?’
‘Aku nggak akan menyakiti Indira, Ren. Aku hanya ingin mengenalnya tidak  lebih’
‘Bagaimana dengan Tama, bukankah dia selalu pulang akhir pekan’
‘Dia tidak mengetahuinya, dia kemarin pulang diluar jadwal dan kemungkinan dia tidak akan pulang dan tolong rahasiakan kedatanganku dari Mas Tama’
‘Sekar... tolong jangan libatkan Indira dalam kehidupan kalian apapun alasanmu itu. Aku bukan tidak ingin menolongmu, tapi aku tidak mau menambah beban hati Indira jika dia harus melihatmu’
‘beban hati?? Dia juga menjadi beban hati dalam kehidupanku... setidaknya aku harus bicara dengan dia untuk mengurangi segala beban yang menghimpit dada kami berdua. Aku tahu jika saat ini Mas Tama mengetahui keberadaan Indira dan aku tidak ingin dia ataupun Mas Tama melakukan kesalahan yang sama seperti yang sudah sudah lakukan saat aku terjebak dalam tuntutan hati yang tidak pernah mengenal kata sudah’
‘Indira bukan pribadi seperti itu Sekar, percalah dia tidak akan mengganggu Tama sedikitpun. Posisimu masih aman meskipun Tama mencoba sekuat tenaga Indira tidak akan pernah goyah. Biarkan Indira dengan kehidupannya, dia sudah tenang dengan kehidupannya dan mungkin segera akan menemukan senyum bahagia diujung perjalanannya’
‘Maksudmu?? Dia akan menikah?’
‘Yang aku ketahui dia berhubungan dengan rekan sejawatnya, sesama dokter. Dan aku harap kamu tidak merusak itu semua dengan muncul dihadapannya. Tenangkan dirimu, Tama masih milikmu sepenuhnya’
Ada kelegaan yang Sekar temukan dari komunikasi yang ia lakukan dengan Rendy, dia tahu Rendylah satu satunya dermaga yang akan memberikannya ketenangan saat dalam kekalutan karena hanya Rendy yang mengetahui setiap sisi dalam kehidupan suaminya bahkan bayangannya dalam persembunyianpun ia yakin Rendy mengetahuinya.
“Bunda, bagaimana... Papa akan pulang dengan kadonya kan?”
Suara Syifa yang kembali masuk dalam ruang baca membuat Sekar kaget, ia menaruh ponselnya lalu menghampiri putri kecilnya yang masih menunggu jawaban. Sekar tersenyum dan memegang pundak sang putri sambil berlutut dihadapannya agar bisa menatap mata bening gadis cilik itu
“Bagaimana kalau kita ambil kadonya kepada Papa... kita kasih Papa kejutan. Syifa maukan kalau akhir pekan nanti kita ke tempat kerja Papa?... ah bukan akhir pekan tapi secepatnya!”
“Bunda serius?? Kita ke tempat Papa?? Ya.... Syifa mau Bun... Syifa pingin pergi kesana”
Gadis itu memeluk sang Bunda dengan kegirangan, Sekar menerima pelukan sang putri dengan hangat ‘Kita akan selalu bahagia, sayang.... Bunda pastikan kamu akan selalu ceria apapun itu caranya’ janji Sekar pada putrinya dalam hati
Huuft apapun itu Sekar telah mantap dengan langkahnya, dia tidak perduli apa yang akan terjadi baik itu padanya ataupun Indira, yang dia butuhkan hanyalah keyakinan hati yang akan ia dapatkan setelah ia mampu menemui Indira dan berbicara dengan mantan pacar suaminya itu.


Don't Miss It :
Part 13 : HOLD MY HAND