Senin, 05 September 2016

PLAY GIRL JATIH CINTA : Siluet

PLAY GIRL JATUH CINTA

Part 8. Siluet

Hendra lunglai menyandarkan dirinya pada badan sofa yang ada di kafe, suasana malam minggu ini masih sama, ramai dan sangat kontras dengan apa yang kini ia alami. Lelah hati membuat dia harus menyerah pada keadaan yang merenggut habis semangatnya. Perasaannya mulai tidak nyaman dengan keadaan yang ia jalani, meskipun ia sangat mengenal Tata sepanjang ia terlibat kerjasama dengan gadis itu, akan tetapi keadaan menjadi lain saat perasaan mulai terlibat. Dulu dia seakan cuek dengan segala macam yang menempel pada nama gadis cantik itu, rumor rumor tak sedap syang melekat padanya ia acuhkan hanya untuk mendapatkan perhatian Tata. Kini seakan akan keadaan itu berbalik arah, Hendra justru sangat tersiksa oleh permainan hatinya sendiri. Bukan hal baru jika Tata adalah gadis egois dalam urusan cinta, dia bukan gadis yang akan mengabulkan apa yang diinginkan cowoknya dengan mudah bahkan jika itu keingin yang sangat wajar sekalipun akan menjadi hal yang lebih sulit dari pada perjuangan menembus persaingan dalam suatu casting yang biasa ia lakoni. Satu satunya hal yang dapat ia lakukan pada gadis yang kini berstatus sebagai pacarnya adalah menggandeng tangan, terima tak terima hanya itu yang bisa ia banggakan menyandang status sebagai cowok seorang Violetta.
Satu Coffee Mix sudah tandas habis dari cangkirnya bahkan satu piscok yang ia pesan dengan double porsi juga hanya meninggalkan remah remah keju yang tercecer di atas piring, Hendra masih belum bisa mengatasi problem yang kini memberatkan langkahnya untuk kembali pulang mengistirahatkan diri
“Hendra??? Ngapain lo disini?...... hm sendirian?”
Pengunjung yang tidak lain Zia dan Keyra berhenti tepat disamping sofa tempatnya mengurai simpul simpul yang masih terkunci di otaknya itu celingukan mencari sesuatu
“Lo ngapain Zi… malam minggu jalan ma Keyra, nggak rugi lo”
“Mas….”
Zia menyeret Keyra duduk satu meja dengan Hendra dan memanggil seorang pelayan untuk memesan sesuatu. Hendra menegakkan badannya kaget dengan reaksi Zia yang justru menjatuhkan pilihan untuk duduk semeja dengannya
“Lo sendirian kan Hend…. Gue gabung disini ya, itung itung biar lo nggak menggalau”
“Anjir… sok tau lo, tu banyak meja kosong. Ah hobby lo selalu ngrecokin gue mulu”
Keyra hanya diam tak bersuara tapi dia bungkam di posisinya menikmati suasana yang ada. Hendra adalah salah satu model yang dikenal berparas mempesona dengan postur tubuh ideal serta kepribadian yang mumpuni sebagai seorang cowok idaman, tidak heran jika banyak cewek bahkan sesama rekan model yang menginginkan dekat dengannya terkecuali Tata. Disaat banyak model yang berusaha untuk mendekati dan menarik simpati Hendra justru Tata satu satunya orang yang lempeng dan terkesan acuh dengan keberadaan Hendra walaupun Tata bukanlah model yang paling cantik dan bahkan dia adalah pendatang baru pada saat dipasangkan dengan Hendra untuk pertama kalinya.
Pesanan Zia telah disajikan dan dua gadis itu masih bertahan di meja Hendra tanpa perduli dengan omelan Hendra yang tiada hentinya mengusir mereka dari sana, tak ayal Hendra ikut menyantap apa yang Zia pesan sehingga gadis itu sedikit meradang
“Heeeeend……. Ah Lo bikin selera gue ilang deh”
“Salah sendiri mengganggu kenyamanan gue”
“Nyaman dari Hongkong, lo itu bukannya nyaman tapi sedang gegana…. Ngaku deh lo lagi galau kan?”
“Emang terlihat jelas ya, Zi”
Zia sontak tertawa lebar dengan reaksi yang Hendra berikan, dia tidak menduga kalau Hendra akan sangat mudah terpancing dengan apa yang ia katakan. Keyra terkekeh dengan suara tertahan. Dia tidak begitu mengenal Hendra layaknya Zia yang sudah sering terlibat project bareng dengan Hendra.
“Lo jangan pernah bohong deh sama gue, Hend. Sia sia…. Itu muka lo nggak bisa bohongin gue. Lagian mana ada orang bahagia sendirian di malam minggu begini. Hahahahhaaa pacar lo kemana, hangout sama bodyguardnya??”
“Lah lo juga sendirian….ngapain ngajak Keyra, biar nggak ketahuan kalau lo lagi jomblo?”
“Sorreeeei ya Hend…. Gue sih baru kelar kerjaan jadinya makan dulu sama Keyra. Ya nggak Key. Lagian gue jomblo juga jomblo bahagia. Nggak kayak lo”
Hanya anggukan yang Keyra berikan sebagai jawaban. Gadis itu tidak banyak mengeluarkan suara, dia tahu siapa dia dan siapa Hendra. Kabar yang berhembus tentang Hendra dan Tata pun sudah mampir di telinganya, rasanya dia merasa tidak cukup memiliki nyali untuk berakrab ria dengan model senior sekelas mereka.
“Ngomong ngomong Zi… kemarin lusa lo terlibat fashion shownya Mbak Kia kan?”
“Huum, kenapa?”
Zia yang sedang menyantap Spagethi dihadapannya merespon Hendra dengan santai
“Ini Keyra juga ikutan…. Memang kenapa Hend?”
“Violetta juga ada kan?”
Dengan sedikit melirik Keyra karena merasa tidak enak hati membahas masalah pribadi, Hendra mulai melancarkan aksinya. Dia mengetahui Tata terlibat acara itu dari Bowo saat dia memintanya mencari tahu keberadaan Tata yang seakan tidak membutuhkan dirinya sejak ia kembali dari Surabaya seminggu lalu. Tata seakan menjaga jarak dan saat ditegur justru yang ada hanya adu mulut tak berujung. Keras kepala Tata susah untuk dikalahkan. Sulit di tebak apakah Tata merasa di nomor duakan ataukah dia punya alasan lain, Hendra tidak berani berspekulasi.
Zia kembali mengangguk merespon pertanyaan Hendra dan pemuda berkulit putih itupun kembali antusias.
“Dia sama siapa??”
“hmmm nggak tahu, emang kenapa…. Dia nggak bilang sama lo?”
“Diantar sama si Al apa sama siapa?”
“Nggak tahu Hend…. Lo tau nggak Key?”
Keyra sedikit kaget tidak menyangka kalau bola akan dioper padanya. Dengan sedikit kikuk dia sedikit berpikir mengingat kejadia beberapa hari lalu yang sudah ia lewati
“Kalau nggak salah waktu itu sama wanita muda yang wajahnya kebule bulean deh Mbak… waktu itu aku sempat ditawari untuk ikut mobilnya soalnya kan hujan tuh”
“Tuh… sama wanita bule. Lo tahu nggak dia punya temen bule?”
Tanpa melihat bagaimana wajah Hendra yang memutar otak menebak siapa orang yang Keyra gambarkan, Zia bertanya
“Bule??? Mamanya bukan?”
“Hmmm nggak yakin sih kalau itu mamanya, masih muda kok sekitar 30 an lah”
“Mungkin nggak kalau itu tantenya atau keluarganya gitu…. Tu muka Tata kan oplosan Hend”
“Aawch”
Hendra mendaratkan satu jitakan di kepala Zia yang tanpa pikir panjang memberikan istilah pada penampilan Tata
“Yak an bener sih ah… Bapaknya Bule Indonesia Belanda, Emaknya katanya makin amburadul campurannya ada belandanya, ada chinesnya juga….. itu kira kira wajah si wanita itu lebih mirip bule mana Key”
Keyra menggelengkan kepalanya bingung dan dua pasang mata yang berkonsentrasi padanyapun akhirnya hanya bisa diam…
“Hah sudahlah gue pulang aja dari pada makin puyeng hadapi lo Zi”
Hendra mengambil jaketnya dan meninggalkan Zia dengan wajah terus seakan akan menertawakan kebingungannya
“Woooi…. Lo konsul aja gih sama si Al biar nggak gamang gitu”
Hendra melambaikan tanganya mengacuhkan teriakan Zia yang terdengar masih mengolok perasaan yang kini ia rasakan
---

Zaldy masih bertahan dalam kamarnya, tidak seperti biasanya ia betah berada dalam ruangan 4x5 m2 itu. Pemuda itu merebahkan dirinya diatas kasur sambil memainkan ponsel. Sesekali ia terlihat tertawa dan sesekali mulutnya mengumpat tidak jelas dalam tawanya sampai tidak menyadari kedatangan sang mama yang menyelinap masuk dalam kamar
“Oh my god” setengah berteriak dan dengan gerak reflek bangun dari posisinya Zaldy menyambut kedatangan nyonya Martha yang tiba tiba duduk di tepi ranjang. Zaldy memandang wajah wanita yang ia sayangi itu dengan keheranan. Nyonya Martha hanya diam dan wajahnya sedikit sendu
“Ih kok cemberut sih Ma… ada apa, kangen sama papa yaaaaa?”
Goda Zaldy dengan gaya selengekan anak muda masa kini. Nyonya Martha semakin melengos menggulung habis semua senyum yang ia miliki. Zaldy semakin bingung dengan sikap mamanya yang demikian jauh dari keseharian ceria yang ia miliki.
“Ih Mama kenapa sih? Kangen Tata lagi??? Minta antar ke rumah tante Jasmine?”
Nyonya Martha menggelengkan kepalanya
“Ya terus kenapa, kok mukanya sedih gitu?.... hayoo cerita sama Al”
Zaldy memutar posisi sang Mama menghadap padanya, wajah wanita paruh baya itu masih tidak memancarkan apapun, ekspresinya tidak berubah. Sepersekian menit Zaldy membiarkan sang mama diam dan saling memandang untuk mengetahui sejauh apa wanita yang telah melahirkannya itu menyimpan kesedihan. Nyonya Martha bertahan dalam diamnya sampai pada saat Zaldy hendak memeluknya justru tangan halus mendorong tubuh Zaldy dengan lembut
“Kapan kamu punya cewek seperti masmu?”
Zaldy membelalakkan matanya yang tidak begitu besar itu tak percaya dengan apa yang ia dengar
“Mas Raka punya pacar???”
Nyonya Martha mengangguk pelan dan kembali menatap Zaldy dengan penuh harapan akan jawaban sang putra
“Siapa Ma? Kok Al nggak tahu yang mana pacar mas Raka?”
“Yang waktu itu datang sama kamu bukannya pacar masmu?”
Zaldy kembali terdiam sedikit mengingat siapa yang nyonya Martha maksudkan dan sedetik kemudian pecah suara tawa Zaldy saat ia menyadari siapa yang nyonya Martha maksud sebagai pacar Raka
“Ih kenapa kamu malah ketawa??.... Mama tanya kapan kamu punya pacar??”
“Mamaku sayang…. Apa hubungannya pacar Mas Raka sama Zaldy. Kenapa Mama harus tanya kapan Al punya pacar?”
“Mama nggak pernah tahu kamu dekat sama siapapun… mama nggak mau kamu punya pacar dengan tiba tiba seperti masmu. Mama harus tahu dulu siapa calon pacarmu”
“Ya ampun Mama….. ini pacar Ma, bukan calon istri??? Belum tentu Mas Raka bakal nikah sama dia, baru pacaran Ma… biarin aja kenapa sih”
“Ini anak… semua orang dewasa kalau pacaran itu arahnya ke pernikahan Al. Ih Mama nggak mau ya anak mama mainin anak gadis orang. Masmu itu udah dewasa, usianya udah siap untuk menikah, dia bukan ABG yang masih menye menye mencari jati diri kayak kamu”
“Al??? ABG???…. Mama, Al udah gede ma, bukan ABG lagi. Ih sama anak sendiri sebut menye menye”
“Alaaah pokoknya mama mau kalau kamu suka seseorang cerita dulu ke mama, nggak main srudukan kayak masmu”
Wajah nyonya Martha kembali sewot saat mengingat Raka, putra pertamanya yang kini sedikit mengecewakannya
“Mama kenapa kecewa, mama nggak siap mas Raka menikah?”
“Bukan itu Al… Mama nggak suka sama ceweknya!”
“Itu Mbak Irene, Ma….. ah masa mama nggak kenal sih? Apa Mama sudah tanya sama mas Raka kalau itu pacarnya? Apa sudah pasti mereka pacaran?”
“Justru karena itu Irene makanya mama kecewa…. Yang mama tahu masmu dari dulu menghindari Irene, tapi kenapa sekarang jadinya Irene……dan mama nggak mau tanya sama masmu”
“memangnya kenapa Ma, mbak Irene itu cantik loh… pinter lagi dan orangnya nggak sombong”
“Dari dulu mama nggak suka sama Irene. Dimata Mama dia itu pintar menyembunyikan sesuatu”
“Maksud Mama?”
Zaldy sedikit penasaran dengan pendapat mamanya tentang Irene. Dimata Zaldy , Irene adalah sosok sempurna yang ada di sekitar Raka karena dialah gadis yang menjadi primadona pada saat Raka masih di bangku SMA
“Mama tahu dia tidak menyukai Tata, tapi saat mama membicarakan Tata dia sok memasang wajah manisnya antusias menanggapi”
“Mama kapan ngomongin Tata sama mbak Irene???”
Kini rasa penasaran Zaldy semakin menjadi jadi, dia menangkap ada beberapa kejadian di rumah itu yang telah terlewatkan olehnya
“Makanya Mama tuh berharap kamu lebih sering di rumah Al…. Irene itu sering datang kesini sekarang walaupun Raka nggak ada di rumah. Katanya mampir karena kebetulan lewat, tapi ujungnya ya nungguin Raka pulang. Mama kan jadi kesel”
“Hahahahahaaa mama lucu ih, dibaikin sama calom mantu kok ya seperti itu. Berbesar hati mamaku sayang. Kalau mas Rakanya bahagia sama mbak Irene, apakah mama nggak ikut bahagia”
“Anak mantu dari manaa…. Mama belum kasih lampu hijau ya…..”
“Hahahhaaa kasihan mas Raka, mama protes saja gih sama mas Raka”
Zaldy masih menahan tawanya menghadapi wajah nyonya Martha yang konsisten cemberut sepanjang percakapan mereka berlangsung
“Pokoknya ya Al… kalau kamu dapat pacar, mama maunya dia itu seperti Tata…. Baik, tulus dan nggak pernah pura pura”
“Ih Mama mah nggak tahu aja egoisnya kayak apa…. Huuuuuuu ampun dah”
“pokoknya itu… mama nggak mau lagi ditawar tawar”
Nyonya Martha yang sudah berdiri di depan pintu menatap Zaldy tegas dengan reaksi Al yang terbengong bengong tidak menyangka jika sang Mama akan seserius itu.

Sementara itu Raka yang mulai bimbang akan pendiriannya selama ini mulai goyah akan kata kata Gunawan. Kehadiran Irene yang mulai aktif mendekatinya kembali membuatnya sedikit berfikir untuk menggenggam tangan gadis itu. Ya Irene adalah seseorang yang selama ini sangat telaten dan sabar berada disisinya meskipun tak jarang Raka memberikan penolakan halus. Kini disaat sekian tahun berlalu dan dengan apa yang sudah ia miliki, Raka mulai goyah. Selama ini dia sangat yakin akan penolakannya meskipun ia sendiri tidak memahami alasan pasti ia menolak setiap perhatian yang Irene berikan, bukan hanya Irene bahkan semua cewek yang mendekatinya akan mengundurkan diri sebelum sempat melangkah maju karena sikapnya yang dingin. Raka goyah.
Satu bingkai foto yang ia pajang diatas mejanya ia pandang lekat lekat
‘Keluarga bahagia, sudah saatnya kah ada sosok lain yang ikut bergabung disana? Apakah itu Irene?..... dia sangat sabar dan sangat mengenal kepribadianku, pembawaannya yang kalem dan telaten mungkin akan mudah berbaur dengan mereka (keluargaku). Ah apakah harus Irene, tidak adakah wanita lain yang bisa masuk disana? Tapi siapa.... tak ada satu wanitapun yang ada dalam kehidupanku selain mama dan Tata. Tata??’
Raka segera mengalihkan pandangannya dari pigura kecil yang ada dihadapanya beralih ke layar laptopnya saat nama Tata tiba tiba muncul dalam pikirannya. Dibibirnya tersungging senyum tipis menertawakan dirinya sendiri. Ia sadar nama Tata adalah satu satunya wanita yang merupakan orang asing diluar keluarganya yang selama ini sangat menempel dalam kehidupannya, tapi jika ia memikirkan kemungkinan Tata menjadi bagian keluarga dengan status berbeda dari yang selama ini gadis itu miliki adalah hal terkonyol yang sama sekali tidak pernah masuk dalam perencanaannya meskipun diakuinya bahwa gadis itu sangat cantik dan menarik, tapi baginya yang sangat mengenal Tata, menjadikan Tata sebagai kekasih itu lain cerita.
Raka masih tersenyum geli sendiri oleh pikiran yang sempat melintas tentang Tata, ia meneguk minumannya dalam satu kali tegukan untuk membasahi tenggorakannya yang mulai kering sampai pada saat yang sama ponselnya berbunyi
“Ya Hallo”
“Dimana, masih di kantor?”
Raka terdiam sesaat, ia melihat kembali nama yang tertera dalam layar ponsel ‘Irene’..... huft satu nafas panjang ia hempuskan menyesali kebiasaannya yang tidak pernah melihat siapa yang menghubunginya
“Ada apa Ren?”
“Iya... kamu dimana, dikantorkah.... sibuk?”
‘kamu?’ dahi Raka mengerut saat menyadari Irene menggunakan kata kamu untuk memanggilnya, bukan lagi Lo yang seperti biasa ia gunakan
“Iya... gue masih di kantor, kenapa?”
“Nggak apa apa sih, kalau gue mampir kira kira boleh nggak?”
“Untuk apa?”
Irene terdiam tidak memberikan jawaban... Raka kembali berpikir, apakah kata kata yang ia keluarkan terlalu kasar pada gadis itu sehingga dia hanya dia untuk satu pertanyaan mudah.
“Emmh... Ren, lo masih disana kan? Halo...”
“Eh iya Ka... sory, kalau kamu masih sibuk nggak usah deh”
“Oke kamu datang aja, ini kerjaan juga sudah selesai dan sebentar lagi mau pulang. Kalau lo mau main kesini bolehlah gue tungguin”
“Nggak Ka, kalau lo mau pulang ya sudah pulang saja....”
“Beneran nggak jadi?”
Raka sedikit melumer
“Kalau lo udah deket dan mau main kesini ya sudah lo kesini aja gue tungguin”
“Beneran nggak ganggu lo?”
“Udah kesini aja, nggak apa apa”
Tidak membutuhkan waktu lama Irene sudah ada dihadapan Raka, sengaja Rak menunggunya di depan kantor karena ia sudah membanyangkan suasana canggung yang akan mereka hadapi jika berada dalam satu ruangan berdua saja. Angan Raka sudah bisa menebak seperti apa Irene jika berhadapan dengannya karena gadis itu akan benar benar menjaga imagenya yang dia miliki.
“Kita langsung jalan aja ya?”
Sapa Raka dengan senyum mengembang dibibirnya, Irene sumringah. Pipi halusnya bersemu merah dengan sambutan Raka yang sudah ia nantikan selama ini. Ia menyerahkan kemudi pada Raka seperti halnya ia menyerahkan segala harapannya pada pemuda berwajah menawan itu.
Tidak ada tujuan yang terbayang di benak Raka, ia mengemudikan mobil Irene sesuai rute yang rutin ia lewati setiap hari dan satu satunya tempat yang terlintar adalah taman terdekat dengan perumahan tempat tinggalnya. Mobil telah diparkirkan dan mesin dimatikan, Irene tertegun sedikit bingung. Ia tahu Raka bukan orang yang suka dengan keramaian seperti sebuah taman, akan tetapi saat ini dia justru membawa dirinya ke tempat itu. Apakah Raka benar benar telah memberikan lampu hijau untuk dirinya? Apakah ini sebuah kencan? Irene menatap punggung Raka yang sudah terlebih dahulu turun dari mobil. ‘Ah sudahlah, ikuti saja apa yang akan terjadi’ pikirnya dengan harapan melambung
Tok tok….. Raka mengetuk kaca mobil Irene dan gadis itupun keluar dengan senyumnya
“Karena makan malam masih beberapa jam lagi, kita jalan jalan disini aja ya”
“Eeeng…. Hu’um nggak apa apa”
“Lo mau jajan dulu, apa kita cari tempat ngobrol??”
Irene mengulum bibirnya sedikit bingung akan menentukan pilihan, disekilingnya adalah tempat umum yang rame oleh pengunjung yang sedang menikmati suasana sore ibu kota. Ada yang berolah raga, ada yang sekedar bercengkrama dengan orang terkasih dan ada pula yang tengah duduk duduk konkow beramai ramai. ‘Ah ada yang salah dengan Raka, kenapa dia membawa gue kesini’ Irene bergumam dalam diamnya memandang Raka yang masih menunggu jawaban
“Ehmmm terserah lo deh Ka”
“Okay, kita jalan dulu aja ya, nanti kalau ada tempat ngobrol yang enak, kita ngobrol disana”
Irene mengangguk pelan dengan keragua raguannya, namun ia tetap memantapkan hatinya mengikuti langkah kaki Raka.
Wajah Raka sedikit kaku menutupi kecanggungan yang ada dibenaknya karena inilah kali pertama baginya berjalan dengan seorang gadis ditempat umum yang ramai dan terang secerah suasana sore ini. Beberapa langkah terlewati dengan aman, Raka mengatur nafasnya agar tidak terlihat grogi di depaan Irene, tapi satu gerakan Irene seakan menghentikan segala kepercayaan dirinya. Tangan Irene mengamit satu lengan Raka tanpa permisi, gadis itu dengan santainya bergelayut manja layaknya sepasang kekasih. Raka terhenyak, akan tetapi dia membiarkan itu dengan memasang senyum yang ia paksakan untuk menjawab wajah manis Irene yang terlihat bersemu merah…

Sementara itu ditempat yang lain satu jam sebelumnya
Zaldy memarkir motornya dalam garasi rumah yang tidak terkunci, tanpa permisi ia memasukkan kendaraannya disana. Suasana rumah tampak lengang, ia membuka pintu samping rumah itu dan lantas menerobos masuk langsung menuju dapur.
“Anybody home… tanteeeeee, Al datang nih!”
Setelah menenggak satu gelas orange juice yang ada di dalam kulkas, Zaldy berteriak memanggil pemilik rumah, dari arah samping dapur nampak seorang wanita setengah baya berlari menghampiri
“Ibu nggak ada Mas, lagi belanja”
Pembantu Tata yang sedang menikmati waktu istirahatnya menyapaikan informasi dan lalu menuju dapur untuk mengambilkan beberapa makanan untuk Al seperti biasa yang ia lakukan saat ada tamu di rumah sang majikan
“Nggak usah repot repot mbak, nanyi biar Al ambil sendiri…. Eeehm kalau Tata?”
Pembantu itu tidak menjawab tapi dia mengarahkan pandangannya ke ruang keluarga yang ada tidak jauh dari dapur. Terlihat Tata sedang berbaring malas diatas karpet dengan bantal menyangga kepala serta menganggkat kedua kaki dibersandarkan pada Sofa Bed yang ada disana. Al menggelengkan kepala, dia tahu telinga Tata pasti tertutup dengan earphone sehingga ia tidak mengoceh saat ia menyelonong masuk.
Membawa membawa beberapa buah anggur yang ada di atas meja makan, Zaldy menghampiri Tata dan membaringkan badannya tepat disisi gadis itu. Earphone yang menyumpal di telinga Tata, ia cabut paksa sehingga gadis itu membuka matanya
“Eh elo…. ngapain lo kesini?”
Tata bangun dari posisinya dan melepaskan penyumbat telinganya, dengan wajah sedikit kesal karena keasyikannya terganggu, ia mengambil satu butir anggur yang Zaldy bawa..
“Lo mau latihan???”
“Niat awalnya emang gitu”
Dengan cuek mengunyah apa yang ada di dalam mulutnya dan menggoyang goyangkan kakinya, Zaldy menjawab santai
“Terus, ngapain lo ke rumah gue?”
“Lagi nggak mood latihan”
“Nggak mood latihan tapi lo pake baju seperti ini. Aneh!”
“Apanya yang aneh? Biasa aja kali, Ta”
Tata merebahkan kembali badannya ditempat semula, berbagi bantal dan sama sama memandang langit langit ruangan. Zaldy mengambil satu ear yang Tata pasang ditelinganya dan memasangnya di telinga ikut mendengarkan music yang Tata mainkan.
“Lo kenapa sih, Al….. ditolak cewek?”
“gue???... ya enggaklah”
“Terus??”
“Disuruh cari cewek sama Mama”
“Hahhahahaaa ya sudah sana cari cewek, susah amat sih tinggal pilih tuh yang udah ngantri”
“Emang milih kaos?? Halaaah syaratnya bikin gue keder duluan”
“Syarat??... Tante Martha buat persyaratan buat calon mantunya? Hahahhahaaa… ah emak lo lucu juga”
“Ho’oh… ah udah ah bête gue. Makanya mood gue hancur, padahal latihan sore gini pasti bakal banyak cewek yang nonton”
‘seandainya lo tahu syarat yang mama ajukan untuk calon pacar gue, gue yakin lo nggak akan bisa ketawa Ta’ Zaldy menggerutu dalam hati sambil memperhatikan ekspresi geli Tata akan apa yang ia ceritakan
“Lo mau olah raga apa mau manggung sih sebenarnya”
“dua duanya lah. Kalau bisa menyelam sambil minum air, kenapa nggak… apalagi hari Rabu gini pasti akan penuh yang lihat”
‘Rabu’ mendengar satu kata itu Tata tertegun dan tiba tiba Tata kembali bangun dari posisinya dan kini ia benar benar berdiri, tangan mungilnya menarik lengan Zaldy memaksa cowok itu untuk bangun
“Buruan Al…. hayooo cepetan”
“Ngapain sih Ta, kemana??”
Tata mendorong Zaldy untuk keluar rumah, mengambil kunci motor yang Zaldy geletakkan diatas meja dan memaksa cowok itu mengikuti kemauannya
“Bentar, lo nggak ganti baju…. Masa iya lo pake celana super pendek gini”
“Halaaah jangan sok sok an deh… ini Jakarta Bro bukan Arab Saudi”
“Emangnya kita mau kemana??”
“Anterin lo latihanlah…..”
“Ogah…. Gue males Ta, nggak mood”
“Gue temenin…. Iiiih ayooooo udah sana latihan”
Tata terus memaksa dan akhirnya Zaldypun menyerah. Meskipun enggan tapi Zaldy akhirnya menuruti kemauan Tata, ia membawa motornya melaju ke tujuan awalnya meninggalkan rumah. Dalam perjalanan yang tidak begitu jauh, Tata lebih banyak terdiam. Zaldy membiarkan tanpa banyak bertanya, ia tahu gadis itu sangat moody. Tidak akan membutuhkan waktu yang lama bagi Tata untuk berubah kembali bersemangat dan Zaldy yakin suasana yang ada di tempat latihannya akan kembali membangkitkan semangat Tata.

Suasana sore memang moment yang tepat untuk berjalan jalan di taman kota. Terik matahari yang mulai teduh menyapa alam serta angin yang semilir membuat udara terasa lebih segar dari sebelumnya. Zaldy menurunkan Tata sebelum ia memarkirkan motor, Tata menunggu Zaldy tidak jauh dari area parkir yang Zaldy tuju.
Setelah memasuki taman dan menuju lapangan basket tiba tiba Tata menghentikan langkahnya dan membuat Zaldy ikut menghentikan langkah
“Ada apa Ta?”
“Hmm lo duluan lah… gue nggak mau terlalu nempel sama lo”
“Gaya lo pake jaga jarak sama gue. Gue nggak mau main kok, kali ini gue mau nonton aja…. Hayo cepet”
Zaldy merangkul pundak Tata tanpa canggung, tapi gadis itu menepis tangan Zaldy dengan muka cemberutnya.
“Okay… gue paham kok. Lo nggak mau dikira cewek gue kan? Lo nggak mau pasaran lo jatuh kan”
“Anjing lo… pasaran, emang gue apaan?”
“Jangan jauh jauh jaraknya, ntar lo ada yang nyulik, gue yang repot….”
Zaldy memotong jalur Tata yang mulai memasang kuda kuda untuk berdebat, ia tahu cewek itu akan melancarkan segala kata kata pembelaan dan alasan yang mampu dia ucapkan untuk membela diri. Ia melangkah mendahului Tata menuju lapangan yang sudah terlihat di depan mata. Jarak yang tidak lebih dari 500 meter itu membuat Tata sedikit memutar arah, bukan karena ia tidak ingin terlihat datang bersama dengan Zaldy dengan alasan yang Zaldy katakana sebelumnya akan tetapi dia tidak begitu yakin dengan apa yang ia lakukan kini
‘Jika gue kesana sekarang, maka tidak akan sulit buat kenalin muka gue. Gue harus memastikan kali ini akan membawa hasil. Tapi…… ini masih sore, apakah dia akan latihan sore ini? Si Al bilang Rabu akan ramai oleh penonton dan itu tidak menutup kemungkinan karena magnet hidup…. Mudah mudahan gue nggak mendapatkan hasil nihil’
Dalam langkah kakinya yang semakin pelan, Tata membuka galeri ponselnya untuk memastikan kembali wajah buruan yang ia kejar selama ini….. akan tetapi langkah pelan itu benar benar terhenti saat pandangan matanya menangkap satu sosok yang sangat ia kenal ada tidak jauh di hadapannya. Tata tertegun dan sedikit memicingkan mata sekedar meyakinkan penglihatannya tidak salah dan
“Awaaaaas”
Satu suara membuat dia menoleh cepat tanpa menyadari apa yang terjadi dan ‘Praaak’ semua gelap dalam pandangan Tata menyisakan satu potongan siluet yang terekam memori…..


Dont Miss It :
Part 7 : PLAY GIRL JATUH CINTA  : Penuh Tanya 2

Jumat, 19 Agustus 2016

PLAY GIRL JATUH CINTA : Penuh Tanya 2


PLAY GIRL JATUH CINTA

Part 7. Penuh Tanya 2

Kantor masih lengang, hanya ada beberapa karyawan yang terlihat. Raka melangkahkan kakinya cepat memasuki ruangan, sapaan sapaan hormat dari bawahannya ia tanggapi sekenanya. Masih sangat dini untuk memulai pekerjaan bahkan Yena belum ada di tempatnya. Raka membaringkan badannya di sofa yang ada di dalam ruang kerjanya, ia merasa ini adalah tujuan ternyaman yang bisa ia pikirkan untuk menenangkan diri. Satu lengannya ia gunakan menutup mata seakan ia ingin kembali larut dan masuk ke dalam alam mimpi. Semalaman tidak bisa memejamkan mata tanpa alasan yang jelas membuat Raka merasakan kantuk yang menggelayut di pelupuk matanya tidak bisa ditolerir lagi.
“Oh Tuhan”
Beberapa menit berlalu, suara langkah kaki memasuki ruang kerjanya, Yena tersentak saat melihat tubuh Raka yang tergeletak diatas sofa dengan wajah yang tertutup. Dari arah pintu tempatnya berdiri ia sedikit mengamati pakaian yang melekat di tubuh Raka, bukan pakaian yang Raka kenakan pada hari sebelumnya dan tidak tampak lusuh sedikitpun. Pakaian itu masih sangat licin dan kelihatan rapi bahkan rambut Raka pun kelihatan sangat rapi oleh wet gel yang ia pakai
‘Nggak mungkin Pak Raka tidur disini semalam, pakaiannya rapi, rambutnya klimis… tapi harusnya hari ini dia kan tidak ke kantor….. hmmm entahlah’
Yena mengangkat bahunya dan mengurungkan niatnya untuk memasuki ruangan kerja Raka karena takut akan membangunkan bosnya. Ia memutar badan hendak kembali dengan beberapa map yang ia bawa.
“Taruh saja di meja Yen, nanti saya periksa”
“E… eh iya Pak”
Ternyata Raka belum sepenuhnya tertidur dan masih bisa mengenali seseorang dari bau parfum yang tercuim oelh hidungnya. Yena tersentak oleh suara Raka dan sedikit tergagap
“Kalau ada tamu dan semacamnya, bilang saja saya nggak ada. Saya cuma sebentar disini”
“Baik Pak”
Yena memperhatikan posisi Raka yang tidak bergeming di atas sofa, ia memainkan alis dan bibirnya menyerah pada kebingungan yang diberikan oleh atasannya di pagi hari ini. Ia kembali memutar badan dan berjalan menuju meja kerja Raka
“Apa perlu saya suruh OG untuk membuat kopi, Pak?”
Tanya Yena kemudian saat ia selesai dengan map map yang ia bawa, ia teringat bahwa ia sudah menginstruksikan pada OG untuk tidak menyediakan minuman buat Raka karena ia berfikir bahwa Raka tidak akan datang ke kantor sesuai yang diinformasikan pada hari sebelumnya
“Nggak perlu, setelah memeriksa berkas saya akan keluar kantor”
“Baik Pak”
Yena meninggalkan ruangan dengan ujung mata yang tidak pernah lepas dari posisi Raka. Rasa heran memenuhi pikirannya ‘sejak kapan Pak Raka jadi plin plan begini, ada yang salah sama ini orang’ Yena membatin

Raka menghidupkan layar televisi, pikirnya dengan sedikit suara akan membuatnya lebih nyaman berada di ruangan itu. Meskipun niat awalnya ia mencari ketenangan, tetapi rupanya tujuan ini tidak membantunya untuk mengusir penat yang ia rasakan. Ia terduduk dan menepuk nepuk pipinya sendiri beberapa kali untuk mengembalikan kesadaran dan semangatnya. Ia melangkah menuju meja kerja dan memeriksa beberapa berkas yang sudah menumpuk disana. Rasanya tidak membutuhkan waktu lama bagi Raka untuk meneliti berkas berkas itu, ia meragu. Diletakkan kembali pena yang ia pegang, kini ia menyandarkan badannya pada kursi dan menhirup nafas dalam dalam dengan mata yang kembali terpejam
‘Prakasa Bayu Aji……. What wrong with you???? Huft…… focus Raka, focus’
“Aaaaah sialan…. Ada apa sih ini sebenarnya. Huuuuh…… nggak bener!”
Raka mencoba menelaah kembali apa yang terjadi pada dirinya, namun ia belum bisa menemukan dengan pasti alasan mendasar yang membuatnya kacau. Segera ia menyelesaikan pekerjaanya, ia tidak tahan dengan segala yang memenuhi pikirannya. Pilihannya untuk datang ke kantor tidak membantu apapun dan kembali ke rumah juga bukan pilihan tepat karena sang Mama akan terus membahas soal Voiletta yang ia rindukan. Pertanyaan nyonya Martha baik kepadanya maupun pada Zaldy beberapa hari ini soal absennya Tata selama sebulan ini dari rumah mereka akan terus berulang sepanjang hari dimanapun mereka terlibat obrolan.
Drrrrt drrtttt drttttt ponsel Raka yang ada di atas meja bergetar, nampak layar ponsel itu menyala. Raka menarik nafas, sekilas ia membaca nama yang tertera disana dan ia tidak berkeinginan terlibat dengan nama itu saat ini, keruwetan dalam pikirannya belum terurai dan dia tidak ingin menambahnya lagi dengan simpul baru yang tidak jelas ujung pangkalnya, tapi ponsel itu tidak segera diam dan terus bergetar tanpa mengenal lelah.
“Iya Gun … ada apa?”
Akhirnya Raka menyerah pada usaha si penelpon yang tidak kenal lelah walaupun ia sedikit merasa takut kalau Gunawan, sahabat masa SMAnya itu akan mulai menyerangnya dengan masalah yang sama, cewek.
“Sombong banget si Ka…. Susaaah banget ya untuk menghubungi lo”
“Ada apaan?, kepala gue lagi pusing Gun… lo jangan nambah beban deh”
“Lo belum berubah ya Ka, hidup lo masih serius aja… udah itu kerjaan tanggalkan dulu, kita ketemu temen temen yuk”
“Siapa aja, kapan?”
Raka sedikit bersemangat, ia percaya Gunawan mampu mengumpulkan temen teman super sibuk yang ia punya dengan sekali perintah. Karakter Gunawan sebagai seorang leader masih sangat melekat diusianya saat ini, setiap kata yang ia lontarkan maka semua teman akan menurut dan patuh padanya. Sebagai mantan ketua OSIS Gunawan masih sangat disegani dalam pergaulannya kini.
“Lo dimana, kantor?”
“Iya”
“Udah lo meluncur gih cepetan ke Junkyard Senopati”
“Wait Gun… lo kenapa nggak jemput gue aja. Gue nggak bawa mobil, lo nglewatin kantor gue kan?”
“Iiiiish nggak mau rugi banget si lo, Ka…. Memang mobil lo kemana, masuk bengkel”
“Nggak, gue lagi kurang enak badan jadi males nyetir, by the way lo ngumpulin siapa aja sih?”
“Halaah kebanyakan tanya. Okelah gue samperin lo kesana, tapi gue ogah turun ya, lo tungguin depan kantor lo”
“Gila aja lo, gue musti ngeceng ga jelas nungguin lo”
“Kalau nggak mau, ya sudah…. Lo cari taksi ajalah”
“Iya iya…. Dasar bawel”
Raka menutup map yang ada dihadapannya dengan segera, jarak kantor Gunawan dan kantornya tidak begitu jauh dan tidak akan membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai ke kantor Raka. Dengan segera Raka stand by di lobi kantornya menunggu jemputan. Sebenarnya masih sangat pagi untuk nongkrong di kafe dan pastinya kafe belum buka.
Tidak sampai lima belas menit menunggu, sebuah mobil jeep sporty terlihat di depan kantornya. Kaca mobil sedikit diturunkan dan klakson berbunyi membuat Raka beranjak dari tempatnya dan meninggalkan kantornya. Jalanan mulai macet, Raka memejamkan matanya mencari cara untuk menghindar dari pembicaraan yang melelahkan dengan Gunawan. Akan tetapi usahanya gagal
“Kayak anak gadis lo, merem di dalam mobil saat macet begini”
“Aish…”
Raka mengusap kepalanya yang menjadi sasaran jitakan Gunawan
“Ka… beneran lo nggak sehat ya?”
Reaksi Gunawan berubah saat Raka hanya diam dengan umpatan dibibirnya tanpa membalas dan memprotes
“Lo pikir gue cuma cari alasan doang?”
“Lha, kalau lo nggak sehat ngapai lo ngantor?…. Udah miskin lo sampai harus bekerja sekeras itu demi rupiah”
Raka kembali melirik Gunawan tanpa kata, mulut Gunawan yang selalu mengeluarkan kata kata semaunya itu bukan hal baru baginya
“Makanya gue bilang apa, lo segera cari cewek buat sandaran hati lo saat seperti ini biar nggak Jones terus…. Apa lo masih jadi satpam ya?”
“Maksud Lo???”
Kata ‘Satpam’ membuat Raka sedikit terganggu, ia tahu kemana arah pembicaraan Gunawan. Sepanjang persahabatan mereka Gunawan memang sangat menentang sikap Raka yang terkesan over protectif terhadap Tata
“Dia bukan adek Lo, bukan pacar lo dan yang paling penting dia nggak pernah minta lo untuk jagain dirinya kan? Dan lagi…… gue denger dia juga punya cowok kan??? Gue pernah lihat dia jalan ma cowok”
Gunawan menghentikan kalimatnya, ia menoleh pada Raka untuk memastikan reaksi cowok itu dengan informasi yang baru saja ia berikan sebagai pancingan. Sayang, reaksi datar Raka tidak memberikan jawaban apapun…. Raka masih tetap sama dengan segala reaksi datar yang tidak bisa diartikan oleh orang orang terdekatnya tentang bagaimana perasaannya terhadap Tata
“Dia udah gede Ka, udah jadi wanita muda…. Lo udah nggak perlu terlalu hawatir, dia bisa membela dirinya sendiri saat ia dibully. Lagian dia juga berprofesi sebagai model kan di kantor Bokapnya, wajahnya sering muncul di majalah dan iklan tv…. Bullyan tidak akan membuatnya nangis kejer seperti saat masih SMP dulu. Saatnya lo memikirkan kebahagiaan lo sendiri. Ada si Al kan yang masih setia jagain dia. Lo coba deh buat buka hati lo, kasihan tu Irene masih tetap setia nungguin lo, nungguin gunung es mencair saat musin dingin hahahhaaaa….”
Tawa Gunawan pecah saat ia mulai menyebut nama Irene, gadis dengan pembawaan tenang dan kalem yang selalu berusaha menarik perhatian Raka sejak mereka duduk di bangku SMA dan bahkan rela melepas bea siswa yang ia dapatkan hanya untuk bisa berkuliah dalam satu kampus dengan Raka. Raka terdiam, apa yang dikatakan oleh Gunawan memang tidak sepenuhnya salah da nada sisi hatinya yang membenarkan setiap kata kata itu.
Kemacetan Ibu Kota membuat waktu tempuh mereka sedikit lebih lama, saat mereka tiba di lokasi yang dituju nampak kafe sudah mulai buka dengan beberapa pengunjung yang sudah duduk manis di dalamnya. Satu spot favorit saat sahabat itu berkumpul sudah tertangkap mata. Boy, Adi, Tian ada disana melambaikan tangan mereka menyambut kedatangan Gunawan dan Raka. Tak pelak saat Gunawan tiba suara riuh mulai terdengar, obrolan dengan tawa yang terselip tidak ada putusnya
“Minum Ka… aman lo nggak bakal koid kok. Nggak ada sianidanya”
Adi menyodorkan secangkir kopi pada Raka yang disambut tawa oleh lainnya
“Ini mana katanya kali ini bakal ada ceweknya Gun?”
Tian dengan melihat jam yang ada dipergelangan tangannya memprotes Gunawan yang menjanjikan adanya anggota dengan gender yang  berbeda
“Ini belum jam makan siang Ian, lagian Ragi juga belum datang kan. Tenang saja nanti juga akan datang”
Ya, anggota mereka masih belum lengkap dengan absennya Ragi dari pertemuan itu. Ragi yang seorang pegacara ternyata masih memiliki agenda untuk bertemu dengan kliennya dan menjanjikan akan datang di jam makan siang.
“Sory guys… gue nggak bisa terlalu lama disini, gue lagi nggak enak badan”
“Ya nggak asik lo Ka, tunggulah sebentar sampai Ragi datang. Atau paling nggak sampai cewek cewek itu muncul”
Gunawan mencoba menahan Raka untuk meninggalkan kafe, ia menyadari Raka mulai menangkap sesuatu dari pertemuan yang ia rencanakan itu
“Gue udah paham Gun, gue bilang jangan…. Gue nggak mau mengecewakan orang”
“Ayolah Ka, lagian sudah sebulan ini dia di Indonesia dan sebentar lagi akan balik lagi ke luar negeri. Apa lo nggak penasaran sama penampilannya sekarang”
Kali ini Boy yang mengambil alih untuk membujuk Raka, rupanya dari sekian orang yang berkumpul hanya Raka yang tidak mengetahui rencana Gunawan
“Hmmm kalian bersekongkol ya…”
“Bersengkongkol untuk apa ini?”
Satu suara membuat Raka terdiam, posisinya yang membelakangi arah pintu masuk membuatnya tidak akan melihat siapa yang datang dan pergi dari kafe itu. Bukan suara yang asing terdengar oleh telinganya, Raka memutar badannya perlahan.
“Hai semuanya, maafnya sediki telat”
Irene mengambil duduk di antara Boy dan Gunawan yang berhadapan dengan Raka. Gadis itu masih tetap sama anggun dan elegan. Suaranya terdengar pelan dengan senyum yang terus mengembang sepanjang waktu.
“Hai Raka, apa kabar?”
Kini suasana canggung sedikit membuat Raka kikuk, teman temannya yang hanya saling lirik dan terdiam semakin membuatnya merasa tidak enak hati untuk menolak uluran tangan Irene yang hendak menjabat tangannya
“Baik… lo juga apa kabar?”
“Ya seperti inilah, masih sama dengan yang dulu”
“Lo udah lama di Indonesia kenapa baru mau kumpul kita sekarang sih Ren?”
Tyan mencoba mencairkan suasana dengan ikut dalam perbincangan keduanya
“Gue hanya menunggu umpan Ian, kalau gue yang ngundang takutnya nggak akan ada yang mau datang”
“Yaaaa pasti dengan senang hati, ya nggak Ka….”
Raka hanya mengangguk sedikit ragu
“hahahahaaaa kalian masih sama ya, kompak dan rame… tapi Ragi mana kok nggak kelihatan”
“Dia masih ngelap palu hakim biar licin hahahhahaaa”
Gunawan berkelakar dan membuat suasana kembali mencair. Tidak lama dari kedatangan Irene, Dyah dan Carmen datang dengan dibuntuti oleh Ragi, lengkaplah formasi mereka. Bercengkrama dan sedikit berbagi canda tawa membuat Raka lebih santai dan melupakan kepenatan yang memenuhi kepalanya, tapi itu tidak membuatnya merasa nyaman untuk berlama lama disana dengan Irene yang beberapa kali mencuri pandang kepadanya. Meskipun mendapatkan protes dari sebagian besar sahabat sahabatnya, Raka tetap menjadi orang pertama yang meninggalkan kafe. Alasan kesehatan mebuatnya lolos, hidangan makan siang yang kebarat baratan membuat dia menemukan alasan untuk segera bergegas pergi.
­­­---


Tata sedikit mengomel pada satpam yang menjaga rumahnya, terlambat membuka pagar membuatnya beberapa kali membunyikan klakson mobil. Ia membanting pintu mobil sedikit keras untuk meluapkan kekesalan hatinya. Walaupun satpam itu hanya menjadi kambing hitam atas sedikit perang dingin yang terjadi diantara dia dan Hendra.
“Mom………… I’m homeeee”
Tata memasuki rumah dengan teriakan khasnya untuk memech suasana sepi abadi yang ada di dalam rumah itu. Tidak ada sahutan dari sang Mama membuatnya kembali mengulang teriakannya
“Mommy…. I’am here…. Where are you???”
Dia melemparkan tas ransel yang ia bawa ke arah sofa bed yang ada di ruang keluarga. Dia tahu saat sang Mama tidak ikut serta dengan Papanya ke luar kota maka tempat favoritnya adalah dapur dan pendopo samping rumah untuk bergosip dengan pembantu. Tata menuju arah dapur, jam makan siang sudah hampir tiba dan ia yakin sang mama sedang berjibaku disana, tapi dugaannya salah karena ia hanya menjumpai pembantunya disana.
“Mama mana Mbak?”
Tanya Tata saat menenggak air dingin dari dalam kulkas pada pembantu yang sibuk menyiapkan menu makan siang keluarga Darmawan
“Sepertinya di Pendopo, Non sama Ibu Martha”
“Tante Martha?”
Tata sekali lagi menegaskan bahwa sang pembantu tidak salah menyebutkan nama. Ia tidak melihat ada mobil atapun motor tamu terparkir di halaman rumahnya
“Sama siapa tante Martha kesini?”
“Nggak tahu Non, tadi saat saya datang dari pasar Ibu Martha sudah ada”
“Selain tante Martha, nggak ada tamu lain kan? Al atau Mas Raka barangkali”
Pembantu itu menggelengkan kepalanya memberikan jawaban. Tata memutar matanya, ia berfikir kalau dirinya terlalu parno dengan dugaan dugaan yang ada di kepalanya kini
‘Kalau jam segini mustahil Mas Raka ada dirumah, Si Al tadi juga minta di drop di tempat fitness. Lalu Tante Martha sama siapa… jalan??? Nggak mungkin’
Tata terus menebak nebak sambil berjalan membawa gelas minumannya ke arah pendopo. Belum lagi sampai di area pendopo, Nyonya Martha yang melihat kedatangan Tata langsung berteriak memanggil nama gadis itu dengan semangat. Rupanya wanita paruh baya yang menjadi ibu kedua bagi Tata itu memendam rasa kangen luar biasa selama Tata absen dari rumahnya kurang lebih sebulan ini
“My Beauty Girl…… miss you, my daughter”
Nyonya Martha segera memeluk tubuh Tata saat gadis itu sampai dihadapannya, tak pelak setiap sisi dari wajah Tata tak luput dari cubitan dan ciuman nyonya Martha. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan bak peluru lepas kendali oleh nyonya Martha pada Tata dan Tata menjadikan pekerjaan yang ia ambil disela jadwal kuliah sebagai satu satunya alasan yang logis untuk menjawab semua pertanyaan wanita berwajah teduh itu sehingga ada sedikit protes yang terlontar darinya
“Jas…. Bagaimana kalau anakmu ini tinggal sama aku saja? Dia tidak perlu bekerja seperti ini. Ayolah Ta, apa uang jajan dari Papamu masih kurang, nggak kan…. Nikmati masa mudamu sayang dan satu lagi jangan pernah lupakan tante… mama keduamu”
“Mbak, Tata bukan mencari rupiah… aku juga bingung kenapa akhir akhir ini dia mengambil banyak sekali tawaran yang masuk padanya sampai Papanya sedikit marah, tapi aku yang dapat lotterenya…..”
Dengan semyum mengembang Nyonya Jasmine menunjukkan liontin cantik bermata batu safir biru muda dengan bingkai menyerupai matahari yang menggantung di lehernya. Nyonya Martha berdecak sedikit kesal memangdang Tata yang masih terbengong oleh ulah dua wanita paruh baya yang ada dihadapannya. Dua wanita istimewa baginya itu selalu meributkan hal hal kecil yang baginya sungguh tidak penting
“Tapi kemarin Tata punya dua mbak.. katanya buat mbak Martha juga”
“Mamaaaa…..”
Kali ini suara Tata membuat kedua wanita itu terdiam dengan ekspresi yang sama sekali berbeda. Nyonya Jasmine yang merasa telah membongkar satu kejutan yang Tata persiapkan untuk nyonya Martha mengatupkan bibirnya rapat sementara nyonya Martha tersenyum lebar menatap Tata dengan pandangan bertanya
“Aish…. Susah kalau sama emak emak, nggak ada yang bisa dipercaya”
“Mana yang buat Tante Ta, hayolah….”
Tata yang sedikit kesal melangkah meninggalkan dua wanita itu, akan tetapi nyonya Martha berhasil membujuknya sekaligus berhasil membuat Tata mengeluarkan kado kejutannya untuk mama keduanya itu.
Lepas dari urusan hadiah yang Tata beli dari hasil keringatnya, kegaduhan belum usai. Kini rengekan nyonya Martha beralih pada absennya Tata dari kediamannya. Berbagai cara wanita itu lakukan untuk meminta Tata menyempatkan waktu menghabiskan waktu di kediamannya
“Sekarang ya Ta? Anterin tante pulang dan bantuin tante masak untuk makan malam”
“Tapi Tata baru pulang, Tan….. makan malam juga masih lama. Tata ada acara nanti sore, nggak bisa lama lama”
“Oke deh, anterin aja kalau gitu… ya sayang. Masa iya kamu tega menyuruh tante naik ojek atau dianterin pak satpam. Om dan Mas Raka masih di kantor, Al katamu masih fitness. Nggak ada yang bisa jemput Tante….”
Tata yang tidak pernah tega menolak permintaan seseorang dengan wajah memelas di hadapannya pun menyerah tanpa usaha mengelak lagi. Beberapa kali berfikir dengan pertimbangan waktu membuatnya memutuskan untuk mengabulkan permintaan nyonya Martha. Setelah mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan pant pendek, Tata memantapkan hati untuk bertandang ke rumah putih keluarga Arifin.

Sesuai dengan dugaan Tata, suasana rumah sangat sepi. Nyonya Martha yang menolak keras keberadaan seorang pembantu di rumahnya membuat rumah itu selalu tak berpenghuni saat ditinggalkan. Hanya ada satpam yang dipekerjakan untuk menjaga keamanan. Sebelum memasuki rumah, Tata sempat menghentikan langkahnya di depan garasi. Mobil Raka terparkir disana tapi nyonya Martha yang menangkap keheranan Tata segera menjelaskan jika Raka beberapa hari ini lebih memilih menggunakan taksi ataupun meminta Al untuk mengantarkannya ke kantor dengan alasan kesehatan yang kurang prima
“Mas Raka sakit?”
“Iya, dia mengeluh katanya badannya kurang enak beberapa hari ini, tapi masih ngantor tiap hari dan nggak mau periksa ke dokter. Kamu kan tahu kalau masmu itu sedikit keras kepala dan susah untuk disuruh minum obat”
Tata memonyongkan bibirnya dengan anggukan kepalanya mengikuti langkah nyonya Martha yang terhenti di dapur. Seperti biasanya saat memasuki rumah itu, tujuan pertama Tata adalah isi kulkas. Walaupun hanya orange juice ataupun air putih yang ia temukan, tapi kebiasaan itu tidak pernah hilang sejak ia kecil.
“Oh Tante baru dari TPI?”
Nyonya Martha yang sedang menyiapkan menu yang akan ia masak menggelengkan kepalannya. Tata heran, kulkas dipenuhi oleh ikan dan kawan kawannya dan tidak menyisakan ruang buat isi yang lainnya untuk terlihat
“Om Arifin kemarin dari daerah pesisir dan pulang dibawain itu sama orang orang disana”
“Ngapain Om kesana, Tan?”
“Tante kurang paham, sayang. Katanya mau kerjasama dengan nelayan disana apa bagaimana tante juga tidak begitu mengerti. Sini Ta, ambilkan bandengnya… ini kesukaan Mas Raka”
“Oooh Om cari supplier buat resto yang akan dibuka itu”
Dengan mengangkat satu tas kresek berisi beberapa bandeng, Tata melangkah mendekat pada nyonya Martha dan mengambil duduk di depan mini bar dapur.
“Sepertinya begitu…. Ah sudahlah Tante tidak paham urusan bisnis. Sini bantuin tante buat goreng ya”
Tata mengangguk dan berdiri dari duduknya mendekati kompor. Dengan sedikit instruksi yang diberikan nyonya Martha, Tata memasang opran yang tergantung disisi kulkas dan siap berjibaku dengan asap dapur dengan tugas mengeksekusi beberapa ekor bandeng dan lele yang sudah dibumbuhi sementara nyonya Martha beralih ke sayur mayur yang sudah mengantri untuk dijamah. Suasana berubah, acara masak yang biasanya hanya menawarkan bunyian khas minyak yang membakar apa saja yang dimasukkan kedalamnya kini menjadi sangat gaduh dengan sedikit tawa dari wanita paruh baya itu. Nyawa rumah itu seakan telah kembali, kegaduhan dan kebisingan oleh suara Tata kembali mengacaukan ketengangan yang ia tinggalkan
“Tanteeee…. Aaaaah kok gini sih?”
Nyonya Martha hanya tertawa kecil menyaksikan perilaku Tata yang memegang tutup panci sebagai pelindung dan sutil di tangan lainnya berjinjit jinjit mendekat dan menjauh dari wajan yang ada di atas kompor
“Iiiiih masih gerak…. Taaaaan, kok gini?”
“kenapa sih Ta, biarin aja. Memang gitu kok, nanti juga akan diem sendiri kalau udah kering. Kamu bolak balik aja biar rata matengnya”
“Gimana baliknya minyaknya meletup letup gini…. Auw…. Tante, lelenya masih idup tuuh”
“Itu tutup buat nutupin wajannya biar nggak meletup keluar, apinya kecilin dikit biar nggak gosong”
“Aaaaah nggak mauuuuu…. Nakal nih lelenya”
“Aduuuuh ribut banget sih, ada apaan sih ini. Mau masak apa mau demo sih Ma?”
Raka yang sudah mengenakan kaos oblong dan rambut sedikit acak acakan muncul mengambil minum. Rupanya ia terjaga dari tidurnya karena kegaduhan yang Tata lakukan
“Lho sudah di rumah, sayang”
“Iya Ma, tadi Raka cuma sejam di kantor terus ketemu Gunawan dan temen temen sebentar”
Tata yang terperangah dengan keberadaan Raka di rumah itu hanya bisa diam, segala kegaduhan dan teriakan yang semula selalu keluar dari bibirnya saat letupan kecil dari minyak di penggorengan kini ia telan kembali. Sutil yang ada di tangannya masih ia pegang dengan erat namun wajahnya kini kembali datar tidak berekspresi datar dan dingin. Nyonya Martha menoleh, dia merasa heran karena suara Tata tiba tiba hilang dari pendengarannya bahkan suara nafasnyapun seakan tidak bisa ia dengarkan
“Ta…. Awas gosong loh ya… dibalik itu lelenya”
Nyonya Martha yang melihat Tata hanya terdiam ditempatnya berdiri mengingatkan tugas yang ia berikan pada gadis itu. Tata hanya mengangguk tanpa suara
“Auw….. iiish susah amat sih, jangan jahat yaaaa. Nurut sama cheff, okay”
Tata bergumam sendiri menenangkan diri saat mencoba melaksanakan tugasnya, beberapa kali peletikan minyak mengenai kulit putihnya sehingga ia meringis menahan panas yang tertinggal
“Sini… keburu gosong kalau caranya seperti itu”
Raka mengambil sutil yang Tata pegang dan dengan satu kali gerakan telah sukses membalik ikan yang ada di dalam wajan, Tata manyun menahan diri
“Sana bantuin deh Ka, Mama mau cari tomat mentah dulu sebentar di belakang ya”
“Biar Ta….”
“Kalau goreng ikan itu jangan diaduk terus biar nggak ancur, diamkan saja biar nggak lengket baru di balik biar nggak gosong”
Tata tidak menyelesaikan kalimatnya karena Raka yang tiba tiba memotong dan menyodorkan kembali sutil padanya, tapi Tata menolak dan justru melepaskan opran yang ia kenakan. Tanpa banyak kata Tata menggantungkan kembali opran itu ditempatnya dan hendak meninggalkan dapur, tapi Raka menghentikannya dan menyeret gadis itu ke depan pancuran air
“Ini harus dibersihkan dulu sebelum melepuh”
“Nggak usah, biarin aja”
Tata mencoba menarik tangan yang Raka pegang dibawah pancuran air. Tangan Tata yang berkulit putih nampak kemerah merahan di beberapa titik karena terkena cipratan minyak. Raka menatap gadis itu untuk tetap diam, kali ini tatapannya sedikit dingin menandingi tatapan mata Tata yang selalu ia tunjukkan pada Raka. Raka terus memegang tangan Tata. Setelah membersihkannya dengan air, Raka memaksanya ikut serta kembali mendekati kompor untuk mengangkat ikan yang di goreng dan setelah itu menyeret gadis itu ke depan meja makan setelah mengambil kotak obat yang siaga di atas kulkas
“Duduk…”
Raka memaksa Tata untuk menuruti perintahnya dengan tangan Tata yang terus ia pegang karena ia tahu gadis itu akan melarikan diri saat dia melepaskan genggamannya
“gue bilang nggak usah… lepasin deh!”
Suara Tata yang datar meminta Raka melepaskan genggamannya, tapi itu sama sekali tidak di dengarkan oleh Raka. Cowok itu acuh dengan segala kata yang Tata ucapkan dan sesekali mengencangkan pegangannya pada tangan Tata saat gadis itu berusaha untuk melepaskan diri.
“Gue tahu lo marah, walau gue nggak tahu pasti apa sebabnya. Yang jelas amarah itu hanya lo tujukan sama gue, kenapa?”
Raka yang mengoleskan cream anti bakar pada tangan Tata mulai memanfaatkan situasi itu untuk memecahkan segala pertanyaan yang memenuhi otaknya, Tata hanya diam. Kali ini wajah Tata semakin dingin dan memalingkan muka dari orang yang kini merawat kulitnya agar tidak melepuh
“Terserah Ta, Lo mau marah seperti apa sama gue, tapi yang pasti apapun penyebabnya gue jamin itu hanya sesalahpahaman yang timbul dari pemikiran kekakanakan yang lo miliki”
“Nggak usah menggurui”
“hmm… selesai! Sekarang terserah lo mau kemana, tapi pastikan untuk pamit dulu ke Mama. Lain kali kalau kena minyak panas obati dulu biar nggak melepuh dan meninggalkan bekas. Kulit lo itu asset buat kerjaan lo”
Tata tidak berkomentar, ia berdiri dari tempatnya dan melangkah menjauh dari Raka. Dalam hati ia terus mengutuk dirinya yang terus bersikap lemah dan mudah menyerah sehingga ia harus kembali terjebak dalam situasi yang sama sekali tidak dia inginkan. Dalam langkah kaki yang sedikit tergesa gesa Tata menghentikan langkahnya, nyonya Martha dengan beberapa tomat hijau dan cabe rawit yang ia ambil dari kebun organiknya berdiri dihadapan dengan wajah penuh keheranan
“Mau kemana, Ta...... Raka ada apa ini, ada apa dengan Tata?”
Nyonya Martha sedikit menghakimi Raka sebagai penyebab Tata yang hendak pergi meninggalkan rumah, tapi tiba tiba Tata tersenyum dan mencium pipi wanita berwajah teduh itu
“Tata tadi kan udah bilang kalau Tata ada acara sore ini Tan.... Tata pergi dulu ya... bye bye Mama cantikku”
Dengan nada suara ceria Tata mematahkan kecurigaan nyonya Martha dan pasrah dengan ciuman yang mendarat di pipi kanan dan kirinya sebagai tanda pamit dari Tata.
“Ikannya?”
Teriak nyonya Martha saat teriangat dengan ikan lele dan bandeng yang ia pasrahkan pada Tata untuk di goreng
“Lain kali ya, Tan.... Tata buru buru.... Byeeee”
Tata bergegas menyelamatkan diri dan perasaannya melangkah dengan setengah berlari keluar rumah
‘Maaf Tante, Tata belum bisa menata hati untuk sekedar melupakan apa yang Mas Raka katakan pada Tata. Tata salah menilai dirinya yang selalu Tata anggap sebagai sosok sempurna sebagai panutan Tata selama ini. Dia bahkan tidak bisa menyadari kesalahan yang ia lakukan. Maaf Tan jika Tata harus mengecewakan Tante lagi kali ini. Sampai Tata siap tolong ijinkan Tata menghindar dulu’
Tata membatin dalam langkahnya menuju pintu keluar.
Diteras rumah langkah kaki Tata terhenti, tangan yang merogoh saku pant yang ia kenakan mencari kunci mobilpun terhenti.. pandangannya menyelidik. Sebuah mobil Jass berwarna merah menyala berhenti tepat di belakang ia memarkirkan mobilnya. Samar samar ia melihat seseorang yang ia kenal ada disana
‘Al??.... siapa yang ia bawa pulang. Tumben.....’
“Al.... Lo....”
Tata menggantungkan kata katanya, wanita yang keluar dari sisi kemudi mobil sangat ia kenali. Ia tahu siapa wanita cantik berambut panjang dengan senyum mengembang itu, tapi keberadaan Al bersama wanita muda itu membuatnya sedikit heran karena sebelumnya Al tidak pernah dekat dengan wanita itu dan dia bukanlah seorang wanita yang akan menghabiskan waktu di tempat fitnes tempat Al tadi ia turunkan
“Mau kemana Lo.... udah lama dirumah?”
“hmmm... ada urusan, lo dari mana?”
“Amnesia Lo, dari tempat fitnes lah....”
Al yang berjalan mendahului tamunya menyapa Tata dan sedikit mendaratkan jitakan di kepala gadis itu
“Tata.... kamu Tata kan?”
“Huum.... Mbak Irene kan?”
“Kamu masih mengingat aku rupanya.... hmmm masih akrab dengan keluarga Raka?”
Wanita itu mengembangkan senyumnya karena Tata masih bisa mengenali dirinya setelah sekian tahun lamanya tidak bertemu. Tata yang dulu ia kenal sebagai gadis cantik dengan dua orang bodyguard yang membuat semua orang iri termasuk dirinya kini ada di hadapannya dengan pandangan penuh keheranan
“Raka ada di rumah kan? Tadi dia bilang kurang sehat sehingga harus pulang lebih dulu dan kebetulan saat mengantar Carmen ke tempat Fitnes ketemu dengan Al. Kamu masih inget Carmen kan, Ta?”
“Oh iya.... Mas Raka ada kok... masuk aja mbak, Tata mau pulang dulu”

Tata berusaha menyudahi perbincangan yang menurutnya hanyalah kepura puraan tak bermutu, ia tahu Irene tidak pernah sepenuhnya bersimpati pada dirinya sejak mereka kenal. Dan kali ini setelah sekian lama tidak bertemu, rupanya gadis itu masih berada di sekitar Raka tanpa ia ketahui sebelumnya. Sepanjang jalan yang tidak begitu jauh itu Tata membolak balikkan pikirannya tentang Irene dan Raka, sejauh ini ia tahu siapa saja gadis yang ada disekeliling Raka dan bagaimana dinginnya Raka terhadap mereka, tapi Irene adalah cerita yang berbeda dan itu sedikit mengganngu pikirannya yang masih samar samar tentang Raka


Don't Miss It :
Part 6 : PLAY GIRL JATUH CINTA : Penuh Tanya